• Home
  • 23 Februari 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 23 Februari 2009

    Arwah Ratu dalam Politik

    SEBUAH hajatan besar dilakukan di kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, Sabtu malam 24 Januari lalu. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hangabehi memindahkan makam ibundanya almarhumah Kanjeng Raden Ayu Pradapaningrum (wafat pada 1979). Makam sang Gusti Ratu yang berada di trap paling bawah akan dipindahkan ke atas, bersisihan dengan makam raja.

    Selepas magrib, aneka sesajen telah lengkap. Dari ayam cemani, air kwaci, sampai selendang sawung kuning-perlambang keselamatan di akhirat. Dan yang terpenting: busana Prameswari Anumerta warna ungu. Ritual tuguran (menunggui jenazah sebelum dimakamkan) dilakukan semalam suntuk. Keesokannya barulah pemindahan makam dilakukan. Busana Prameswari Anumerta dimasukkan ke peti mati.

    Acara khusyuk ini tapi diprotes oleh KGPH Tedjowulan. Seperti diketahui, Tedjowulan adalah pesaing utama Haryo Ngabehi dalam perebutan takhta Keraton Solo. Dua saudara seayah tapi beda ibu ini masing-masing mengklaim diri sebagai Paku Buwono XIII, semenjak PB XII mangkat pada 2004. "Kalau makam tidak dikembalikan, kami akan melakukan tindakan," kata Tedjowulan, seperti dikatakan KGPH Soeryo Wicaksono, putra PB XII dari selir KRAy Pu-janingrum, yang merupakan pendukung Tedjowulan.

    Tedjowulan curiga, Hangabehi ingin mengukuhkan statusnya dengan menobatkan sisa jenazah ibunya. "Makam kok dibawa-bawa ke wilayah politik," kata dia. Menurut KGPH Suryo, bila makam tidak dibongkar dikembalikan ke tempat semula, mereka menuntut makam ibu-ibu mereka, yang juga selir, dinaikkan semua. Sekadar pengetahuan, PB XII dahulu memiliki enam istri-semuanya garwo ampil (selir)-dan 34 anak. Ibu Hangabehi hanyalah salah satu dari selir itu.

    RAy Koes Moertiyah, Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta, yang juga adik kandung Hangabehi, menolak tudingan anak-anak selir lain itu. "Itu sudah menjadi satu paket dengan penobatan Hangabehi  sebagai raja," katanya. "Ibu raja berhak menyandang gelar Ratu Ageng (gelar permaisuri)." Ia menolak bila keturunan selir lain ikut-ikutan memindahkan makam.

    Juru kunci makam Imogiri KPH Soerjonagoro khawatir pemindahan itu bakal berbuntut panjang. Menurut dia, seperti ditirukan Sutarno, asistennya, pemindahan makam itu sebenarnya dianggap sudah terlambat. Aturannya, sebelum Hangabehi dinobatkan jadi raja, mestinya sang ibu diangkat dulu menjadi Kanjeng Ratu. "Ya sudah, mau gimana lagi, ikuti saja," kata Sutarno, mengutip Soerjonagoro.

    Walhasil, arwah selir yang seharusnya telah tenang di alam barzah kini dilibatkan dalam duel raja kembar itu.

    Pelarian Membawa Sial

    POLISI sebenarnya hanya hendak mencatat identitas Antonius, 30 tahun, untuk selanjutnya dilepas. Warga Klender, Jakarta Timur, yang mengenakan celana biru seragam satpam ini sedang berada di terminal, dekat gedung wayang orang Pasar Senen, ketika dicokok.

    "Antonius ini preman atau bukan, ya?" begitu kira-kira yang terpikir oleh aparat Kepolisian Sektor Senen, Jakarta Pusat, ketika melakukan razia preman. Ketika ditemukan, Antonius menenteng kantong plastik berisi minuman keras, dari mulutnya menghambur bau alkohol.

    Belum lagi kecurigaan itu terjawab, tiba-tiba Antonius kabur menerobos jendela musala di samping ruang sentra pelayanan kepolisian. Pyarrr..., kaca jendela musala sekitar satu meter persegi itu pecah berantakan. Dengan hidung mengucurkan darah, ia tetap lari, tapi belasan polisi yang sedang duduk-duduk di sana mudah meringkusnya lagi.

    Antonius, nasibnya lagi apes. Ia sekarang malah dituduh melakukan perusakan aset negara secara sengaja. "Ia bisa kena pasal 406 KUHP, maksimal lima tahun penjara," kata Kepala Kepolisian Sektor Senen, Komisaris Polisi Aro Lumban Tobing, pekan lalu.

    Antonius tetap mengaku sebagai satpam sebuah perusahaan swasta. Padahal, sewaktu didekati petugas, menurut Aro, "Lagi mabok dia itu."

    Agus Supriyanto (Jakarta), Ahmad Rafiq (Solo), Bernada Rurit, Muh. Syaifullah (Yogyakarta), Sofian


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Lakon Anak Senen

Seni Rupa

Benda-benda Menerbangkan Imajinasi

Di Balik Ritsleting Mella

Indonesiana

Arwah Ratu dalam Politik

Album

PENGUKUHAN
Umar Santoso

Catatan Pinggir

Cebolang

TEMPO|interaktif

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

Ribuan Ikan Kembali Mati Mengambang di Kali Surabaya

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif