• Home
  • 02 Maret 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 Maret 2009

    Berburu Rabies

    DI Bali mereka hidup di antara masyarakat Bali. Mereka anjing peliharaan yang menjaga rumah, juga bagian dari simbol upacara persembahan. Atau yang berlarian di jalan-jalan. Liar, mungil tapi anggun yang berbulu putih tebal, dengan surai pada ekornya, dan biasa menembus kabut pegunungan Kintamani.

    Diperkirakan 600 ribu ekor anjing hidup di Pulau Dewata, dan segalanya berlangsung wajar, sampai November 2008. Rabies mengoyak pulau dan sekonyong-konyong anjing liar menjadi sosok menakutkan. Hingga Februari 2008, sudah terdapat enam korban meninggal. Kebutuhan permintaan vaksin antirabies meningkat mencapai hampir 500 orang.

    Pemerintah daerah lalu meluncurkan program vaksinasi massal. Tapi vaksin antirabies tidak sebanding dengan populasi anjing yang besar. Kondisi geografis Bali yang hampir tidak mempunyai batas alam antarkabupaten itu mempermudah penyebaran rabies.

    Sejumlah dokter hewan yang tergabung dalam Yayasan Yudisthira Swarga (Bali Street Dog Foundation) berinisiatif membentuk tim yang terjun di daerah yang padat populasi anjingnya. Di sana mereka mensterilisasi anjing liar. Selain itu, anjing yang sakit dirawat dan diobati. Program sterilisasi ini telah sedikit banyak mencegah berlipatnya populasi anjing di Bali.

    Foto dan Teks: Ronny Zakaria


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Kejutan Si Angsa Hitam

Fotografi

Berburu Rabies

Seni Rupa

Menghapus Wajah, Menggali Ingatan

Komik ala Pius

Album

PENGUKUHAN
Sunarru Samsi Hariadi

Catatan Pinggir

Mono

TEMPO|interaktif

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

Ribuan Ikan Kembali Mati Mengambang di Kali Surabaya

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif