DI Bali mereka hidup di antara masyarakat Bali. Mereka anjing peliharaan yang menjaga rumah, juga bagian dari simbol upacara persembahan. Atau yang berlarian di jalan-jalan. Liar, mungil tapi anggun yang berbulu putih tebal, dengan surai pada ekornya, dan biasa menembus kabut pegunungan Kintamani.
Diperkirakan 600 ribu ekor anjing hidup di Pulau Dewata, dan segalanya berlangsung wajar, sampai November 2008. Rabies mengoyak pulau dan sekonyong-konyong anjing liar menjadi sosok menakutkan. Hingga Februari 2008, sudah terdapat enam korban meninggal. Kebutuhan permintaan vaksin antirabies meningkat mencapai hampir 500 orang.
Pemerintah daerah lalu meluncurkan program vaksinasi massal. Tapi vaksin antirabies tidak sebanding dengan populasi anjing yang besar. Kondisi geografis Bali yang hampir tidak mempunyai batas alam antarkabupaten itu mempermudah penyebaran rabies.
Sejumlah dokter hewan yang tergabung dalam Yayasan Yudisthira Swarga (Bali Street Dog Foundation) berinisiatif membentuk tim yang terjun di daerah yang padat populasi anjingnya. Di sana mereka mensterilisasi anjing liar. Selain itu, anjing yang sakit dirawat dan diobati. Program sterilisasi ini telah sedikit banyak mencegah berlipatnya populasi anjing di Bali.
Foto dan Teks: Ronny Zakaria
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
