• Home
  • 02 Maret 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 Maret 2009

    Komik ala Pius

    LELAKI berambut kelimis itu menggenggam wayang Rahwana. Sementara seorang perempuan bergelung, bermata sayu, menempel di belakangnya, seolah ingin mencuri dengar apa yang diucapkan sang pemuda. Pemuda itu berkata:

    Biarkan ketakutan ini yang menggembalakannya. Dan ketidakpastian ini yang membimbingnya. Nyanyikanlah untuk satu lagu: Kematian!

    Lukisan itu adalah bagian dari panel lukisan bertajuk Tuan, Gapit itu Telah Patah karya Pius Sigit Kuncoro. Perupa asal Yogyakarta itu tengah menggelar pameran di Sigi Arts Gallery, Jakarta, hingga 3 Maret mendatang. Tema pameran pria kelahiran Jember, Jawa Timur, 35 tahun lalu itu adalah Mission Sacre atau Misi Suci.

    Tapi apa yang disajikan dalam pameran bukan hal imannya. Dalam seri lukisan Tuan, Gapit itu Telah Patah, Sigit justru mengeksplorasi dunia wayang. Ia menyajikan seri panel tentang seorang pemuda dan perempuan yang melakonkan perang tanding antara Rahwana dan Rama. Gapit dalam dunia pewayangan merupakan pencapit setiap wayang, sehingga ia dapat berdiri tegak. Bila salah satunya hilang, wayang akan masuk kotak. "Istilahnya diembu atau masuk kotak dan mengalami masa kegelapan," ujar alumnus Institut Seni Yogyakarta ini.

    Ketika pemuda itu mengangkat wayang Rama, perempuan berkebaya itu seolah berkata kepada Rama, tentang kelemahan Rahwana: Tuan..., Gapit itu telah patah. Dan terlepas dari ikatannya. Kesaktiannya telah hilang hingga tidak seorang pun yang akan mungkin menggunakannya. Ohhhh....

    Yang menarik adalah bagaimana cara Pius secara visual menghadirkan adegan komik itu. Gambarnya mirip gambar-gambar komik tahun 1970-an. Warna sepia macam koleksi foto zaman dulu. Terus dia menciptakan gelembung-gelembung percakapan dengan kalimat teks yang berisi pernyataan yang terasa dilebih-lebihkan. Hurufnya tegas, huruf besar semua.

    Betapapun demikian seri panel tentang perang tanding Rama dan Rahwana itu sekuen-sekuennya kurang memberikan kejutan. Justru yang lebih berhasil adalah seri panel kedua bertajuk Maaf Mungkin Aku Salah Masuk. Inspirasi "komik" ini adalah cerita Gitanjali dari India. Pius pernah mendapat kesempatan melakukan residensi di Banglore, India, pada 2004. Seni rupa rakyat dan pop di sana rupanya memberikan kesan kuat dalam diri Sigit. Gitanjali sesungguhnya adalah kidung-kidung religius karya Rabindranath Tagore, tapi Gitanjali di sini dipermak oleh Sigit.

    Seri ini dibuka dengan lukisan seorang pria di ujung pintu. Potongan rambutnya rapi, jasnya perlente. Ia berdiri, bibirnya terkatup. Tapi ia berkata. Lihat apa yang diucapkannya dalam balon kata itu. Betapa "prosaik"-nya: "Maaf mungkin aku salah masuk. Ribuan pintu telah kucoba, tapi tak ada jalan keluar." Di panel kedua kita melihat gambar seorang perempuan berparas ayu dalam balutan sari, pakaian khas India. Dialah Gitanjali. Sembari tersungging senyum menggairahkan, ia berkata, "Anak muda..., tutuplah pintu itu! Biar aku bukakan satu pintu yang lain. Jalan keluar untuk dunia yang baru. Mari...! Kemudian dalam panel ketiga, perempuan itu melepaskan seluruh benang dari tubuhnya, telanjang bulat.

    Pengamat seni rupa Rifky Effendy menilai pameran ini menarik. "Narasinya cukup kental," tuturnya kepada Tempo. Teks dalam lukisan Sigit, menurut dia, menjadi semacam modus operandi. Memang bila kita melihat salah satu lukisan di dinding galeri yang dibuat Pius saat pembukaan, kita bisa tersenyum. Lukisan itu menampilkan dua pendekar pria wanita khas cerita silat era 70-an. "Tuan, tahan dirimu. Dengarkan dulu penjelasannya," begitu kata sang tokoh. Teks-teks itu seakan sebuah cuplikan dari sebuah rentetan dialog atau cerita yang panjang yang kita tak tahu. Tapi, karena ditampilkan secuil itu, justru itu yang membuat aneh dan menarik.

    Sita Palanasari Aquadini, SJS


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Kejutan Si Angsa Hitam

Fotografi

Berburu Rabies

Seni Rupa

Menghapus Wajah, Menggali Ingatan

Komik ala Pius

Album

PENGUKUHAN
Sunarru Samsi Hariadi

Catatan Pinggir

Mono

TEMPO|interaktif

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif