Sutan Sjahrir adalah satu dari tujuh "Bapak Revolusi Indonesia". Dia mendesak Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan walau dia sendiri absen dari peristiwa besar itu. Dia memilih jalan elegan untuk menghalau penjajah. Yakni melalui diplomasi: cara yang ditentang "Bapak Revolusi" lain. Ideologinya, antifasis dan antimiliter, dikritik hanya untuk kaum terdidik. Maka dia dituduh elitis. Sejatinya, Sjahrir juga turun ke gubuk-gubuk, berkeliling Tanah Air menghimpun kader Partai Sosialis Indonesia. Sejarah telah menyingkirkan peran besar Bung Kecil-begitu Sjahrir biasa disebut. Meninggal dalam pengasingan, Sjahrir adalah revolusioner yang gugur dalam kesepian.
Saat tinggal di Belanda, Sjahrir memilih berdiskusi dan menonton acara budaya ketimbang kuliah secara teratur. Tempo menelusuri tempat-tempat yang pernah ia kunjungi.
Surat-surat Sjahrir yang ditulis dari pembuangannya adalah karya tulis Sjahrir yang menyentuh. Di situ kita bisa melihat gagasan-gagasan dasar pemikirannya.