• Home
  • 09 Maret 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 09 Maret 2009

    Misi Rahasia dari De Socialist

    KEPULANGAN Sjahrir ke Tanah Air pada pertengahan November 1931 terasa mendadak. Kepada rekan-rekannya di klub mahasiswa sosial demokrat di Belanda, De Socialist, pemuda 22 tahun itu hanya bilang hendak pergi ke "suatu wilayah berbahaya".

    Sjahrir rupanya telah sepa-kat mengalah kepada Muhammad Hatta, ketika itu 29 tahun, senior di Perhimpunan Indonesia dan teman diskusinya di De Socialist. Meski belum menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam, ia akan pulang. Hatta, yang sudah sembilan tahun di Belanda, berniat menyelesaikan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Rotterdam lebih dulu.

    Menurut Rosihan Anwar, 87 tahun, wartawan dan simpatisan Partai Sosialis Indonesia, situasi Perhimpunan Indonesia tak lagi kondusif ketika itu. Pada Maret 1931, kelompok Abdoelmadjid dan Rustam Effendy yang berhaluan komunis kian mendominasi perhimpunan. Mereka telah mendepak Hatta dari tampuk pimpinan. Sjahrir, sekretaris perhimpunan, membela Hatta dan keluar dari organisasi bersama seniornya itu.

    Keadaan genting juga berlangsung di Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda menangkap Soekarno dan tokoh-tokoh Partai Nasional Indonesia. Bagi Hatta dan Sjahrir, penangkapan ini bakal menyurutkan semangat kaum pergerakan. "Bagi keduanya, ini sinyal bahwa keadaan di Tanah Air menghadapi masalah serius," kata Rosihan.

    Lebih-lebih setelah mendengar PNI justru dibubarkan oleh aktivisnya sendiri, yang kemudian membentuk Partai Indonesia atau Partindo. Gerakan nasionalisme kultural Partindo dinilai terlalu lemah dan mengecewakan kaum nasionalis. Mereka berharap ada tokoh yang lebih berani.

    Hatta dan Sjahrir saat itu sudah menjadi tokoh di kalangan nasionalis. Tulisan-tulisan mereka dari Negeri Belanda tentang "pentingnya pendidikan menuju kemerdekaan" berpengaruh besar terhadap kaum pergerakan. Terpengaruh tulisan ini, sekelompok mahasiswa dan pemuda membentuk klub studi di Bandung dan Jakarta pada Maret-April 1931.

    Abdoel Karim Pringgodigdo, teman Hatta yang lebih dulu kembali dari Belanda, juga teman-teman Sjahrir semasa sekolah menengah di Bandung, bergabung dengan kelompok studi ini. Menamakan diri "golongan merdeka", mereka menerbitkan jurnal Daulat Rakyat. Misi jurnal ini adalah "pendidikan rakyat".

    "Nama merdeka diambil karena mereka di luar kelompok mana pun. Mereka juga menegaskan tujuan memerdekakan bangsanya," kata Hadidjojo Nitimihardjo, putra Maroeto Nitimihardjo, salah satu pendiri kelompok itu.

    "Golongan merdeka" mengadakan kongres di Yogyakarta pada Februari 1932. Mereka kemudian mendirikan Partai Pendidikan Nasional Indonesia dengan ketua Sukemi. Partai ini kemudian dikenal sebagai PNI Baru atau PNI Pendidikan. Begitu tiba di Tanah Air, Sjahrir langsung bergabung dengan partai baru ini.

    Dalam kongres di Bandung pada Juni 1932, Sjahrir ditunjuk menjadi ketua dan Sukemi wakilnya. Beberapa bulan kemudian Hatta kembali ke Indonesia dan segera mengambil alih kepemimpinan, dengan Sjahrir sebagai wakilnya. "Agar efektif, pusat kegiatan lalu dipindahkan Hatta ke Jakarta," kata Hadidjojo.

    Gerakan politik Hatta dan Sjahrir melalui PNI Baru justru lebih radikal daripada PNI Soekarno, yang mengandalkan mobilisasi massa. Meski tanpa aksi massa dan agitasi, organisasi ini mendidik kader-kader pergerakan. Menurut Des Alwi, anak angkat Sjahrir, Hatta dan Sjahrir memang mengambil alih PNI Baru ini hanya agar pergerakan nasional terus berlanjut.

    Pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap Sjahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin partai ini. Mereka dibuang ke Boven Digul, Papua.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Perempuan-perempuan Modis Mao

Album

PENGUKUHAN
Amir Sjarifuddin Madjid, Wiwien Heru Wiyono

Catatan Pinggir

Sjahrir di Pantai

Sjahrir di Pantai

TEMPO|interaktif

Sejam Ada 2,5 Juta Tweet Kematian Whitney Houston  

Besok Keluarga Cewek Macho Denpasar Minta Maaf  

Nasional

MUI Kalteng: Pembentukan FPI Palangkaraya Dibatalkan

Fadel: Saya Tak Niat Jadi Calon Gubernur DKI  

Nasional

Tokoh FPI Rizieq Salahkan Gubernur Kalteng

Whitney Houston Harusnya Datang ke Grammy Awards

Penyebab Kematian Whitney Houston Belum Diketahui

Whitney Houston, Antara Kokain, Sabu dan Ganja  

Whitney Houston Tutup Usia  

Nasional

Tak Punya Ongkos, FPI Diturunkan di Banjarmasin

fpi.jpg[Front Pembela Islam / FPI]

Metro

Pemerintah Cabut Izin Operator Bus Maut

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif