• Home
  • 09 Maret 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 09 Maret 2009

    Kemenangan di Lake Success

    SIDANG Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 14 Agustus 1947 di Lake Success, New York, Amerika Serikat. Seorang lelaki muda berwajah Melayu, berambut ikal, usianya 38 tahun, tingginya tidak mencapai 1,60 meter, mengurai pandangannya dengan tenang.

    Dari caranya berbicara, kelihatan ia tak terpancing pernyataan provokatif Eelco R. van Kleffens, salah seorang yang mewakili kubu lawannya. Kleffens seorang pejabat senior kementerian luar negeri Belanda. Ketimbang menyusun argumentasi, Kleffens membeberkan aneka perilaku buruk kalangan "republiken". "Mana yang Anda percaya, mereka atau orang-orang beradab seperti kami," begitu ia menutup presentasinya, seperti yang terekam dalam dokumentasi video Des Alwi.

    Lelaki itu, Sutan Sjahrir, menjawab kalem, argumentasinya tak beringsut dari satu titik: Belanda telah melanggar Perjanjian Linggarjati. "Saya yakin anggota dewan dapat menilai, apakah tuduhan Belanda tersebut benar atau salah. Namun ada satu fakta yang hendak saya tekankan: pihak Belanda tidak membantah semua fakta yang terungkap pada pernyataan terakhir saya, di mana Belanda mengingkari Perjanjian Linggarjati. Ketimbang membantah pernyataan saya, pihak Belanda justru mengajukan tuduhan yang tak terbukti," katanya dalam bahasa Inggris yang cukup fasih.

    Ia bercerita tentang kejayaan Indonesia seribu tahun silam dalam formasi Kerajaan Majapahit, kemudian menampilkan gambaran kontras. "Namun, karena penjajahan Belanda selama tiga setengah abad, bangsa kami mengalami kemunduran total," ujarnya. Sjahrir menepis anggapan bahwa kemerdekaan Indonesia pemberian Jepang, meminta bantuan PBB untuk bertindak sebagai penengah dalam konflik Indonesia-Belanda, dan meminta agar PBB mengeluarkan putusan untuk memaksa pasukan Belanda mundur dari daerah republik. Sayang, kedua permintaan itu tidak terpenuhi.

    Meski begitu, menurut Charles Wolf, penulis buku The Indonesian Story: The Birth, Growth, and Structure of the Indonesian, kemenangan tetap berada di pihak republik muda itu. "Pidato Sjahrir menarik, canggih dan efisien," tulis Wolf. Itulah sebabnya, surat kabar berpengaruh di negeri Abang Sam, New York Herald Tribune, pada 15 Agustus 1947 menabalkan pidato Sjahrir sebagai "salah satu yang paling menggetarkan di Dewan Keamanan".

    Dari situlah dukungan dunia internasional mengalir. Bukan hanya dari para sahabat seperti India, Filipina, Australia, dan Suriah, tapi juga dari negara seperti Rusia dan Polandia. Komisi tiga negara yang beranggotakan Australia, Belgia, dan Amerika Serikat pun dibentuk sebagai mediator konflik Indonesia-Belanda. Yang terpenting, Belanda gagal menerapkan keinginannya: melakukan pendekatan unilateral melalui kekuatan bersenjata.

    Kedatangan Bung Kecil dalam rapat Dewan Keamanan PBB melalui jalan terjal. Setelah agresi militer pertama Belanda pada 21 Juli 1947, kedudukan Indonesia semakin terjepit. Pasukan Belanda telah menguasai separuh Jawa. Posisi ibu kota di Yogyakarta pun terancam.

    Melihat kondisi ini, Bung Karno mengeluarkan surat penunjukan duta besar keliling kepada Sjahrir. Sjahrir, yang baru saja mengundurkan diri dari posisi perdana menteri, segera bertindak. Ia menembus blokade Belanda menuju India. Nehru, sahabat lama Sjahrir, dengan antusias memberikan dukungan kepada Indonesia.

    Pada 30 Juli 1947, India dan Australia resmi mengajukan surat permintaan agar kasus Indonesia dibahas dalam rapat Dewan Keamanan PBB. Meski mendapat tentangan dari Belanda dan trio kolonialis Inggris, Prancis, dan Belgia, permintaan kedua negara itu diterima melalui voting anggota dewan pada 12 Agustus 1947.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Perempuan-perempuan Modis Mao

Album

PENGUKUHAN
Amir Sjarifuddin Madjid, Wiwien Heru Wiyono

Catatan Pinggir

Sjahrir di Pantai

Sjahrir di Pantai

TEMPO|interaktif

Sejam Ada 2,5 Juta Tweet Kematian Whitney Houston  

Besok Keluarga Cewek Macho Denpasar Minta Maaf  

Nasional

MUI Kalteng: Pembentukan FPI Palangkaraya Dibatalkan

Fadel: Saya Tak Niat Jadi Calon Gubernur DKI  

Nasional

Tokoh FPI Rizieq Salahkan Gubernur Kalteng

Whitney Houston Harusnya Datang ke Grammy Awards

Penyebab Kematian Whitney Houston Belum Diketahui

Whitney Houston, Antara Kokain, Sabu dan Ganja  

Whitney Houston Tutup Usia  

Nasional

Tak Punya Ongkos, FPI Diturunkan di Banjarmasin

fpi.jpg[Front Pembela Islam / FPI]

Metro

Pemerintah Cabut Izin Operator Bus Maut

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif