• Home
  • 09 Maret 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 09 Maret 2009

    Tak Ada Patung Bung Kecil

    BERDIRI di antara dua pria Belanda, lelaki itu terlihat mungil. Tapi ia tampak sangat percaya diri. Peristiwa 17 November 1945 itu terekam kamera juru potret harian Merdeka, Alex Mendur.

    Sutan Sjahrir, pria kecil itu, baru selesai menghadiri pertemuan dengan Gubernur Jenderal Belanda Van Mook dan Panglima Sekutu di Indonesia, Jenderal Sir Philip Christison, di Jakarta. Gara-gara foto itulah koran-koran lantas memberinya julukan "Bung Kecil".

    Bersama puluhan foto lain, foto itu dipajang di ruang utama Gedung Joang 45, Menteng 31, Jakarta, 28 Februari-31 Maret, sebagai bagian peringatan 100 tahun Sutan Sjahrir. Koleksi ini melukiskan si Bung di era perjuangan, kebersamaannya dengan keluarga, hingga detik-detik kematiannya di Zurich, Swiss.

    Kehadiran foto-foto Sjahrir di Gedung Joang 45 terbilang istimewa. Di gedung itu seolah tak ada tempat untuk perdana menteri pertama Indonesia ini. Peran Sjahrir seperti tak sebesar Soekarno-Mohammad Hatta, Adam Malik, B.M. Diah, Soekarni, dan beberapa tokoh lain, sehingga tak dibuatkan patungnya untuk dipajang di sana.

    Di salah satu papan informasi tertulis, ketika Belanda ingin kembali menguasai Indonesia melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA), Perdana Menteri Sjahrir menolak karena berpegang pada slogan "Merdeka 100%". "Ini karangan musuh-musuh Sjahrir," kata Siti Rabyah Parvati, 48 tahun, putri Sutan Sjahrir, dua pekan lalu.

    Slogan itu milik Tan Malaka, yang kala itu dipuja para pemuda anti-Sjahrir yang bermarkas di Gedung Joang 45. Nah, menurut sejarawan Universitas Indonesia, Rushdy Hoesein, gedung ini merupakan salah satu monumen anti-Sjahrir.

    Dulunya gedung itu hotel mewah Schomper I, milik L.C. Schomper, pengusaha Belanda. Setelah Jepang berkuasa, tempat itu menjadi salah satu basis Angkatan Baru Indonesia yang diketuai Soekarni.

    Di tempat ini, anak-anak muda mendapat gemblengan dari Soekarno, Hatta, Amir Sjarifoeddin, dan Ki Hadjar Dewantara. Namun, setahun kemudian, gedung ini beralih fungsi menjadi kantor Pusat Tenaga Rakjat cabang Jakarta Raya, kemudian menjadi kantor Djawa Hokokai.

    Jebolan asrama Angkatan Baru itu membentuk Komite Aksi sehari setelah Indonesia merdeka. Pemimpinnya bersebelas, di antaranya Soekarni, Wikana, dan Chaerul Saleh. "Kesebelasan" Menteng 31 ini bermarkas di Prapatan Sepuluh (sekarang Kwitang). Mahasiswa asrama kedokteran Ika Dai Gaku bergabung dengan kelompok ini.

    Malam 22 Agustus 1945, kelompok yang mencetuskan ide "Penculikan Rengasdengklok" itu pecah seusai sebuah rapat di Prapatan Sepuluh yang dihadiri Sjahrir. Mengenakan celana pendek, kemeja putih, dan sepatu tenis, Sjahrir mengajak peserta bersedia berunding dengan Belanda.

    "Kalian tidak tahu bahwa Sekutu menang perang dan Belanda salah satu anggota Sekutu," katanya dalam bahasa Belanda, seperti ditulis Alizar Thaib dalam buku 19 September dan Angkatan Pemuda Indonesia. "Sebaiknya kita bentuk organisasi. Biarlah orang-orang Belanda itu kita terima. Sesudah lima tahun, kita adakan pemberontakan."

    Kelompok mahasiswa kedokteran menerima gagasan Sjahrir, tapi Chaerul Saleh dan kesatuannya menolak ide itu. Ketika Sjahrir menjadi perdana menteri, pemuda Menteng 31 kembali menentang keras program kabinetnya, yang lebih mengutamakan diplomasi.

    Aktivis Menteng 31 lantas membentuk Angkatan Pemuda Indonesia. Mereka menggempur NICA, merebut sarana transportasi, dan mengibarkan Merah-Putih di mana-mana. "Suasana revolusi mulai menyala ketika itu," tulis Adam Malik dalam buku Mengabdi Republik jilid II: Angkatan 45.

    Pada 19 November 1945, Sjahrir menetapkan Jakarta sebagai "kota diplomasi". Aktivis Menteng 31 bersama laskar rakyat pendukungnya hijrah ke Karawang, Jawa Barat. "Di sana markas mereka berpindah-pindah," kata Rushdy. Salah satunya Gedong Jangkung di Rengasdengklok, Karawang. Bangunan di pertigaan Pasar Rengasdengklok itu kini sudah menjadi tempat bisnis. Bagian depannya dijadikan gerai telepon dan kartu seluler. Bagian belakangnya malah menjadi rumah burung walet.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Perempuan-perempuan Modis Mao

Album

PENGUKUHAN
Amir Sjarifuddin Madjid, Wiwien Heru Wiyono

Catatan Pinggir

Sjahrir di Pantai

Sjahrir di Pantai

TEMPO|interaktif

Setiap Jam Ada 2,5 Juta Tweet Kematian Whitney Hou

Besok Keluarga Cewek Macho Denpasar Minta Maaf  

Nasional

MUI Kalteng: Pembentukan FPI Palangkaraya Dibatalkan

Fadel: Saya Tak Niat Jadi Calon Gubernur DKI  

Nasional

Tokoh FPI Rizieq Salahkan Gubernur Kalteng

Whitney Houston Harusnya Datang ke Grammy Awards

Penyebab Kematian Whitney Houston Belum Diketahui

Whitney Houston, Antara Kokain, Sabu dan Ganja

Whitney Houston Tutup Usia  

Nasional

Tak Punya Ongkos, FPI Diturunkan di Banjarmasin

fpi.jpg[Front Pembela Islam / FPI]

Metro

Pemerintah Cabut Izin Operator Bus Maut

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif