• Home
  • 30 Maret 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 30 Maret 2009

    Jazz di Kamera Contini

    Musisi jazz Dhafer Youssef tampak syahdu memetik oud. Bersetelan gamis putih senada dengan kopiah di kepalanya, ia duduk memainkan instrumen berdawai yang lazim dalam musik Timur Tengah itu di depan altar suci, bersandingkan patung orang kudus, di Berchidda, Italia, pada 1998.

    Lensa kamera Nina Contini Melis menangkap detail suasana itu: tradisi sufi dan mistik yang mengakar pada musik Youssef seolah lebur dalam keberagaman. "Semua orang suka dengan potret ini," kata Dian dari Pusat Kebudayaan Italia, Jakarta, tempat foto-foto Contini dipamerkan.

    Foto-foto itu, seluruhnya berjumlah 20, sebelumnya ditampilkan di tengah keriuhan Jakarta International Java Jazz Festival 2009 di Jakarta Convention Center, pada 6-8 Maret. Di Pusat Kebudayaan Italia, pameran berlangsung hingga Rabu pekan lalu.

    Contini, yang menikah dengan pemain bas asal Italia, Marcello Melis, merekam evolusi jazz dengan kamera sejak 1960-an. Ketika itu, gerakan free jazz di Roma dan berbagai tempat lain di Italia sedang mekar-mekarnya. Dari sana, Contini melanjutkan "perburuan"-nya ke New York pada 1970-an, saat gerakan kebudayaan loft jazz-yang merupakan kelanjutan dari free jazz-meruyak. Contini, yang kini menetap di Paris, Prancis, masih berkeliling di sejumlah negara di empat benua sejak itu.

    Wilayah jelajahnya memang luas. Periode-periode yang ia lalui pun terhitung riuh di lanskap jazz. Wajar jika banyak figur penting musik yang lahir di lingkungan warga kulit hitam Amerika Serikat itu menjadi obyeknya. Hasil bidikan kameranya dalam format hitam-putih, bertema "Some Jazz -Images", menghadirkan tokoh seperti Michel Petrucciani, Steve Lacy, Betty Carter, Charles Mingus, Ron Carter, Sun Ra, Woody Shaw, Marcel Khalife, Chet Baker, Bill Evans, Lionel Hampton, Miles Davis, Danny Richmond, dan Mal Waldron.

    Perempuan yang lahir di New York 66 tahun lalu ini tak selalu memotret seniman-seniman improvisasi itu saat berada di panggung dan di dalam studio, tapi juga dalam keseharian yang jauh dari gemuruh aplaus penonton. Foto Betty Carter, penyanyi Amerika yang berteknik improvisasi tiada duanya, diambil saat tertawa lepas pada 1979 di Roma. Carter saat itu berusia 50 tahun; ia meninggal 19 tahun kemudian. Woody Shaw, peniup trompet Amerika kelahiran 1944, dipotret ketika berusia 38 tahun. Selain itu, masih ada Danny Richmond (Roma, 1980), Steve Lacy (Paris, 1998), Sun Ra (Roma, 1989), dan Charles Lloyd (Lieges, 2000).

    Untuk foto-foto yang merekam momen konser, Contini antara lain juga menyuguhkan Lionel Hampton yang sedang mendentingkan pianonya di Perugia, 1987. Penerima Cross of Merit- for Science and Arts, anugerah kebudayaan tertinggi dari pemerintah Austria, pada 1998 itu membangkitkan kenangan dan barangkali juga imajinasi aliran swing-yang mencapai puncak popularitasnya pada 1940-an. Hampton wafat dalam usia 94 tahun pada 2002.

    Masih di Perugia, pada 1981, Contini memotret Ron Carter yang terlihat ekspresif memetik kontrabas. Ketika itu, Carter berusia 44 tahun. Car-ter merupakan pemain bas yang pernah mendukung kuintet kedua Miles Davis pada 1960-an.

    Tentu saja, Miles Davis adalah ikon yang mustahil dilewatkan. Peniup trompet, bandleader, dan komposer yang menjelajah dan berperan penting di setidaknya empat aliran jazz ini dibidik saat tampil di Roma pada 1982. Detail yang terlihat bagai menyebarkan anasir sunyi dan gaduh, letupan emosi, bahkan ceruk spiritual yang selalu terkandung dalam deretan not yang terdengar dari trompet Davis.

    Pameran karya Contini mungkin jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Tapi, bagaimanapun, foto-foto itu telah menghamparkan kesaksian mengenai satu aliran musik yang hingga kini tak bisa didefinisikan secara ketat oleh seorang pun, betapapun jutaan orang telah dibuat takjub. "Jika Anda bertanya apakah jazz itu, Anda tak akan pernah tahu," kata Louis Armstrong, peniup trompet yang dilukiskan sebagai "mungkin musisi Amerika terpenting pada abad ke-20".

    Martha W. Silaban


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGUKUHAN>
Eddy Mulyadi Soepardi

Catatan Pinggir

Karnivalesk

Seni Rupa

Wayang dalam Imajinasi Eko

Oasis Bernama Bioskop

Fotografi

Jazz di Kamera Contini

TEMPO|interaktif

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

Olahraga

Fabregas Kencani Ibu Dua Anak  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif