KETEGANGAN terjadi di sebuah rawa "perawan" di Muara Angke, Jakarta Utara. Segerombolan monyet tiba-tiba menghadang Tempo yang tengah menyusuri sebuah jalur kayu-seperti jembatan-dengan lebar semeter. Kera-kera di sana terkenal ganas bila kelaparan. Hati terasa kuncup. Keinginan untuk lari menjauhi mereka sedapat mungkin, yang sempat muncul, kembali tenggelam. Khawatir itu malah membuat mereka mengejar. Apalagi rawa membentang di kanan-kiri jalan. Sebelumnya, ada biawak sebesar buaya dan ular besar berenang santai di rawa.
Akhirnya Tempo berdiri merapat pada sisi jembatan, membiarkan rombongan monyet lewat dengan tenang. Beberapa ekor di antaranya mencoba meneliti kami, sembari mengendus-endus. Untung, tak ada adegan memanjat-manjat tubuh, apalagi menggigit dan mencakar. Itulah Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta Utara. Dan kejadian di atas tidak bakal kita dapatkan di Taman Safari, Bogor. Di suaka margasatwa seluas 25 hektare di tengah kepungan bangunan toko dan perumahan mewah Pantai Indah Kapuk itu, hidup-lah monyet-monyet liar.
Destinasi itu bisa ditemukan bila kita membaca Peta Hijau Jelajah Jakarta yang baru dirilis pertengahan Maret lalu. Peta Hijau tersebut adalah yang pertama berdasar jalur transportasi umum-Transjakarta dan kereta rel listrik-di dunia. Peta Hijau biasanya berbasis kawasan tertentu, misalnya kota, bagian kota, atau kawasan bersejarah seperti Borobudur. Suaka Margasatwa Muara Angke diberi tanda "1" pada peta, dan padanya terdapat delapan ikon-yang menggambarkan kondisi di sana-antara lain habitat satwa liar, amfibi, area lahan basah, pengamatan serangga, burung, migrasi burung, dan jalan-jalan di alam.
Hutan bakau dan rawa itu dapat dinikmati dengan berjalan di atas jalan setapak kayu sepanjang 800 meter. Memasukinya serasa bukan di Jakarta. Alamnya masih liar. Tercatat vegetasi seperti pidada (Sonneratia caseolaris), nipah (Nypa fruticans), rumput gelagah (Phragmytes karka), dan beringin (Ficus indica, Ficus benjamina, Ficus retusa).
Di sana juga ada Jakarta Green Monster, lembaga yang memperhati-kan kelestarian kawasan tersebut. Komuni-tas yang menjaga konservasi -bu-rung dan bakau itu mencatat sejumlah je-nis burung di Suaka Margasatwa Muara Angke. Yang terhitung unik adalah burung bubut jawa (Centropus -nigrorufus), yang hidup dari makan be-la-lang, kelabang, kumbang, katak, ular, dan tikus. Bubut jawa hanya bisa terbang pendek, sehingga terlihat seperti berlari dan meluncur, atau sese-kali terbang rendah. Ada juga burung yang terancam punah, seperti pecuk ular asia (Anhinga melanogaster), ibis cucuk besi (Threskiornis melanocephalus), dan cerek jawa (Charadrius javanicus).
Suaka Margasatwa Muara Angke memang hanya satu dari 100 titik-yang diwakili ikon-ikon-pada Peta Hijau Jelajah Jakarta yang dibuat sejak Juli 2008 itu. Menurut salah satu penggagasnya, Nirwono Joga, Peta Hijau tersebut tidak hanya untuk kepentingan rekreasi. "Tapi juga untuk menambah kesadaran berkota pengguna transportasi publik, busway dan kereta listrik," ujarnya.
Sebab, di jalur-jalur Transjakarta- memang cukup banyak tempat menarik yang tidak banyak diketahui publik (lihat "Tersembunyi di Balik Jakarta"). Juga ada tempat-tempat bersejarah di antara gang-gang kecil. Misalnya makam Souw Beng Kong yang terletak di gang dan sela-sela rumah kumuh di kawasan Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat.
Tempat-tempat "tersembunyi" tersebut sering mengejutkan warga kota itu sendiri. "Kejutan itu muncul mungkin justru karena sesuatu itu tidak dianggap penting," kata Marco Kusumawijaya, pelopor Peta Hijau di Indonesia. Misalnya, orang bisa tahu dari Peta Hijau bahwa di Menteng ada pohon cengkeh di Jalan Johar.
Warga Jakarta mungkin tak tahu, misalnya, Kali Malang itu merupakan sumber air minum (lihat "Memetakan Ruang-ruang Kecil"). Bahkan tak jarang relawan Peta Hijau-orang yang menyediakan diri membantu membuat peta dengan menempatkan ikon-ikon Peta Hijau-terkejut dan baru sadar bahwa di Jakarta ada tempat-tempat menarik selain mal dan pusat perbelanjaan. "Membuat warga mengetahui ada tempat penting di dekat kantor atau rumah mereka, seperti pembuatan kompos atau kampung hijau," kata Nirwono, yang juga arsitek lanskap.
Sebelum ada Peta Hijau Jelajah Jakarta, di Ibu Kota sudah ada beberapa Peta Hijau yang berbasis kawasan, seperti Kemang (2001), Kebayoran Baru (2002), Menteng (2003), dan Kota Tua (2005). Dan sejak diperkenalkan Marco pada 2000, gerakan memetakan wilayah dengan ikon-ikon universal ini sudah menyebar ke beberapa kota di Indonesia, seperti Yogyakarta, Bandung, dan Bukittinggi, juga Bali dan Aceh.
Seperti disebutkan Marco, Peta Hijau merupakan "peta yang aktif", "peta kata kerja", yang dalam penyusunan-nya sangat melibatkan masyarakat. Misalnya, di Malang, Jawa Timur, tanpa mempedulikan tanggapan dari pemerintah kota, Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (Impala) Universitas Brawijaya tetap membuat Peta Hijau untuk menandai ruang terbuka hijau. "Peta ini berfungsi sebagai kontrol terhadap potensi lingkungan yang ada. Ini bisa menjadi sebuah upaya efektif yang edukatif guna melestarikan ruang terbuka hijau sebuah kota," kata Ketua Impala Marwan Setiawan.
Di Bandung, pembuatan Peta Hijau dimulai dengan memetakan kawasan di sepanjang Daerah Aliran Sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat. Tim lainnya berfokus pada pemetaan kawasan urban, seperti kawasan Braga. Dasar pemikirannya adalah Bandung bukan sekadar daerah tangkapan air bagi Sungai Citarum, tapi juga sebuah kota dinamis.
Mungkin langkah yang lebih maju adalah Peta Hijau Borobudur. Sebab, peta ini telah masuk tataran pembuat keputusan. Perangkat desa di sana ikut aktif menjadi relawan Peta Hijau. Mereka juga mengusulkan potensi daerah berdasar pembuatan peta ini ke tingkat pemerintah yang lebih tinggi. "Kami sangat mendukung. Para sesepuh dusun telah mengadakan rapat berkali-kali membahas ini. Peta Hijau kini menjadi tanggung jawab desa," kata Kepala Desa Candi Borobudur Maladi.
Perhatian pejabat desa ini bisa dipahami karena, dengan adanya Peta Hijau, wisatawan yang berkunjung ke Borobudur tidak hanya pergi ke candi, tapi juga ke dusun-dusun sekitarnya. "Kami bisa membuat wisata desa. Wisatawan bisa mengetahui aktivitas warga kampung," ujar Koordinator Peta Hijau Mandala Borobudur Muhammad Hatta.
Yang terjadi di kawasan Borobudur itu menunjukkan bahwa Peta Hijau sudah berhasil menyadarkan warga setempat akan pentingnya pembangunan yang lestari (sustainable). Mungkin di daerah lain di Indonesia, Peta Hijau baru digunakan sebatas mengenali wilayah-yang sering memunculkan kejutan. Namun, seperti keyakinan pelopor Peta Hijau, Wendy Brawer-seorang desainer hijau-Sistem Peta Hijau yang dibangun sejak 1995 ini mampu menjadi gerakan warga lokal secara mendu-nia. Sebab, sistem ini, selain langsung melibatkan warga setempat tanpa batas usia dan pendidikan, memiliki ikon universal yang bisa dipahami lintas bahasa dan budaya. "Orang New York bisa dengan mudah membaca Peta Hijau di Jakarta," kata Nirwono.
Kini sudah ada lebih dari 350 Peta Hijau yang dibuat oleh komunitas di lebih dari 500 kota yang tersebar di 54 negara di dunia. Peta Hijau, yang berulang tahun ke-14 pada 25 Maret lalu, telah menjadi gerakan global dalam mengidentifikasi potensi lokal melalui 125 ikon universal. Sejak September lalu, Sistem Peta Hijau membuka kesempatan bagi warga dunia untuk berpartisipasi dalam penyusunan Peta Hijau Dunia dalam Open Green Map yang ditayangkan di situs www.greenmap.org. Seperti motonya: "Think Global, Act Local".
Ahmad Taufik, Iqbal Muhtarom (Jakarta), Pito Agustin Rudiana (Yogyakarta), Bibin Bintariadi (Malang), Anwar Siswadi (Bandung)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
