• Home
  • 06 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
    • Landskap
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
    • Kuliner
  • Sains
    • Pendidikan
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 06 April 2009

    Last Supper di Era Digital

    Yesus memegang tas tangan mini ala Chanel. Tangan kiri Bartholomeus juga menggenggam tas. Yudas, yang berdiri di sebelah belakang, memegang tas lain yang diangkatnya tinggi-tinggi. Dan Thomas mencangklong tote bag.

    Begitulah Davy Linggar memberikan interpretasinya atas peristiwa kudus perjamuan terakhir Kristus dan 12 muridnya. Karya Davy, yang berangkat dari karya pelukis Italia, Jacopo Bassano, abad ke-16, merupakan satu dari 16 karya yang dipamerkan di CG Artspace, Plaza Indonesia, mulai akhir Maret lalu untuk menyambut hari Paskah pada 10 April mendatang.

    Jamuan makan malam terakhir yang kudus bagi umat kristiani ini sudah berulang kali diinterpretasikan. Leo-nardo da Vinci bukan yang pertama, bukan pula yang terakhir. Dua ratus tahun sebelum Da Vinci, pelukis Italia, Giotto di Bondone, sudah membuatnya. Demikian pula Pietro Lorenzetti pada 1320. Tapi versi Da Vinci demikian mendunia dan melambungkan namanya. Para pelukis abad ke-20 pun memberikan versi mereka, termasuk Raymond Poulet, Salvador Dali, dan figur terkemuka pop art Andy Warhol.

    Nah, dalam pameran berjudul Revi-siting the Last Supper, penyelenggara CG Artspace dan Umah Seni mengundang ke-16 perupa untuk menginterpretasikan ulang peristiwa yang terjadi di sebuah ruangan bertingkap Gothic di Bukit Zion, Kota Yerusalem, itu, tepat di atas makam Raja Daud-yang dalam tradisi Islam disebut Nabi Daud. Sebagian perupa mengacu pada mahakarya Da Vinci, tapi lebih banyak yang bergerak keluar dengan menginterpretasikannya dengan lebih kontekstual dan kontemporer. Juga dengan mood yang tak jarang main-main dan bercanda.

    Seperti Davy. Seakan tak sempurna tanpanya, di atas lukisan akrilik berukuran 150 x 200 sentimeter itu, Davy masih menambahkan coretan bak bolpoin yang kecil, tapi mustahil bila luput dari pandangan. Di atas gelas, ia gambari seorang pria kencing. Robot ala R2D2 Star Wars muncul di meja. Seekor anjing berleha-leha di bantal. Dan seorang bocah perempuan menonton dari pinggir dengan separuh mata.

    Mengapa tas, mengapa pria kencing,- mengapa R2D2? Menurut Davy, perja-muan terakhir dalam karyanya adalah kritik atas perilaku masyarakat mo-dern yang menghadapi "fetishism atau pemujaan berlebihan terhadap suatu benda atau nilai". Dari karya Bassano, lebih dari separuh abad setelah karya Da Vinci, Davy mengimbuhi produk-produk konsumerisme kapitalis yang dikenali masyarakat sekarang.

    Yang paling pol bercandanya adalah Hamdan Omar, pelukis kelahiran Malaysia yang pernah 30 tahun bekerja di bidang periklanan. Karyanya sungguh komikal. Sebuah sepatu sneakers All Star melayang menuju seorang pria yang menyembunyikan separuh wajahnya di balik kain. Mimiknya penuh amarah dan dengki. Ia memaki kotor. Judulnya Hey Judas! Here's your supper!

    Amy Aragon, pelukis yang ber-asal dari Filipina, tanah umat Katolik di Asia Tenggara, menginterpretasikan- perjamuan terakhir sebagai sebuah narasi yang tak berhenti diteruskan antargenerasi. Akibatnya, sejumlah elemen di dalamnya menjadi blur. Karyanya berjudul The Last Supper: A Child's Tale. Dengan komposisi warna yang menarik, Amy melukis tumpukan piring, teko, dan cangkir yang berantakan, lengkap dengan hidang-an mo-dern di atasnya: croissant, ikan, pretzel, dan permen warna-warni. "Ta-nyakanlah kepada orang sembarang bagaimana ceritanya, dan jawaban mereka akan terdengar seperti datang dari anak-anak," katanya.

    Atau lihatlah karya Do This in Remembrance of Me-dikutip dari kitab Perjanjian Baru, yang juga memiliki banyak versi lukisan-milik Bea-trix Hendriani Kaswara. Ia menggunakan ratu Latin, Jennifer Lopez, sebagai imaji akan mesiah baru yang muncul di televisi. Ia sengaja merusak gambarnya, yang meski terasa mengganggu, "sebenarnya rusakan gambar video itu seperti lukisan dengan komposisinya".

    Perupa J. Ariadhitya Pramuhendra menampilkan dirinya sendiri sebagai 13 sosok orang yang terlibat dalam perjamuan itu. Berjudul Holy Mass, karya ini menggunakan pendekatan fotogra-fis, dengan Pramuhendra yang bertelanjang dada serta berjanggut dan berkumis bak pria Timur Tengah. Pramuhendra tercengang, memaki, menunjuk, dan menghindar dari balik meja panjang polos. "Dalam diri saya, mungkin saja terwakili watak dari semua orang yang ada di sana," katanya tentang karya yang pernah dipertunjukkannya dalam pameran tunggal tahun lalu itu.

    Tapi bukan berarti tak ada yang ber-upaya menanggapi tema perjamuan terakhir ini sebagai tema yang sakral. Bila yang dicari adalah karya yang menimbulkan perasaan religius, silakan -te-ngok karya Omar yang lain. Dalam sebuah kanvas panjang berukuran -195 x 45- sentimeter, ia melukis ekspresi wajah ke-13 orang itu bersisian. Dalam kombinasi arang dan akrilik, Omar membuat 12 orang di antara mereka terpejam-seseorang melirik tajam ke sebelah kanan. Ini bisa jadi Yesus yang melirik Yudas, yang dalam versi klasik Da Vinci selalu ditampilkan duduk berselang satu di sisi kanannya.

    Atau karya Ronald Manullang yang mencekam. Di atas meja panjang, ia melukis tubuh Yesus yang terbaring melintang tanpa busana, kecuali secarik kain yang menutupi bagian intimnya. Mahkota kawat bertengger di atas kepalanya, dan tangannya terangkat ke atas bak menyerah kalah. Matanya terpejam. Transpose Last Supper judulnya. Dan Ronald memberikan catatan yang membuat kita terdiam membacanya. "Bahwa sesungguhnya Dia-lah roti dan anggur itu," tulisnya.

    Dan yang mencekam, dari era digital, penggunaan monitor komputer sebagai pengganti wajah. Ini karya fotografi Indra Leonardi, yang menggunakan bantuan komputer untuk membuat efek ruang yang berulang. Seram untuk mengandaikan betapa monitor kompu-ter bisa jadi telah menggantikan wujud manusia dalam hubungan sosial. Bukankah masyarakat kosmopolitan sulit menghindar dari percakapan maya lewat layar? "Dua ribu tahun lalu wajah Yesus dan murid-muridnya tidak ada yang benar-benar tahu. Dengan monitor saya mencoba memberikan penje-las-an," kata Indra.

    Kurie Suditomo


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

MENINGGAL
Fadloli el Muhir

Kuliner

Kuliner Politikus

Buku

Indonesia dari Kamera Linda

Seni Rupa

Last Supper di Era Digital

Catatan Pinggir

Herman

Landskap

Peta Lokal, Jaringan Global

Sensasi di Tengah Kota

Memetakan Ruang-ruang Kecil

TEMPO|interaktif

Isolasi ke Perbatasan Timor Leste Kian Terbuka

Teknologi

Candi Muaro Jambi dalam Sejarah Dinasti Tang

Kencan Terakhir Whitney Houston

Whitney Houston Meninggal di Kamar Hotel  

Aktivis Surabaya Gugat Undang-undang Penyiaran

Doa untuk Whitney, dari Mariah Carey Hingga Rooney  

Olahraga

Barcelona Semakin Sulit Kejar Real Madrid  

Dipicu Dendam Lama, Pemuda di Polman Bentrok  

Sahabat Whitney Houston Berduka  

Sejam Ada 2,5 Juta Tweet Kematian Whitney Houston  

Besok, Keluarga Cewek Macho Denpasar Minta Maaf

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif