• Home
  • 13 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
    • Keranjang
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 13 April 2009

    Cerita-cerita dari Dasar Sumur

    Sampul buku itu menggambarkan isinya: kesunyian kertas putih dengan sketsa boneka yang berantakan. Seharusnya boneka itu lucu, seandainya tidak mengingatkan kita pada boneka-boneka di film horor. Avianti Armand memilih gambar itu untuk sampul buku kumpulan cerita pendeknya, Negeri Para Peri. Tiga dari 16 cerpen di buku itu pernah dipublikasikan di dua koran nasional. "Sisa-nya jauh lebih seru," kata Avianti. Lebih seru? Tepatnya, lebih gelap. Enam belas cerita, selusin teror, seperti ditulis di dasar sumur kotor.

    Percintaan ayah tiri dan -putrinya (Ayah), anak tujuh tahun yang mencekik mati hamster setelah ayahnya tewas tertancap pisau di kamar mandi (Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian), juru foto psycho (Cahaya). Bahkan kisah pertemuan biasa di sebuah kereta bawah tanah Tokyo mendapat deskripsi yang kelam: "Langit Tokyo pedih tersayat parau gagak-gagak hitam. Sedih. Semua tertatap, dan tertelan dalam penuh suara kereta" (Mata).

    Dia paham betul bagaimana memainkan kegelapan. Kekuatan Avianti dalam bercerita adalah bagaimana menghadirkan suasana kesedihan, kemuram-an, dan kesadisan itu hingga mampu membuat kita merasa sendiri, terasing, kadang bergidik dan mual. Dia tidak berfokus pada plot, tapi pada pembentukan atmosfer. Avianti yang arsitek ini berhasil membangun suasana kegelap-an itu. Meletakkan dinding-dinding hitam di sekitar kita.

    "Kakinya terbuka lebar menunjukkan kemaluan, tertekuk dan terikat seperti kodok. Tali-temali yang rumit itu bersilangan memotong dagingnya dengan kencang. Luka pasti. Darah meng-alir jadi alur-alur kecil berwarna merah. Di bahu. Di payudara. Di paha. Di lengan. Tangannya tertindih di belakang punggung. Pada mulutnya di-sumpalkan sebuah bola yang dieratkan dengan selembar kain hitam yang diikat ke belakang kepala. Matanya menetes-neteskan rasa hina dan malu yang tak tertangguhkan," begitu ia menulis dalam salah satu cerpennya.

    Tidak selalu sadis seperti itu. Terkadang hanya kesedihan yang demikian muram. Dan hanya lewat permainan kata-kata dan imaji yang ia sodorkan berganti-ganti, ia berhasil mentransfer kesedihan itu kepada pembacanya. Plotnya juga tidak rumit. Dia bukanlah surealis yang terlihat aneh. Kadang ada mimpi dan khayalan-seperti soal naga dalam Radian-yang -nyelonong ke dalam cerita. Tapi alur ceritanya sendiri tidak berbelit-belit dan gampang diikuti, meski bukan berarti gampang ditebak. Dia kerap menyodorkan keterkejutan di akhir cerita.

    Sayangnya, keseragaman tema itu pada akhirnya memang sedikit membosankan. Avianti melihat dunia hanya dari satu sisi. Sisi kegelapan, atau setidaknya senja. Seperti buku harian. "Tema-temanya memang amat perso-nal," kata sastrawan Sitok Srengenge. Menggali masalah personal memang tidak ada salahnya, bahkan memiliki kelebihan: pengarang amat intim dengan masalah yang diceritakan. "Tapi tema personal juga menghilangkan sisi kolektif, seperti masalah sosial yang lebih umum." Hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan memilih tema personal yang unik.

    Selain membuat buku itu terasa monoton, Avianti tidak teruji untuk menulis dengan gaya yang berbeda, dengan pendekatan yang lain, dengan sudut pandang yang tak sama. Menurut sastrawan Goenawan Mohamad, gaya narasi yang dipakai Avianti ini tak bisa dilepaskan dari gaya naratif pasca-Pramoedya Ananta Toer: kata-kata tidak menjadi alat untuk mendukung sebuah ide, tapi memiliki kehidupan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Nukila Amal dalam Cala Ibi dan Gus tf Sakai untuk Ular Keempat. Buku Avianti ini melengkapi perkembangan itu, menambah satu lagi anak tangganya.

    Satu lagi yang menarik dari buku ini: penulisnya berhasil melepaskan karya sastra dari pemandangan alam (gunung, laut, hutan, desa) atau kota yang dilihat dengan sinis oleh orang yang terpinggirkan. Seperti Abu Nawas, Avianti memasukkan unsur-unsur baru ke dalam karya sastra: kehidupan kelas menengah orang kota: gaun backless Martin Margiela, lychee martini, busana A-line dan kerah sabrina, serta nong-krong di Corso Como, kawasan belanja di Milan. Tidak terlihat dia ingin me-lagak, tapi memang dunia itu yang dia kenali.

    Qaris Tajudin


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Televisi

Tiga Hari Tukar Nasib

Buku

Cerita-cerita dari Dasar Sumur

Keranjang

Satu Jam Saja

Album

MENINGGAL
Abdullah Zainie

Seni Rupa

Seni Patung Baru yang Melunakkan

Seni Rupa Berbingkai Perempuan

Catatan Pinggir

Politik-P

Politik-P

Fotografi

Dua Sisi Chow Yun Fat

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif