Bandar Udara
Tarif Jasa Turun
PEMERINTAH memberikan potongan tarif jasa kebandarudaraan dan navigasi penerbangan. Insentif ini diharapkan bisa menstimulasi perekonomian nasional dalam menghadapi krisis global.
Pemotongan tarif itu berupa pembebasan pengenaan tarif (free of charge) terhadap pelayanan jasa pendaratan, penempatan, dan penyimpanan pesawat udara (PJP4U) internasional atas penerbangan dengan rute baru dan penambahan frekuensi. Pemotongan tarif itu berlaku di bandar udara yang dikelola PT Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II.
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal berharap diskon ini bisa mendorong maskapai untuk meningkatkan pelayanan terhadap para penumpang. "Seperti kemungkinan menurunkan tarif untuk meningkatkan load factor," katanya.
Maskapai nasional menyambut baik kebijakan pemerintah ini. Menurut Manajer Komunikasi Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang, potongan tarif itu bisa menolong pendapatan maskapai udara. Potongan tarif juga memberi peluang maskapai-maskapai menurunkan tarif penumpang.
Bunga Penjaminan
Turun Lagi
LEMBAGA Penjamin Simpanan kembali menurunkan suku bunga penjaminan dari 8,25 persen menjadi 7,75 persen. Suku bunga itu hanya berlaku untuk simpanan rupiah di bank umum. Untuk bank perkreditan rakyat, lembaga ini juga menurunkan suku bunga 50 basis point dari 11,75 persen menjadi 11,25 persen, sedangkan simpanan dalam valuta asing tetap 2,75 persen.
Keputusan menurunkan suku bunga wajar ini diambil dalam rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan di Jakarta pada Kamis pekan lalu. Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan Firdaus Djaelani mengatakan suku bunga simpanan yang baru ini berlaku mulai 15 April hingga 14 Mei 2009. Ia berharap penurunan suku bunga wajar Lembaga Penjamin Simpanan ini makin mendorong bank menyesuaikan tingkat bunga simpanan yang diberikan.
Sejauh ini, sejumlah bank menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi dari bunga penjaminan untuk menarik dana masyarakat. Karena itu, kata Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa, Lembaga Penjamin Simpanan harus berani mengumumkan bank yang menetapkan suku bunga simpanan di atas tingkat bunga wajar lembaga tersebut. "Pengumuman nama bank ini juga diharapkan mendorong bank menurunkan bunga kredit," ujarnya.
Korporasi
Emiten Sekuritas Rugi
HAMPIR separuh dari 113 emiten yang telah menyampaikan laporan keuangan kepada Bursa Efek Indonesia merugi pada 2008. Rinciannya, 71 perusahaan mencatat rugi bersih, dan 62 untung cekak. Pada 2007, cuma enam emiten yang rapornya merah, 114 lainnya oke. Direktur Perdagangan Fixed Income dan Derivatif, Keanggotaan dan Partisipan Bursa, Guntur Pasaribu, mengatakan krisis keuangan global mempengaruhi kinerja mereka.
"Mayoritas perusahaan yang untung pada 2008 pun labanya berkurang dari tahun sebelumnya," kata Guntur, di Jakarta, Rabu pekan lalu. Emiten yang merugi antara lain PT BNI Securities Rp 75,2 miliar, PT Kapita Sekurindo Rp 25,9 miliar, PT Phintraco Securities Rp 15,2 miliar, PT Transpacific Securindo Rp 8,1 miliar, PT Bali Securities Rp 3,7 miliar, dan PT ABN AMRO Asia Securities Indonesia Rp 2,8 miliar.
Emiten yang labanya menyusut antara lain PT Sinarmas Sekuritas yang terjun 99,2 persen ke Rp 1,1 miliar, PT Clemont Securities Indonesia jeblok 94,4 persen ke Rp 239 juta, PT Asia Securities rontok 93,3 persen ke Rp 609,6 juta, dan PT Kresna Graha Sekurindo turun 76,9 persen ke Rp 4,3 miliar. Selain itu ada PT Prime Capital Securities yang labanya menyusut 39,6 persen ke Rp 2,5 miliar, PT Deutsche Securities Indonesia berkurang 8,2 persen ke Rp 28,3 miliar, dan PT Primasia Securities turun 2 persen menjadi Rp 570,6 juta.
Otomotif
Masih Tetap Toyota
PENJUALAN mobil nasional selama Maret lalu turun 3,5 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi 34.500 unit. Toyota kembali memimpin penjualan dengan meraup 38,9 persen pasar, meski volumenya turun 2,9 persen menjadi 13.340 unit dibanding Februari lalu.
Sedangkan Daihatsu menjual 5.970 unit, naik 16,69 persen dibanding bulan sebelumnya. Ia meraih 21,4 persen pasar mobil Indonesia. Dengan begitu, pada triwulan pertama ini penjualan mobil turun cukup tajam dibanding tahun sebelumnya. Untuk partai besar, penjualan turun 26 persen dari 135.601 menjadi 100.757 unit. Sedangkan penjualan eceran turun 21 persen, dari 135.138 unit menjadi 106.685 unit.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Bambang Trisulo mengatakan penurunan penjualan sudah diprediksi sebelumnya. Soalnya, suku bunga kredit tidak langsung turun mengikuti suku bunga acuan. Tapi, ia tetap optimistis pasar akan kembali bergairah seiring dengan membaiknya likuiditas perbankan ke depan. Ia juga yakin penjualan mobil tahun ini akan bisa mencapai 450 ribu unit.
Utang
Pinjaman Siaga Jepang
PEMERINTAH Jepang merealisasikan fasilitas pinjaman siaga senilai US$ 1,5 miliar dalam mata uang yen. Dana tersebut akan diberikan melalui Japan Bank for International Cooperation. Perjanjian program dan perjanjian pinjaman diteken di Jakarta, Selasa pekan lalu.
Pinjaman siaga dari Negeri Sakura ini merupakan bagian dari fasilitas yang akan diperoleh dari empat mitra pembangunan. Secara keseluruhan, Indonesia mendapatkan komitmen sebesar US$ 5,5 miliar. Selain Jepang, lembaga lain yang akan berpartisipasi adalah World Bank, Asian Development Bank, dan pemerintah Australia. Rencananya, dana itu akan digunakan untuk dua tahun anggaran, yakni 2009 dan 2010.
Melalui kerja sama ini, Jepang akan memberikan jaminan terhadap obligasi Samurai yang akan diluncurkan pemerintah Indonesia di pasar Jepang. Apabila penerbitan surat utang gagal atau tidak mencapai target, Jepang akan mencairkan pinjaman siaga. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, melalui kerja sama ini diharapkan pasokan yen bagi transaksi perdagangan akan meningkat. Sebab, Jepang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia. Dengan demikian, ditargetkan tekanan dolar Amerika terhadap rupiah bisa berkurang.
Asuransi
Perketat Nasabah Baru
PERUSAHAAN asuransi akan memperketat penerimaan nasabah baru tahun ini. Menurut Ketua Bidang Statistik, Informasi, dan Analisis Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, Arizal E.R., langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko. "Kami harus ekstra-hati-hati," kata Arizal, Rabu pekan lalu.
Pengusaha asuransi harus mengecek betul semua aset calon klien dan turun ke lapangan untuk memastikan validitas data. Alasannya, dalam perekonomian yang lelet seperti sekarang, aneh jika ada orang atau perusahaan yang tiba-tiba mengajukan asuransi baru, apalagi jika nilai preminya tinggi.
Saat ini, kata Arizal, risiko perusahaan asuransi meningkat karena klien terimbas krisis. Misalnya, mulai banyak pabrik yang memilih "menidurkan" kegiatan karena pesanan barang berkurang drastis. Operasional pabrik tak berjalan, pekerja dirumahkan, dan personel keamanan dikurangi. "Kasus pencurian alat besar yang mahal makin banyak, sehingga jumlah klaim pun naik," kata dia.
Hingga triwulan ketiga 2008, industri asuransi umum mencatatkan premi bruto Rp 17,3 triliun dan klaim bruto Rp 6,5 triliun. Jumlah total premi bruto sepanjang tahun lalu diperkirakan bisa mencapai Rp 22,1 triliun seperti pada 2007. Ia berharap perlambatan ekonomi tahun ini tak akan memangkas premi bruto hingga separuh dari jumlah tahun lalu.
Bahan Bakar Minyak
Tangki Papua Terbakar
Insiden kembali terjadi di PT Pertamina (Persero). Rabu pekan lalu pada pukul 22.15 WIT katup pengaman tangki nomor 11 Depot di Biak, Papua, terbakar.
Perusahaan pelat merah ini pun segera menghentikan pemompaan bahan bakar ke tangki yang saat itu berisi 900 kiloliter premium. Depot Biak yang memiliki dua tangki premium berkapasitas masing-masing 1.100 kiloliter itu pun bisa kembali beroperasi normal pada hari berikutnya.
Pertamina juga menjamin kebutuhan premium di wilayah Biak, Papua, cukup untuk 24 hari mendatang. "Konsumsi premium di wilayah itu mencapai 35 kiloliter per hari dan sekarang tangki premium nomor dua berisi 850 kiloliter," ujar juru bicara Pertamina, Anang Rizkani Noor.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
