Sang penghibur itu adalah Jay Kay. Ia bergerak lincah, bergoyang, berputar, dan berla-rian serta sesekali meloncat dengan menendangkan kaki. Dan penonton bersorak setelah ia menyelesaikan ge-rakannya. Dandanannya seperti yang sering dilihat di klip video: kaus training, celana sport putih, dan sepatu kets Adidas. Namun ia tidak menyertakan penutup kepala besar dan mahkota kepala suku Indiannya. Malam itu cukup-lah topi fedora bermotif kotak-kotak.
Lima personel grup musik Jamiroquai yang menemani aksi panggung Jay Kay tidak seatraktif sang vokalis. Gitaris Rob Harris dan basis Paul Tur-ner, mendampingi di kiri dan kanan, hanya sesekali keluar dari tempatnya. Sedangkan kibordis Matthew Johnson, -drumer Derrick McKenzie, dan perkusionis William Kenneth Fry memang harus menetap di "pos" masing-masing. Apalagi dua penyanyi latar, Valerie -Etienne dan Hazel Fernandes, cukuplah di posisi agak mojok. Panggung di Sentul City Convention Center sepertinya memang ditahbiskan untuk Jay Kay.
Malam itu, Rabu pekan lalu, konser dibuka dengan lagu The Kids dan High Times yang bergaya rock hip-hop, disusul medley Seven Days dan Alright yang "disko abis". Lagu yang dibawakan memang nomor-nomor hit sehingga penonton tak asing untuk ikut bernyanyi. Tidak cuma itu, ketika lagu kelima, Little L, dinyanyikan, "You make me love you, love you, baby", prok-prok, penonton pun ikut bertepuk dua kali. Persis seperti adegan di klip videonya.
Jamiroquai memang pandai meramu bermacam jenis musik. Walau genrenya dicap sebagai acid jazz, agak sulit memberikan label terhadap grup ini karena musikalitasnya yang dianggap suka "lompat pagar". Dalam beberapa nomor, melodi improvisasi gitaris Rob Harris sangat ngerock. Dalam lagu Travelling, cabikan bas dengan teknik slapping kental bergaya funky jazz 1980-an mengingatkan pada cabikan jempol Mark King dari Level 42. Jika disimak, lagu ketujuh, Use the Force, justru berwarna hip-hop dengan ritme Latin samba. Bahkan lagu Drifting Along di album Travelling Without Moving hampir sembilan puluh persen reggae. Sayangnya, lagu kalem ini tidak dibawakan malam itu.
Selama satu setengah jam, penonton yang sebagian besar kaum muda dengan tangan rata-rata memegang BlackBerry, dibombardir musik dengan beat kencang. Dari dua belas lagu yang dibawakan, hanya Space Cowboy-lagu lawas bernapaskan smooth jazz-yang bisa membuat penonton duduk dan menarik napas. Itulah yang kemudian menjadikan kursi-kursi mewah di dalam gedung terasa mubazir. Hampir dua pertiga gedung berkapasitas 12 ribu orang itu terisi. Tapi penonton se-pertinya lebih membutuhkan ruang untuk bergoyang. Ketika Cosmic Girl berkumandang, ratusan manusia pun bergerak serentak ke depan panggung dan "melabrak" area VIP, yang dibanderol Rp 2,5 juta per kursi. "Nah, ini lebih baik," ujar Jay Kay, menunjuk ke arah penonton yang berjingkrak-jingkrak di depannya.
Ada warna lain dari pertunjukan kali ini: tayangan iklan pemilu pada giant screen yang diputar berulang-ulang. Apalagi Jay Kay pun sempat menyisipkan "sosialisasi pemilu" sebelum membuka nomor Use the Force. "You have to go and vote tomorrow," katanya. Penonton pun bersorak dan bertepuk tangan. Konser di luar Jakarta sesungguhnya merupakan pilihan demi -lancarnya perizinan, karena waktu pe-lak-sanaannya yang berimpitan dengan pemilu.
Jamiroquai tumbuh di antara pe-ngaruh band-band acid jazz di London, Inggris, seperti Incognito, Galliano, dan Brand New Hea-vies. Grup musik ini didirikan pada 1992 oleh Jason Kay atau lebih dikenal sebagai Jay Kay, 39 tahun, sang vokalis sekaligus penulis lagu. Dasarnya adalah kegagal-an Jay Kay mengikuti audisi calon vokalis Brand New Heavies. Nama Jamiroquai merupakan kombinasi dari "Jamsession" dan "Iroquai", sebuah nama suku asli Indian Amerika.
Pada 1992, single pertama mereka, When You Gonna Learn, diluncurkan oleh perusahaan rekaman di London, Acid Jazz. Label raksasa Sony BMG Music Entertainment mencium sukses mereka dan mengikat mereka dengan kontrak delapan album. Pada 1993, lahir album pertama, Emergency on Planet Earth. Tapi sukses besar diraih melalui album ketiga, Travelling Without Moving (1996). Dua hit lahir dari album ini, Virtual Insanity dan Cosmic Girl. Setelah di Inggris dan Eropa, popularitas grup ini melejit di Amerika Serikat. Pada 1997, MTV Vi-deo Music Award mengganjar klip video Virtual Insa-nity dengan empat penghargaan terbaik.
Jamiroquai memang sukses meramu hip-hop, techno, dan funky jazz sehingga anak-anak muda, seperti yang hadir dalam konser di Sentul, tak perlu me-ngernyitkan dahi untuk mendengar-kan- notasi-notasi "miring". Di akhir -per--tunjukan, intro -Deeper Underground mengalir. Penonton pun kembali- melon-cat-loncat, "I'm goin' deeper- underground, there's too much panic in this town,"- kor membahana ke seluruh -ruang.
Lagu terakhir itu sangat pas menutup pentas, keras dan klimaks. Penonton tak henti berteriak walaupun musik sudah berhenti. "See you next year," teriak Jay Kay sambil meninggalkan panggung.
Gilang Rahadian
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
