• Home
  • 13 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
    • Keranjang
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 13 April 2009

    Kepolisian
    Bunda Tak Lagi di Johar

    MATAHARI tepat berada di ubun-ubun, Selasa pekan lalu, ketika mobil sedan Mitsubishi Lancer milik Komisaris Theresia Mastail memasuki halaman kantor Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. Begitu keluar dari mobilnya, Kepala Kepolisian Sektor Johar Baru itu bergegas menuju lantai dua, ruang Camat Johar Baru, Marsigit.

    Hari itu, bersama Marsigit, Theresia berencana membahas acara perpisahannya dengan warga Johar Baru. Perempuan yang biasa dipanggil "Bunda" oleh warga Johar Baru ini dimutasi menjadi penyidik satuan remaja anak dan wanita Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya.

    Kepindahan Theresia ini tak hanya mengejutkan wanita yang baru setahun menjadi kapolsek di daerah itu, tapi juga sejumlah tokoh masyarakat Johar Baru. Jabatan barunya itu, menurut ibu tiga putri ini, biasanya dipegang inspektur dua polisi. Artinya, secara jabatan, ia menganggap turun (demosi). "Saya kecewa," kata Theresia.

    Begitu mendapat kabar itu, Theresia sebenarnya bertekad akan keluar dari kepolisian. Belakangan, keinginannya itu ia urungkan. Beberapa temannya meminta perempuan 49 tahun itu bersabar. Seorang petinggi kepolisian yang bersimpati terhadap nasibnya juga menyatakan hal sama.

    Theresia mendapat kepastian ia bakal dipindahkan justru dari seorang tokoh warga Johar Baru. Tokoh masyarakat yang dekat dengan kepolisian itu membawa fotokopi telegram dari Polda Metro Jaya yang ditandatangani Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono. Dalam telegram tertanggal 28 Maret 2009 itu, tertulis bahwa ia akan dimutasi setelah pemilu April ini. Penggantinya adalah Suyatno, Wakil Kepala Satuan Samapta Kepolisian Resor Jakarta Pusat. "Saya sendiri belum mendapat surat itu dari atasan saya," ujarnya.

    l l l

    NAMA Theresia menjadi buah bibir masyarakat tatkala pada Februari lalu ia berhasil membongkar praktek aborsi di klinik dokter Abdullah milik Juniatun, yang sudah berlangsung sepuluh tahun. Pengungkapan itu dipandang sebagai prestasi karena selama ini, walau kapolsek silih berganti, praktek itu aman-aman saja.

    Untuk membongkar praktek laknat itu, Theresia turun tangan sendiri. Ia melakukan penyamaran. Menyelidiki siapa saja yang datang, dan ke mana saja janin bayi itu dibuang. Belakangan, terungkap janin-janin itu ditanam di sekitar lokasi klinik itu juga. Diperkirakan sudah ratusan janin "dihancurkan" di klinik itu.

    Cara yang sama sebelumnya ia terapkan di klinik aborsi milik Cicih di Jalan Tanah Tinggi IV, Johar Baru. Kepada Tempo, seorang anggota reserse Polsek Johar Baru menuturkan, pimpinannya itu memang aktif ke lapangan dan bak tak punya rasa lelah memberantas kriminalitas di wilayahnya. "Dia pernah menjadi pedagang sayur untuk membongkar praktek judi," katanya.

    Soal ilmu menyamar itu, menurut Theresia, ia memperolehnya dari pengalamannya selama bertugas, antara lain, di Satuan Intel Nasional Markas Besar Polri dan intel kriminal dan narkoba Polda Metro Jaya. Lantaran prestasinya di lapangan itu pula, ia ditunjuk sebagai Kepala Unit I Satuan Narkotika Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya pada 2007, sebelum diangkat sebagai Kapolsek Johar.

    Di Johar, Theresia memang membuat gebrakan yang menenteramkan masyarakat. Memberantas perjudian dan minuman keras, menangkap pelaku tawuran, dan membongkar klinik aborsi yang selama ini tak disentuh aparat hukum. Masyarakat memujinya.

    Namun tindakannya itu ternyata berbuah lain. Ia mengaku ada sejumlah rekannya, sesama polisi, yang tidak suka dengan apa yang dilakukannya. Theresia mengaku kerap mendapat tekanan dari pihak yang terganggu periuk nasinya. Mereka ini, ujarnya, yang menginginkan dirinya "lenyap" dari Johar. "Saya tidak suka orang mengaku cinta polisi, tapi perbuatannya tidak mencerminkan seorang polisi," ujar perempuan yang lulus sekolah calon perwira pada 1993 ini.

    Bagi Camat Johar Baru, Marsigit, sosok Theresia adalah polisi yang membuat wilayahnya berubah jadi aman. "Judi dan narkoba dibabat habis," ujarnya. Lurah Kampung Rawa, Sudarmadi, juga setuju dengan pendapat Marsigit. Menurut dia, begitu dekatnya warga dengan Theresia, warga bahkan menyiapkan satu petak tanah kuburan di pemakaman umum Kawi-Kawi, Johar Baru, untuk Theresia. "Kalau saya meninggal, saya memang mau dimakamkan di sini," kata Theresia.

    Tak hanya menjaga keamanan, Theresia juga memperhatikan pendidikan anak-anak di wilayah yang memiliki empat kelurahan itu. Aula di lantai tiga kantornya ia jadikan tempat ia mengajar bahasa Inggris untuk sekitar seratus anak tak mampu.

    l l l

    Kendati tak mendapat alasan pasti kenapa ia dipindah, Theresia menduga kepindahannya berkaitan erat dengan tindakannya yang mengungkap praktek aborsi Juniatun alias Atun itu. Menurut dia, kuasa hukum dokter Agung Wijaya-tersangka dan dokter di klinik Atun-pernah mengirim surat ke Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat, yang isinya menuduh ia menghalangi pengacara itu bertemu dengan kliennya. Surat itu juga ditembuskan, antara lain, ke Kepala Polda Metro Jaya.

    Surat itu, pada 27 Maret, memang ditarik. Sehari setelah surat itu ditarik, muncullah surat mutasi tersebut. "Saya punya bukti, kalau itu ada kaitannya," ujar Theresia. Tapi Henry Setyawan, kuasa hukum Agung, tak yakin jika Theresia dimutasi gara-gara surat yang ia buat.

    Kepala Polda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Wahyono, menampik suara-suara yang menyebut perpindahan Theresia ini sebagai turun jabatan. Di tempat lama, kata Wahyono, ruang lingkupnya tidak begitu luas. Sedangkan di tempat baru, kata Wahyono, bisa membuat kemampuannya meningkat, khususnya dalam menyidik aborsi di Jakarta. "Dia bisa bekerja lebih giat karena kasusnya banyak," ujarnya. Wahyono menegaskan, mutasi ini bukan demosi. "Mutasi ini tidak ada kaitannya dengan aborsi yang diungkap Theresia."

    Suara lain muncul dari anggota Komisi Kepolisian Nasional, Novel Ali. Novel meminta kepolisian transparan dalam soal mutasi ini. Menurut dia, dipindahkannya Theresia memberikan kesan demosi. Itu, ujarnya, bisa menimbulkan citra buruk di mata publik. "Ini kan menimbulkan tanda tanya, polisi yang berprestasi mendadak dipindah," tutur Novel.

    Pengamat Kepolisian, Bambang Widodo Umar, mengakui ada kejanggalan terhadap proses mutasi Theresia ini. Karena, kata Bambang, mendadak dan tidak transparan. "Apalagi terbukti Theresia berprestasi." Menurut Bambang, mutasi Theresia ini belum bisa dikategorikan demosi. Jabatan penyidik, ujarnya, tidak mengenal pangkat dan jabatan. "Hanya, kepolisian seharusnya memang tidak mencopot Theresia," kata Bambang.

    Anton Aprianto, Mustafa Silalahi


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Televisi

Tiga Hari Tukar Nasib

Buku

Cerita-cerita dari Dasar Sumur

Keranjang

Satu Jam Saja

Album

MENINGGAL
Abdullah Zainie

Seni Rupa

Seni Patung Baru yang Melunakkan

Seni Rupa Berbingkai Perempuan

Catatan Pinggir

Politik-P

Politik-P

Fotografi

Dua Sisi Chow Yun Fat

TEMPO|interaktif

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif