Nama mesin GEA itu Rusnas Engine. Rusnas kependekan dari Riset Unggulan Strategis Nasional. Mesin itu memang berkah dari program riset ung-gulan yang disponsori pemerintah tersebut.
Inilah dapur pacu yang pembuatannya memakan waktu kurang-lebih tujuh tahun. Kini mesin itu sudah mendapat sertifikasi laik jalan dari Pusat Penelitian Ilmu Penge-tahuan dan Teknologi, Serpong, Tangerang. Menurut -Nyoman Jujur, total biaya riset untuk pembuatan mesin ini US$ 300-400 ribu (Rp 3-4 miliar). Angkanya terbilang kecil jika dibandingkan dengan dana riset serupa di luar negeri. "Di sana, untuk menciptakan satu prototipe mesin, dana risetnya mencapai US$ 10 juta," kata Ketua Riset Unggulan Strategis Nasional itu.
Awalnya, mesin Rusnas diciptakan untuk digunakan di pedesaan, terutama untuk mesin-mesin pertanian. Mesin yang dibuat menggunakan konsep chip and fixture dengan mesin konvensional ini juga diperuntukkan bagi microcar, perahu, dan mobil berbahan bakar gas. Eh, mesin ini ternyata bisa dicangkokkan ke city car GEA.
Disiapkan sejak 2002, hanya dalam setahun mesin Rusnas sudah bisa menyala. Tapi, kata Nyoman Jujur, tantang-an terbesar dalam pembuatan mesin ini memang tidak di situ. "Persoalan terbesarnya ada pada proses pengecoran logam untuk mesin," ujarnya.
Proses itu membutuhkan presisi tinggi agar silinder head dan blok mesin sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Ini susah dipenuhi karena bahan baku blok mesin itu logam aluminium yang mudah menyerap gas, mudah keropos, dan tingkat penyusutannya tinggi. Ini tak boleh terjadi karena, "Di dalam side head ada water jacket, ada air yang mengalir, dan di atasnya ada oli. Kalau ada yang keropos, keduanya bisa bercampur," ujar Nyoman Jujur.
Tapi tak ada logam yang lebih baik untuk menggantikan aluminium. Ini karena aluminium ringan dan power spesifiknya lebih tinggi. Setelah berkali-kali gagal, akhirnya para peneliti menemukan metode pengecoran aluminium yang pas. Menurut Nyoman Jujur, kuncinya ternyata ada pada casting layout. "Logam kan mengalir, terus cair, lalu memadat. Di saat memadat itu, kami mengatur agar kondisi pemadatan tidak menghasilkan keropos," katanya.
Ketika dites di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, mesin Rusnas itu lolos uji unjuk kinerja. Ini peng-ujian untuk mengoptimasi parameter di dalam mesin sehingga kinerjanya optimum. "Yang kami atur di mesin itu pembakaran tergantung dari input, campuran udara dengan bahan bakar," ujar Nyoman Jujur.
Rahasianya ada pada pengaturan lubang venturi pada diameter tertentu, sehingga bahan bakar terpakai optimum. Agar diperoleh proses paling sempurna di ruang bakar, waktu pengapian pun diatur sebelum titik mati atas. Ini karena kondisi campuran bahan bakar dan udara serta -timing injection emisi juga menentukan kapan waktu pengapian yang paling baik. "Karena pembakaran sempurna, emisi gas buang pun rendah," kata Nyoman Jujur.
Firman Atmakusuma, Akbar Tri Kurniawan, Hari Tri Wasono (Madiun)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
