Bandara Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu 28 Februari lalu. Inilah hari ketiga penantian pesawat caravan yang akan membawa Tempo, empat wartawan dari Jakarta, dan dua staf Bank Dunia meninggalkan kota di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut itu. Langit yang cerah pada pagi hari berubah gelap menjelang siang. Gugusan bukit yang memagari dua sisi bandara tak tampak karena terhalang kabut. "Jika puncak-puncak bukit itu sudah hilang, tak ada pesawat yang berani masuk Mulia," kata Kiki, agen maskapai Susi Air.
Di pinggang bukit sebelah kiri, dua bangkai caravan dibiarkan tersangkut. Pesawat milik pemerintah kabupaten itu nyasar ke bukit karena nekat mendarat ketika kabut tebal. "Itu pesawat yang membawa sekretaris daerah. Pilotnya tewas," kata Leonard Anthony, pegawai kabupaten yang menemani wartawan menunggu pesawat. Di landasan sepanjang satu kilometer dengan kemiringan 30 derajat itu, kegagalan mendarat dan lepas landas kerap terjadi. "Saya melihat pesawat yang akan saya tumpangi terbalik saat mendarat," katanya.
Menjelang pukul dua siang, gerimis menyapu kabut. Meski langit belum bersih, pucuk-pucuk bukit mulai tampak. Setengah jam kemudian, sirene -menara meraung menandakan ada pesawat akan masuk. Sebuah Merpati dari Nabire mendarat mulus menembus kabut tipis dan gerimis yang membasahi landasan. Posisi landasan yang miring cukup membantu pesawat berhenti dengan cepat. Di ujung landasan, pesawat berbaling-baling ganda itu dikerumuni puluhan warga yang menonton bongkar muat atau sekadar menyentuh tubuh pesawat.
Minyak goreng, beras, ikan laut, oli, ban motor, dan sebagainya -diturunkan dari perut pesawat berpenumpang 14 orang itu. Inilah penyebab harga kebutuhan pokok melambung. Setiap satu kilogram barang dikenai ongkos angkut Rp 20 ribu. Kurang dari setengah jam bongkar muat, pesawat sudah kembali dipenuhi penumpang dan bersiap berangkat menuju Jayapura. Beberapa calon penumpang yang tidak kebagian kursi hanya bisa menatap pesawat lepas landas, sambil berharap besok ada pesawat yang mampir.
Baru satu jam kemudian Susi Air mendarat. Warga kembali mengeru-muni pesawat. Sebagian sibuk mengangkut barang-barang milik penumpang, termasuk tas carrier Tempo. Mendekati pesawat sudah cukup membuat mereka senang. Mereka tak meminta uang atas jasa memasukkan tas ke pesawat. Tak ada pemeriksaan barang, apalagi pemindai. Dua pilot asal Australia hanya meneken manifes dan kembali ke kursi-nya. Ketika pesawat menuju landas pacu, semua melambaikan tangan. Pesawat mengudara selama satu jam menuju Ja-yapura.
Tiga hari penantian berakhir sore itu. Sejak Kamis, sekelompok wartawan-yang datang ke Puncak Jaya atas undangan Bank Dunia untuk melihat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri-hilir-mudik dari rumah dinas Wakil Bupati, yang dijadikan tempat menginap, lima kilometer dari bandara. Sejak pagi hingga sore tak ada pesawat singgah, padahal kursi seharga Rp 1,9 juta per penumpang sudah dipesan sejak jauh hari. "Belum ada kepastian apakah ada pesawat," kata Kiki, orang yang paling dicari calon penumpang.
Baru pukul tiga sore dipastikan tidak ada pesawat. Keesokan harinya, kabar buruk diterima calon penumpang. Pesawat disewa pejabat sehingga tidak singgah di Mulia. Sebuah Merpati dikabarkan telah berangkat dari Wamena, tapi kabut menyelimuti bandara sampai sore. Sekali lagi tak ada pesawat singgah. Pekan itu jalan darat tidak aman disinggahi karena terjadi penembakan di beberapa titik. Tempo yang berkunjung ke Distrik Ilu pun mendapat peng-awalan dari aparat. "Kami tak mau ambil risiko," kata seorang petugas.
Cuaca dan keterbatasan pesawat memang menjadi penyebab sulitnya orang bepergian. Apalagi saat kondisi ke-amanan di jalur darat memburuk. Selain Merpati dan Susi Air, hanya pesawat-pesawat milik misionaris yang menying-gahi kota-kota di Pegunungan Tengah, termasuk Mulia. Pengalaman lebih buruk bahkan dirasakan orang nomor satu Papua, Barnabas Suebu. "Saya pernah terjebak di Oksibil selama tujuh hari," katanya. "Kalau sudah begitu, kita hanya bisa pasrah menanti udara cerah dan penerbangan berikutnya".
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
