• Home
  • 13 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
    • Keranjang
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 13 April 2009

    Berkah Pindah Rumah

    Wajah Luke Wilkshire berbeda dengan pemain lainnya. Dia sedikit murung. Aneh, memang. Aranya tampak kontras dengan pemain lainnya yang tak henti tersenyum. Kemenangan atas Uzbekistan di kandang sendiri benarbenar melambungkan seluruh isi stadion ANZ Sydney. Kemenangan yang membuat tim ini seperti mendapatkan separuh tiket ke Piala Dunia di Afrika Selatan, tahundepan.

    Dari tiga pertandingan tersisa, mereka hanya butuh satu poin. Selain itu, mereka punya selisih gol yang gendut. Kepastian lolos sudah bisa mereka dapatkan dalam pertandingan melawan Qatar-yang sudah tertutup peluangnya-di Doha, awal Juni kelak. Satu yang bisa menggagalkannya, bila semua pemainnya mendadak hilang -ingatan dan membuat gol ke gawangnya sendiri.

    Rupanya itulah yang membuat Wilkshire sedih. Garagara mendapatkan kartu kuning dalam pertandingan itu, dia absen dalam pertandingan penentuan kemenangan pada Juni nanti. Pemain Dinamo Moskow ini memang apes. Konsentrasinya buyar. Salah satu sebabnya, dia mengaku kelelahan. "Perjalanan tidak pernah berhenti. Tapi itulah hidup pemain profesional di Eropa," katanya.

    Menempuh perjalanan panjang adalah menu wajib bagi hampir semua pemain sepak bola nasional Australia. Maklum, sebagian besar dari mereka merumput di daratan Eropa-dan itu sudah menjadi semacam brevet masuk ke tim nasional. "Mohon maaf, hanya pemain yang bermain di Liga Eropa yang saya pakai," ujar Pim Veerbek, pelatih Australia. Pemain lokal bukannya tidak ada yang bagus. Tapi, kata pelatih asal Belanda ini, mereka belum memenuhi standar untuk perjuangan meraih tiket ke Afrika Selatan 2010 nanti.

    Meski kalah populer dan juga takluk prestasi dibandingkan tim nasional rugby-yang terbilang papan atas, beberapa kali Australia mendapat gelar juara dunia-penampilan tim Be-nua Kanguru ini kerap mendapat sorotan dari penggemarnya di sana. Mereka tak menuntut tim nasional sepak bola menyamai prestasi tim rugby, tapi paling tidak bisa sampai mencicipi Piala Dunia.

    Alhasil, Veerbek, bekas pelatih Korea Selatan, tak bisa bertingkah lain kecuali tega dan juga tak mau kompromi. Beban di pundaknya teramat berat. Lima belas bulan silam, dia menerima pekerjaan dari Federasi Sepak Bola Australia dengan target Socceroos-julukan tim ini-lolos ke Piala Dunia. Beruntung, Negeri Kanguru punya stok pemain di klub Liga Eropa.

    Sepak bola negeri be-nua ini memang terbilang unik. Olahraga ini tumbuh bersama dengan kedatangan orangorang dari luar Australia ke tanah ini sejak awal abad ke20, yang kemudian disusul dengan maraknya migrasi dari negaranegara Eropa Timur selepas Perang Dunia Pertama. Revolusi sosialis. Australia memang dikenal sebagai tanah pelarian, juga tanah harapan.

    Seiring dengan kedatangan para pendatang ini, sepak bola pun berkembang. Mereka membuat klub sesuai dengan asal negara. Imigran dari negeri Czech membentuk klub Prague, orang Yahudi punya klub Hakoah, begitu juga dengan pendatang lainnya. Mulanya mereka bermain sepak bola hanya untuk menambah erat pergaulan. Tapi ternyata dari mereka pula lahir pemainpemain yang kini ikut mewarnai sepak bola negeri ini.

    Akibatnya, pada zaman kiwari, sepak terjang para pemain berkualitas ini justru membuat Australia kerap kehilangan pemain. Pasalnya, mereka memilih bermain untuk klub di negara asalnya atau di negara Eropa. Tindakan ini tak bisa disalahkan juga, karena sepak bola di Australia selama ini dianggap kelas dua.

    Satu contoh adalah Christian Vieri, yang tumbuh di Australia tapi kemudian membela Italia. Berbeda dengan saudaranya, Max Vieri, yang memilih membela Australia. Tapi kemampuannya memang di bawah Christian.  Pemain lainnya adalah Craig Johnston, yang memiliki orang tua Australia tapi kemudian malah membela Inggris.

    Namun benua ini masih ketiban berkah. Mark Viduka, misalnya. Dia memilih tetap menjadi pemain Australia meski bisa saja bermain untuk tanah nenek moyangnya, Kroasia. Begitu pula Kiper Mark Schwarzer. Dia memiliki darah Jerman. Harry Kewell berdarah Inggris. Merekalah yang menjadi tumpuan Veerbek.

    Meski telah memiliki pemain terbaik dari yang terbaik pun, Veerbek masih tak percaya diri. Di babak pertama penyisihan dia stres. Babak kedua pun begitu. Veerbek menjadi bulanbulanan media. Pasalnya, gaya permainannya yang cenderung berbeda dengan Guus Hiddink-pelatih tim nasional Rusia yang berhasil membawa negara tersebut ke semifinal Piala Eropa 2008-yang lebih agresif.

    Untung, nasib baik kemudian berpihak kepadanya. Kemenangan atas Uzbekistan dua pekan lalu membuatnya bernapas lega. "Kita telah mendapatkan es dalam botol, tapi botol itu belum pecah," kata Ben Buckley, Ketua Federasi Sepak Bola Australia, menanggapi kemenangan atas Uzbekistan itu.

    Veerbek tentu saja diuntungkan dengan perubahan yang terjadi. Ini adalah berkah dari "pindah rumah". Australia, yang tiga kali gagal melaju ke Piala Dunia, sebelumnya adalah raja di kawasan Oseania, yang terdiri dari negaranegara kecil di Lautan Pasifik. Namun, karena kawasan ini sepi negara dan kualitasnya rendah, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mengambil keputusan, siapa pun juara di kawasan ini harus diadu dengan tim sisa dari kawasan Amerika Latin.

    Nah, tiga kali sudah mereka kandas. Pada 1994, Australia kalah dari Argentina, yang diulangi-nya pada 1998. La-lu dalam Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang, mereka takluk melawan Uruguay. Beruntung, pada 2006 tim kanguru bisa menang dari Uruguay setelah melalui adu pe-nalti.

    Karena selalu terbentur dinding kekalahan untuk mencapai peringkat dunia itulah, pengelola tim Australia memeras otak agar langkah mereka bisa mulus. Satusatunya jalan adalah "pindah rumah". Berdiam diri di Konfede-rasi Pasifik dan Oseania jelas tak menguntungkan. Biarpun juara di sana, jalan menuju Piala Dunia tetap saja sulit karena mereka harus berhadapan dengan wakil dari Amerika Latin.

    Pindah rumah ke Eropa? Secara teoretis tak masalah. Toh, pemain tim Australia lebih banyak berada di sana. Jelas menguntungkan, karena tidak perlu ada perjalanan jauh seperti dialami Wilkshire. Tapi pinangan itu ditolak. Hingga akhirnya, jalan yang terbuka adalah bergabung dengan Konfederasi Sepak Bola Asia. Australia sungguh beruntung bisa menyelundup ke Asia, karena pesaingnya relatif lebih enteng. Palingpaling kesulitannya adalah perjalanan panjang para pemain, sehingga mereka kelelahan.

    Namun, untuk masuk ke Asia juga tidak mudah. Tidak ada negara berpenduduk bule di Asia. FIFA sendiri awalnya tidak setuju dengan langkah itu. Beberapa pertemuan awal pun kerap menemui kegagalan. Satu langkah cerdas adalah pemberitahuan dari Konfede-rasi Oseania yang mengizinkan mereka hengkang.

    Hingga akhirnya, dalam sebuah pertemuan di Tokyo, Maret 2005, Federasi Sepak Bola Australia mendapatkan jalan lempang. "Masuknya Australia akan membawa perkembangan yang baik bagi sepak bola Asia," kata Mohammed Bin Hammam, Ketua Konfe-derasi Asia.

    Belakangan FIFA pun menyetujui. Socceroos resmi pindah rumah pada 1 Januari 2006. "Kalau konfederasi Asia dan Oseania tak ada masalah, kami tak bisa mencegahnya," kata Sepp Blater, Ketua FIFA.  Langkah yang tidak keliru. "Asia putih" ini pun berjaya.

    Kini target mereka tak hanya sampai di Piala Dunia, tapi juga membuat prestasi yang lebih bagus. Ujungujungnya berguna bagi mereka yang ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2018.

    Irfan Budiman


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Televisi

Tiga Hari Tukar Nasib

Buku

Cerita-cerita dari Dasar Sumur

Keranjang

Satu Jam Saja

Album

MENINGGAL
Abdullah Zainie

Seni Rupa

Seni Patung Baru yang Melunakkan

Seni Rupa Berbingkai Perempuan

Catatan Pinggir

Politik-P

Politik-P

Fotografi

Dua Sisi Chow Yun Fat

TEMPO|interaktif

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif