• Home
  • 13 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
    • Keranjang
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 13 April 2009

    Seni Patung Baru yang Melunakkan

    Pematung Yuli Prayitno berpameran tunggal di Nadi Gallery, Jakarta, dengan tema "I Love...". Dengan 24 karya, inilah pameran patung yang berwarna-warna dan berupa-rupa. Sebagian besar karya direntang, digantung, atau direkatkan pada dinding layaknya lukisan, sebagian lain digeletakkan di atas lantai, meski ada juga satu di antaranya yang ditempatkan di atas sebuah setumpu sebagaimana layaknya karya-karya trimatra. Pada sudut lain, tembok ruang pamer dijebol atau mungkin dibangun khusus untuk menempatkan beberapa karya yang menyamarkan diri seperti bentuk sebuah jendela.

    Lebih dari satu dekade belakangan kecenderungan -menginstal karya semacam ini telah menggejala di kalangan sejumlah pematung kita. Mereka merespons ruang pamer dengan lebih aktif dan progresif, sehingga tata letak, sebagaimana pekerjaan seorang arsitek interior, menjadi -salah satu pusat perhatian penting sang pematung.

    Di antara mereka ada yang menyebut kecenderungan ini sebagai upaya keluar dari konvensi seni patung. Tapi, barangkali, ini lebih tepat disebut sebagai tradisi seni patung baru masa kini. Sebab, instal-menginstal adalah praktek tak terhindarkan dari musabab pekerjaan dalam seni patung itu sendiri. Dan Yuli, 35 tahun, lulusan seni patung Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 2001, merupakan satu di antara mereka yang progresif itu.

    Dorongan untuk keluar dari konvensi ditandai pula dengan karya-karya yang tak terikat hanya pada satu-satunya kecenderungan seni patung, juga tak -terikat pada satu media tertentu. Di masa lalu, hal ini sebenarnya lebih karena merupakan satu tradisi, praktek seni patung melekat dengan media keras-kayu, batu, dan logam. Di sam-ping itu, melekatnya teknik yang sudah sangat lanjut-pahat-memahat, cetak-mencetak, dan pengecoran. Tradisi dan teknik itu menumbuhkan citra bahwa seni patung adalah sesuatu yang serba masif. Gerakan keluar dari konvensi ini mencoba mencairkan citra keras dan kaku itu.

    Kita lihat pada pameran yang berlangsung 1-13 April ini, misalnya, pelbagai media melimpah-ruah disajikan: resin, kayu, kaca, cermin, lampu, karet silikon, beludru, plastik mainan anak-anak, aluminium, baja antikarat, dan barang-barang temuan yang terbentuk oleh proses alam ataupun industri. Di sini, praktek lama dalam seni patung hanya ditempatkan selaku rujukan apabila diperlukan, bukan keharusan. Bahkan bentuk yang pernah menjadi faktor utama di masa lalu, dalam karya-karya Yuli, justru menjadi sesuatu yang biasa saja. Sebab, bentuk pada karya-karyanya hanya menirukan apa yang ada di depan mata, dan apa yang ada dalam -ingatan banyak orang, seperti cabai, daun pisang, daun telinga, kursi, keran air, dan batang korek api.

    Yang terbanyak dan paling mencolok dalam pameran ini adalah penjelajahan Yuli ke bentuk-bentuk kitsch, terutama lambang hati yang umum di mana-mana dimaknai banyak orang selaku tanda cinta, seperti dalam roman picisan. Mendekatkan karya dengan pelbagai ikon dan citra dalam kehidupan sehari-hari memang makin merebak menjadi ciri pada karya-karya perupa masa kini. Maksudnya, tentu saja, untuk memprovokasi dan menarik perhatian sebanyak mungkin orang pada gagasan sang perupa. Kemungkinan lain: bisa jadi karena membanjirnya pelbagai citraan selaku produk budaya masa kini.

    Makna berlapis-lapis dengan demikian melekat, misalnya, pada It's Melting Game, In the Name of, Hello Hero, dan Homo Homini Lupus. Semuanya merupakan karya yang digarap setahun terakhir. Karya-karya itu terbuat dari mainan plastik yang menggambarkan sosok tentara. Produk seni rupa rendah atau kitsch yang berwarna-warni ini dapat dibeli di pinggir jalan atau di toko mainan anak-anak. Yuli mendekonstruksi mainan yang mengandung erat citra hero, kekerasan, dan kuasa itu menjadi karya, misalnya, berbentuk logo Superman, yang sangat populer di kalangan anak-anak.

    Mainan plastik yang sama dibangun pula untuk karya-karya berbentuk lambang hati. Di situ, Yuli menciptakan paradoks makna hero, kuasa, dan kekerasan dengan makna cinta di seberangnya yang melunakkan.

    Karya lain yang cukup menarik adalah A Long Desire from This Corner (2008/2009), media campur, berukuran 80 x 440 x 25 sentimeter. Pada karya ini, Yuli membangun citra sebentuk cabai merah. Ia tidak menirukan bentuknya yang realis, tapi hanya menangkap struktur utama benda itu. Struktur merupakan unsur utama dalam logika karya seni patung. Bentuk tangkai yang terbuat dari polyester resin disambung dengan material kasur memanjang berwarna merah. Bidang-bidang dan garis-garis putih memanjang pada kain kasur itu diasosiasikan selaku serat pada cabai.

    Banyaknya media yang dipakai merupakan suatu kerumitan tersendiri. Namun Yuli mencoba mengatasi semua itu satu per satu. Sebagian diselesaikannya dengan baik, sebagian yang lain tampak masih membutuhkan waktu dan upaya lebih besar. Karyanya yang berjudul Burn My Heart (2006/2009), media campur, berukuran 100 x 100 x 17 sentimeter, merupakan salah satu contoh bagaimana Yuli dengan teliti dan intens menyelesaikan pekerjaan teknis tanpa membuat karyanya terjebak menjadi sebuah kerajinan. Ia mengenali karakter medianya, lalu menyusun satu demi satu batang-batang korek api itu hingga membentuk tanda hati yang, salah satu bagiannya, tampak menghitam habis terbakar.

    Karakter yang dapat dibedakan ketika ia menggarap karya Lazy Chair (2006/2009), terbuat dari karet silikon, berukuran 120 x 45 x 20 sentimeter. Karya ini mencitrakan kursi dengan empat buah corak, digantung pada dinding. Ia tidak membuat atau meniru bentuk kursi malas yang kita kenal, tapi memanfaatkan sifat elastis media yang dipakainya, untuk menggambarkan kesan malas dan humor.

    Atau kejutan pada kesederhanaan Black Board (2008/2009), karya terbuat dari bekas papan tulis, berukuran 117 x 190 sentimeter. Pada sebagian papan itu Yuli menggambar separuh lambang hati, dan menggurat sebagian lain dengan alat yang tajam sehingga terlihat permukaan kayu yang kecokelatan, kontras dengan sisa papan yang masih hitam. Di sampingnya ia menulis dengan huruf tertata rapi: "black board n(c), board used in schools for writing."

    Keragaman, kesegaran, dan kejutan baru yang tampak pada karya-karya Yuli menegaskan bahwa keluar dari sesuatu yang telah mapan justru membuka peluang menuju jalan seni patung baru.

    Asikin Hasan


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Televisi

Tiga Hari Tukar Nasib

Buku

Cerita-cerita dari Dasar Sumur

Keranjang

Satu Jam Saja

Album

MENINGGAL
Abdullah Zainie

Seni Rupa

Seni Patung Baru yang Melunakkan

Seni Rupa Berbingkai Perempuan

Catatan Pinggir

Politik-P

Politik-P

Fotografi

Dua Sisi Chow Yun Fat

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif