Pria berewok dan penuh tato bunga-bunga itu terkulai. Sebatang kuas berlumur cat tertancap di dadanya. Tangan kanannya menyentuh palet dan tube yang isinya berceceran. Banyak yang merubung. Ada yang menangis, ada yang menyunggingkan senyum. Pria itu Dewa Seni yang Bunuh Diri, lukisan karya Wara Anindyah.
Di sudut lain, ada sebuah tas kerja wanita berbahan perunggu. Dari dalamnya menyembul kitab suci Al-Quran, harian The Wall Street Journal, dan kacamata. Kita pun mencoba membayangkan karakter si pemilik tas. Bisa jadi ia wanita intelek yang religius. Mungkin juga tidak. Itulah Read, kreasi Astari, yang mengembuskan pesan: apa pun yang melekat pada diri seseorang bisa jadi cuma pajangan belaka.
Kedua karya seni itu dipamerkan dalam 10 Perupa Perempuan di Galeri Salihara, Jakarta Selatan, 3-17 April. Selain Wara dan Astari, seniman yang tampil adalah Ay Tjoe Christine, Arahmaiani, Ayu Arista Murti, Dolorosa Sinaga, Mella Jaarsma, Theresia Agustina, Tita Rubi, dan Yani Mariani.
Kegiatan itu bagian dari rangkaian acara Enam Pekan Perempuan untuk merayakan Hari Perempuan Sedunia, 8 Maret, dan Hari Kartini, 21 April. Dari sepuluh seniman yang ambil bagian, beberapa adalah pentolan angkatan 1980-an dan 1990-an. Hasil kreasi mereka memperlihatkan dinamika dan perubahan dari masa ke masa. Misalnya Dolorosa Sinaga dan Astari. Sebagian lain mewakili generasi 2000-an, antara lain Ay Tjoe, Ayu Arista Murti, dan Theresia. Mereka anak-anak muda yang karyanya banyak dibicarakan di era ini.
Acara itu, seperti disebutkan Asikin Hasan, salah satu kurator pameran, -memang mencoba merekam secara acak dinamika seni perempuan Indonesia masa kini. Ia menyatakan, selama ini, dunia seni rupa modern Tanah Air didominasi kaum lelaki. Memang, -sebetulnya, pada 1930-an pernah ada pelukis Emiria Sunassa. Tapi karya-karyanya tak terdokumentasi dan tak pernah muncul di pameran, galeri, atau museum.
Pada 1960-an dan 1970-an, wanita-wanita pelukis mulai aktif berpameran, semisal Rulijati, Kustijah, Sriyani, dan Kartika Affandi. Ada yang lulus-an sekolah seni rupa di Bandung dan Yogyakarta, ada pula yang otodidak. Tapi mereka hanya terbatas di seni lukis. Baru belakangan Indonesia mengenal pematung perempuan: Rita Widagdo. Lalu diikuti Dolorosa Sinaga, Edith Ratna, dan Iriantine Karnaya.
Menapaki 1980-an, makin banyak bidang seni rupa lain yang dijajaki wanita. Bukan hanya seni lukis, melain-kan juga grafis, keramik, instalasi, seni rupa pertunjukan, dan seni rupa vi-deo. Sebut saja Arahmaiani, 47 tahun. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini termasuk pelopor yang memperkenalkan seni rupa pertunjukan sebagai bagian seni rupa kontemporer Indonesia. Ia menggelar kreasinya, Kecelakaan I dan Manusia Koran, di beberapa sudut Kota Bandung, Jawa Barat. Wanita yang -telah tujuh kali berpameran tunggal ini dianggap berhasil memasukkan unsur kehidupan sehari-hari dalam karyanya.
Dunia seni rupa perempuan Indonesia makin berkembang. Seorang perupa tak hanya membatasi satu medium tertentu. Misalnya Mella -Jaarsma, 48 tahun, perupa dan kurator yang-bersama suaminya, Nindityo Adipurnomo-mendirikan Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta. Wanita berkebangsaan Belanda ini sudah 25 tahun tinggal dan berkarya di Indonesia sehingga lebih diakui sebagai perupa lokal. Ia berekspresi pada seni instalasi, lukis, dan seni rupa pertunjukan. Meski di-salurkan pada medium yang beragam, karya-karya wanita kelahiran Emmelord, Belanda, ini mengembuskan semangat yang sama: pengalaman personal.
Generasi yang lebih muda berbeda ekspresi seninya. Theresia Agustina menampilkan Fluorescency of Me. Inilah patung wanita bertangan delapan dari bahan phosphor resin. Meski ide wanita multitasking tak benar-benar baru, tetap saja karya Tere ini terasa segar. Seniman 28 tahun ini menjadikan rekaman kegiatan pribadinya sebagai sumber karya. Ibu bertangan banyak ini berdiri di tumpukan buku. Tangan utamanya memegang bayi dan botol susu. Sedangkan tangan-tangan lain menjulurkan sapu, pensil, telepon seluler, alat rol rambut, teropong, dan bible. Semua menyiratkan makna mendalam, satu pernyataan mengenai keperempuanan.
Perwujudan pengalaman personal macam ini memang khas perempuan. Mereka dengan intim bisa menjelajahi keperempuanan sebagai tema. Mungkin sengaja, mungkin juga tidak. Tapi inilah faktanya: "saya seorang perempuan".
Seni rupa sejatinya tak mengenal gender. Meski ada anggapan, misalnya, mematung adalah kegiatan "maskulin" dan menenun "feminin", sebenarnya medium seni tak punya jenis kelamin. Tapi, dalam prakteknya, apalagi di masa silam, perupa perempuan memang langka. Hendro Wiyanto, kurator dan pengamat seni rupa, menyebutkan sejak 1960-an di Amerika Serikat seni rupa perempuan berkembang sebagai kritik terhadap dominasi pria di dunia itu. Gerakan ini berusaha menepis anggapan bahwa seni hanya milik laki-laki dan hanya kaum Adam-lah yang bisa menghasilkan karya masterpiece.
Situasi di Indonesia, menurut Hendro, tak sama dengan di Negeri Abang Sam. Perupa perempuan bermunculan lebih sebagai aktivitas individu, bukan berhimpun menjadi suatu gerakan. Ia mencontohkan perupa (almarhumah) I Gusti Kadek Murniasih. Hidup di lingkungan seni di Bali, sang seniman belajar melukis secara otodidak. Di atas kanvas, ia pun menorehkan pengalaman-pengalaman kewanitaannya tanpa beban. Maka lahirlah lukisan-lukisan yang mengeksploitasi keintiman dan seksualitas. Ia pun dilabeli "radikal" karena membongkar tabu.
Awalnya, sebagian besar galeri enggan memamerkan karya-karya Murniasih. Alasannya beragam: lukisan itu terlalu erotis, tidak layak dipajang, nama si seniman jarang muncul. Lama-kelamaan Murniasih mulai berkibar melalui pameran-pameran tunggal.
Hendro menilai ada yang berbeda dari karya wanita itu: ia menorehkan pemberontakan di kanvas dari kacamata seorang perempuan. Tanpa beban, wanita Bali itu sesuka hati melukis berdasarkan pengalaman pribadinya. Ia tak melakukannya dengan se-ngaja sebagai sebuah gerakan sosial, melainkan hanya ekspresi pribadi seorang pe-rempuan.
Kesadaran pribadi semacam itu juga yang ada pada Dolorosa Sinaga. Meski karyanya banyak menyuarakan kritik sosial, Hendro melihatnya bukan sebagai sebuah gerakan perupa perempuan, melainkan lebih pada ekspresi individu. Dolorosa banyak bergaul dengan kelompok-kelompok kritis di luar seniman. Hasil persinggungan itulah yang kemudian muncul dalam karya-karyanya.
Kritikus seni rupa Sanento Yuliman dalam tulisan Nuansa Putri Vs Kuasa Lelaki melambungkan pertanyaan mendasar: adakah seni rupa lelaki dan perempuan? Sanento menulis artikel itu untuk menyorot pameran kelompok perupa perempuan di Taman Ismail Marzuki, 1987. Sanento-kini sudah almarhum-mengungkapkan sulit mengatakan apanya yang khas perempuan dari pameran itu, selain penciptanya.
Dua puluh dua tahun berlalu sejak pertanyaan itu didengungkan. Situasinya kini sudah jauh berbeda. Sepuluh perupa perempuan berhimpun di Salihara. Tak lagi re-levan menanyakan "apanya yang khas perempuan". Karya-karya itu sudah memberikan jawabnya sendiri.
Andari Karina Anom
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
