• Home
  • 13 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
    • Keranjang
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 13 April 2009

    Surat Pembaca

    Nasib Herman

    MEMBACA Catatan Pinggir majalah Tempo edisi 6-12 Maret 2009 tentang "Herman" benar-benar mengerikan. Anak-anak muda pejuang idealis yang masih murni dengan mudah dan gampang diculik, disiksa, serta dilenyapkan. Otak penculikan sampai kini belum ditemukan.

    Lebih mengerikan lagi bila orang yang dikenal Pak Goenawan Mohamad bertengger di poster-poster calon legislator, calon utusan daerah, calon presiden atau wakil presiden terpilih dalam pemilihan umum. Apa jadinya jika Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercinta ini dipimpin oleh penculik? Apakah sejarah akan terulang lagi?

    BUDI MULYONO WIBOWO
    Jalan Kesehatan, Jakarta Selatan

    Tanggapan Tulisan Situ Gintung

    SAYA keberatan dengan tulisan majalah Tempo edisi 6-12 April 2009 berjudul "Menggunting-gunting Tanah Situ Gintung" dan pada halaman 48 yang mengutip pernyataan saya. Tidak benar saya menyatakan: "...seluruh lahan yang kini menjadi kompleks perumahan dosen UI Ciputat merupakan pemberian Presiden Soekarno pada awal 1960-an...."

    Saya hanya mengatakan bahwa dahulu ada rencana membangun kampus Universitas Indonesia di Ciputat yang awal pembangunannya sempat diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dalam perkembangannya, rencana tersebut tidak terealisasi dan mungkin lahan itu kemudian digunakan sebagai kompleks perumahan dosen UI.

    Saya menyarankan hal ini sebaiknya ditanyakan kepada narasumber yang kompeten, yakni dosen-dosen senior atau pimpinan UI di masa lalu. Ketika menjadi salah satu pimpinan UI, bidang tugas saya tidak berkaitan dengan soal aset.

    ARIE SOESILO
    Kampus UI, Depok

    Terima kasih atas penjelasan Anda. Kami memperoleh informasi yang sama mengenai hal itu dari beberapa sumber di Universitas Indonesia.

    Partai Solid Versus Bajing Loncat

    DARI liputan khusus majalah Tempo edisi 30 Maret-5 April 2009 tentang Pemilu 2009 bisa disimpulkan ada dua macam partai: partai solid dan partai bajing loncat. Yang menarik, sampul majalah menyiratkan hanya empat partai yang menjadi jawara. Kalau boleh saya urutkan, pertama mungkin Partai Golkar, lalu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Demokrat, juga Partai Persatuan Pembangunan.

    Satu lagi yang saya suka dari ulasan tim redaksi, yaitu peranan Dr M. Natsir, Bang Imad, dan Dr Kuntowijoyo dalam pembibitan aktivis. Begitu pun sisipan diagram warna-warna ideologi berbagai partai dari Orde Lama hingga Orde Reformasi. Setidaknya ada tiga warna ideologi: abangan (marxis, sosialis, dan marhaenis), kuningan (nasionalis), dan hijauan (islamis). Jika disederhanakan lagi, maka menjadi dua, yakni sekularisme (abangan dan kuningan) dan Islam (hijauan).

    Sebagai pembaca setia, saya berharap Tempo sudi membuatkan edisi khusus mengenai lumpur Lapindo, Komisi Pemberantasan Korupsi, Munir, atau kalau bisa gerakan Islam radikal di era reformasi.

    FADH AHMAD ARIFAN
    Mahasiswa UIN Malang, Perumnas Sawojajar, Malang

    Terima kasih atas usulannya.

    Busway Semakin Tak Keruan

    PENGGUNAAN jalur bus khusus di Jakarta telah berlangsung empat tahun. Alih-alih semakin tertata, transportasi massal ini berkembang ke arah sebaliknya. Jalur khusus yang dibangun dengan biaya ratusan miliar ini seolah tak berguna, karena kendaraan nonbus dibebaskan masuk. Hanya Koridor Blok M-Kota yang steril dari pelanggaran itu.

    Idealnya, penataan transportasi massal akan membuat masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Tujuan ini harus didukung banyak hal. Selain pembangunan sarana semacam jalur khusus, juga diperlukan konsistensi dari aparat untuk memaksa pengguna jalan berlaku tertib: busway hanya untuk bus.

    LISANA SHIDQIN ALIYYA
    Jatipadang Utara, Jakarta Selatan

    Cinta Fitri Ajak Kawin Muda

    OLEH sebuah lembaga penganugerah, Cinta Fitri ditetapkan sebagai sinetron terfavorit pilihan pemirsa. Terlepas bagus atau tidak, saya risi jika menonton sinetron ini. Sebab, para pemainnya seperti Sheerin Sungkar, Donita, Adly Fairus, Nuri Maulida, dan Teuku Wisnu tidak cocok memerankan karakter tokoh-tokohnya. Sebagai pasangan suami-istri, mereka masih "kecil". Saya khawatir sinetron ini menjadi inspirasi para remaja untuk kawin muda.

    Pada 1980-an, di jalan-jalan utama Pekanbaru, Riau, banyak papan billboard bertuliskan: "Mendahulukan karier daripada berumah tangga merupakan sumbangsih remaja terhadap pembangunan bangsa." Di sudut-sudut Jakarta juga pernah terbaca tentang Panca Tekad Pemuda Jakarta. Pertama: Remaja Jakarta tidak akan menikah sebelum berusia 25 tahun. Jadi, sinetron jangan memberi inspirasi remaja untuk kawin muda.

    PANDU SYAIFUL
    Guru SMP Cendana, Riau

    Perilaku Negatif Bersepeda Motor

    WALAUPUN kurang memenuhi kenyamanan dan keselamatan, sepeda motor menjadi sarana aktivitas sebagian besar penduduk Jakarta. Ini karena pemerintah tidak mampu menyediakan sarana angkutan umum yang murah, aman, dan nyaman. Saking banyaknya pemakai, sering menimbulkan perilaku berkendara yang negatif. Pelanggaran paling sering terjadi adalah menerobos lampu merah, larangan berbelok, putar balik, dan masuk.

    Walau tak semua pengendara sepeda motor demikian, jelas pelanggaran itu berbahaya bagi diri sendiri, juga orang lain. Menurut catatan polisi, rata-rata 10 orang meninggal setiap hari karena kecelakaan sepeda motor di jalanan Jakarta. Untuk itu, perlu penertiban dan penegakan hukum secara tegas. Juga mesti dibina dengan memperketat penerbitan surat izin mengemudi (SIM). Jangan lagi ada yang mendapat surat itu dengan menyogok aparat.

    SAMESTO NITISASTRO
    Margonda, Depok

    Kampanye Erotis

    DALAM kampanye, keterlibatan penyanyi di panggung untuk mendampingi para orator tentunya sah-sah saja. Tapi, bila artis yang tampil berpakaian minim, tentu membuat tanda tanya besar. Para penyanyi dangdut yang berpakaian "ala kadarnya" berjoget aduhai di hadapan ratusan peserta. Para penonton laki-laki pun melakukan aksi tidak sopan terhadap penonton perempuan.

    Pemandangan ini terlihat di beberapa stasiun televisi. Setelah melihat tayangan itu, saya resah dan khawatir. Saya berharap Indonesia terbebas dari virus politik erotis yang merusak moralitas bangsa. Sungguh ironis. Para anggota Dewan yang mayoritas menyepakati Undang-Undang Anti-Pornografi tiba-tiba menggunakan pertunjukan dangdut erotis untuk menarik dukungan. Bagi saya, ini merupakan sebuah pelecehan atas nama politik.

    T. DAUD YUSUF
    Bukit Duri Selatan, Tebet, Jakarta Selatan

    Ciptakan Pemilu Damai

    SEBELUM pelaksanaan pemilu, sejumlah partai politik, Komisi Pemilihan Umum, dan Panitia Pengawas Pemilu menandatangani kesepakatan agar pemilu berlangsung tertib serta aman. Berarti, semua partai harus bertanggung jawab bila timbul permasalahan.

    Pemilu merupakan agenda demokrasi yang sangat penting untuk melanjutkan reformasi. Bila pelaksanaannya gagal, dipastikan akan membawa petaka. Maka, pemilu damai menjadi harapan seluruh masyarakat. Oleh karena itu, kita menyerukan kepada para pemimpin untuk tidak berseteru. Tidak ada artinya kalau memenangkan pemilu tapi persatuan dan kesatuan terancam.

    MILA
    Kukusan, Depok, Jawa Barat

    Jangan Biarkan Kami Golput

    PEMILIHAN umum anggota legislatif baru saja usai. Yang menarik, dari tiga kali pemilu di era reformasi, baru kali ini kami tidak diundang memilih. Ternyata beberapa tetangga kami pun tidak mendapat undangan. Bahkan pada pagi menjelang pemungutan suara dibuka, beberapa orang masih mencari tahu keberadaan mereka di daftar pemilih. Hasilnya nihil. Ini suatu ironi karena Komisi Pemilihan Umum dengan lantang menyatakan masalah daftar pemilih tetap yang digugat banyak pihak telah divalidasi.

    Bagi Komisi, masalah ini mungkin ditanggapi dengan sederhana. Mereka menyalahkan masyarakat yang tidak jauh-jauh hari memastikan namanya masuk daftar pemilih. Ini sikap lari dari tanggung jawab. Tidak lama lagi dilaksanakan pemilihan presiden. Apakah Komisi tetap membiarkan kami golput? Komisi Pemilihan Umum jangan hanya berslogan lima menit untuk lima tahun.

    M. SYUKRI
    Taman Kedaung, Pamulang, Tangerang

    Atribut Parpol di Masa Tenang (1)

    UNDANG-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu mengatur secara tegas bahwa atribut kampanye partai politik harus bersih menjelang H-1. Namun, aturan tersebut dilecehkan. Buktinya, di masa tenang banyak atribut yang masih terpasang seperti Jalan Raya Kalimalang, sekitar Pasar Sumber Arta Bekasi, dan wilayah Bekasi lainnya.

    Para calon anggota legislatif yang sebelumnya sibuk memasang serta menempel poster atau baliho dan alat peraga kampanye lainnya terkesan lepas tangan. Ini tidak memberikan contoh baik bagi calon pemilih. Bila yang kecil saja tidak ada niat bertanggung jawab, bagaimana mempertanggungjawabkan amanah bila terpilih. Ini juga menunjukkan rendahnya kualitas calon dan sumber daya partai. Atau, sengaja dibiarkan sehingga dapat digunakan untuk melakukan "serangan fajar".

    RUSTAM ANDI
    Harapan Baru, Bekasi, Jawa Barat

    Atribut Parpol di Masa Tenang (2)

    MEMASUKI masa tenang selama tiga hari lalu, peserta pemilu dituntut tidak berkampanye. Maka, atribut partai yang dipasang sepanjang ruas jalan harus dicabut. Kenyataannya, beberapa atribut masih terlihat. Ketika memasang berbagai spanduk dan poster, partai-partai berebut lokasi. Tempat tersulit pun dijangkau. Namun, saat penertiban, tidak ada inisiatif untuk membersihkannya.

    Partai politik jangan hanya mementingkan partainya tanpa mau mempedulikan keindahan lingkungan. Jika saat ini saja mereka tidak menaati peraturan, bagaimana kita berharap mempunyai wakil yang berkualitas dan bertanggung jawab.

    MUSTOFA
    Cilandak, Jakarta Selatan


    Ralat

    PADA majalah Tempo edisi 6-12 April, dalam artikel "Indonesia dari Kamera Linda" tertulis: "Linda juga memperkaya tulisannya dengan informasi guru besar Soetandyo Wignyosoebroto...." Seharusnya Linda memperoleh informasi dari Dr Lukas Mangindaan. Mohon maaf atas kekeliruan ini.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Televisi

Tiga Hari Tukar Nasib

Buku

Cerita-cerita dari Dasar Sumur

Keranjang

Satu Jam Saja

Album

MENINGGAL
Abdullah Zainie

Seni Rupa

Seni Patung Baru yang Melunakkan

Seni Rupa Berbingkai Perempuan

Catatan Pinggir

Politik-P

Politik-P

Fotografi

Dua Sisi Chow Yun Fat

TEMPO|interaktif

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif