KEUANGAN
Sukuk Global US$ 650 Juta
PEMERINTAH meluncurkan surat berharga syariah negara atawa sukuk valas, 23 April pekan ini. Obligasi "Indo-sukuk Al Ijarah" bernilai US$ 650 juta ini akan dipakai untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009. Juga sebagai upaya diversifikasi instrumen pembiayaan. "Untuk memperluas basis investor sukuk di pasar internasional," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto, Jumat pekan lalu.
Sukuk perdana Indonesia ini yang terbesar dalam mata uang dolar Amerika-di luar negara-negara Teluk-dan menjadi benchmark sukuk berdenominasi dolar Amerika di Asia sejak 2007. Indo-sukuk berjangka waktu 5 tahun, dan akan jatuh tempo pada 23 April 2014. Surat berharga ini memiliki tingkat bunga tetap 8,8 persen per tahun, dan dibayarkan dua kali setahun, yakni setiap 23 April dan 23 Oktober.
Distribusi investor secara geografis meliputi investor muslim dan Timur Tengah 30 persen, domestik 8 persen, Asia lain 32 persen, Amerika Serikat 19 persen, dan Eropa 11 persen. Berdasarkan jenis investor, fund manager 45 persen, perbankan 37 persen, retail 14 persen, serta asuransi dan dana pensiun 4 persen.
PERINDUSTRIAN
Dugaan Kartel Semen
KOMISI Pengawas Persaingan Usaha menduga delapan perusahaan semen yang menguasai pasar Indonesia melakukan praktek kartel alias bersekongkol membentuk harga. Salah satu indikasinya, tidak ada kompetisi harga antarprodusen. "Margin terlalu besar. Tidak ada ruang untuk persaingan," kata komisioner yang menjadi ketua tim monitoring semen, Ahmad Ramadhan Siregar, di Jakarta, Selasa pekan lalu.
Kedelapan pabrikan diduga "bagi-bagi" pasar dengan membuat empat wilayah pemasaran. Setiap perusahaan dominan di daerah setempat. Inilah yang diduga membikin harga semen Indonesia lebih mahal ketimbang negara lain. Pada 2007, harga semen per ton di Indonesia mencapai US$ 83,8. Padahal di Thailand US$ 67,87 per ton, Malaysia US$ 62,6 per ton, dan Vietnam bahkan cuma US$ 57,75 per ton.
Ketua Asosiasi Semen Indonesia Urip Timuryono mengatakan tidak ada poin dari Undang-Undang tentang Persaingan Usaha yang dilanggar. Soal harga mahal, Urip menjelaskan, karena biaya bahan bakar batu bara melambung. Harga semen pun otomatis menyesuaikan. Semen didistribusikan ke tujuh wilayah pemasaran, sesuai dengan wilayah geografis untuk memudahkan penyebaran. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil pun membantah. "Saya rasa kartel itu tidak ada," kata dia, Kamis pekan lalu.
PERBANKAN
Kredit Masih Minim
BANK Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2009 kurang dari satu persen. Tingkat pertumbuhan sebesar itu tak akan menutup penurunan yang terjadi dua bulan sebelumnya. Periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan kredit juga berkisar angka itu. "Biasanya, pertumbuhan mulai April atau Mei," kata Deputi Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Wimboh Santoso, di Jakarta, Rabu pekan lalu.
Perbankan lebih memilih menyimpan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia. Per Januari 2009, dana perbankan yang tersimpan di instrumen ini mencapai Rp 200 triliun, naik dari November 2008 sebesar Rp 89 triliun. Direktur PT Bank Mandiri Tbk. Riswinandi tak menampik. Menurut dia, situasi yang terdampak resesi menyebabkan permintaan barang berkurang.
Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan salah satu bidang usaha yang prospektif ialah industri makanan dan minuman. Sebesar 77 persen produk itu dilego ke pasar domestik. Kredit yang diajukan perusahaan konstruksi, retail, dan rekreasi juga dipandang cukup aman.
PEREDARAN UANG
Uang Palsu Naik
SELAMA tiga tahun belakangan, jumlah uang palsu yang beredar cenderung bertambah. Bank Indonesia menemukan pada 2004, dari 1 juta lembar uang yang beredar, ditemukan 7 lembar uang palsu. Rasio itu meningkat menjadi 8 lembar pada 2007, dan 9 lembar pada 2008.
Tapi dari sisi nominal, nilai uang palsu yang ditemukan cenderung menurun. Tahun lalu kepolisian menemukan uang palsu sebanyak Rp 1,5 miliar, turun dibanding tahun sebelumnya Rp 4,7 miliar, dan pada 2006 Rp 5,8 miliar. Tapi Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Rochadi memperkirakan tahun ini peredaran uang palsu bakal naik seiring dengan pemilihan umum. "Sebab, jumlah total uang yang beredar selama kampanye juga meningkat 10-20 persen."
NILAI TUKAR
Kembali Perkasa
Nilai tukar rupiah selama sepekan lalu terus perkasa. Penguatan ini tidak lepas dari membanjirnya dana di pasar saham berupa investasi obligasi atau saham yang berasal dari investor lokal dan asing. Ini juga merupakan cermin apresiasi investor terhadap proses pemilihan umum pekan sebelumnya.
Pada akhir pekan lalu, perdagangan rupiah ditutup di level Rp 10.675 per dolar Amerika, menguat 6 persen dibanding awal pekan di Rp 11.330. Masuknya dana asing itu terlihat dari tingginya permintaan surat utang pemerintah sebesar Rp 14 triliun dan melonjaknya harga saham di bursa.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom juga menegaskan penguatan rupiah terhadap dolar karena adanya arus uang masuk. "Bukan intervensi, tapi memang ada inflow," ujarnya. Juga ada sentimen positif karena pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari negara lain, seperti Singapura dan Thailand.
Pengamat pasar uang Rosady T.A. Montol mengatakan ini disebabkan masih tingginya potensi pertumbuhan ekonomi serta selisih patokan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat dan BI Rate yang masih lebar. Pengamat lainnya, Farial Anwar, mengingatkan penguatan rupiah yang sifatnya jangka pendek karena berasal dari aliran dana asing harus diwaspadai. "Yang lebih penting adalah solidnya fundamental ekonomi."
PERBANKAN
Bumiputera Ganti Nama
RAPAT Umum Pemegang Saham Tahunan Bank Bumiputera menyetujui perombakan direksi dan nama perusahaan. Sejak Kamis pekan lalu, Bumiputera berganti nama menjadi PT Bank ICB Bumiputera Tbk. dan memiliki presiden direktur baru yaitu Sridhar Natarajan, menggantikan Palaniappan Murugappa Chettiar. Sejak November 2007, ICB Financial Groups Holding AG menguasai 67,07 persen saham Bumiputera ini.
Rapat juga menyetujui Dian A. Soerarso sebagai wakil presiden direktur dan Yosef A.B. Badilangoe sebagai direktur kepatuhan. Sedangkan direktur perseroan diangkat Tan Khen Lian, Tay Un Soo, dan Jap Hartono. Komisaris baru, Prem Kumar Shambunath Kirparam, juga diangkat. Dan Ria Budiweni Sumiati Pardede dan Bambang Setijoprodjo diangkat sebagai komisaris independen baru, menggantikan Lim Teong Liat dan Deddy Nurjamari yang mengundurkan diri.
Adapun kredit yang sudah disalurkan perseroan sepanjang 2008 meningkat 7,6 persen menjadi Rp 4,77 triliun miliar. Pertumbuhan kredit terbesar disumbang kredit komersial dan kredit pemilikan rumah masing-masing 26 dan 20 persen. Rasio kredit seret tahun lalu 4,25 persen, turun dari tahun sebelumnya yang 4,56 persen.
PROSPEK EKONOMI
Masih Menjanjikan
MESKI terpengaruh krisis keuangan global, Indonesia masih masuk tiga pasar yang menjanjikan di Asia pada triwulan pertama tahun ini, bersama Filipina dan Malaysia. Dari survei di 13 pasar Asia Pasifik, seperti Cina, Hong Kong, India, serta negara-negara di Asia Tenggara, Indeks Sentimen Investor ING untuk Indonesia turun 3,2 persen menjadi 96 pada triwulan pertama 2009 dari 109 pada triwulan akhir 2008.
Pada kuartal pertama ini, investor kelas menengah-atas juga dinilai cenderung konservatif dalam berinvestasi karena masih memilih dana tunai, deposito, emas, dan aset bernilai rupiah. "Mayoritas investor telah belajar dari pengalaman krisis sebelumnya," kata Presiden Direktur ING Securities Indonesia Robert Scholten.
Ekonom Standard and Chartered Fauzi Ichsan menilai Indonesia masih tetap menjadi pasar yang sangat menarik bagi investor di pasar Asia setelah Cina dan India. Selain potensi pasar yang sangat tinggi, pertumbuhan ekonominya diprediksi masih tertinggi di ASEAN tahun ini, yakni di kisaran 4 persen.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
