LAST CHANCE HARVEY
Sutradara: Joel Hopkins
Skenario: Joel Hopkins
Pemain: Dustin Hoffman, Emma Thompson, James Brolin
BISAKAH London yang muram dan sesekali disiram gerimis itu melahirkan romansa? Ada rasa sunyi dan sendiri; dan bahkan beberapa sosok London sudah "terlalu nyaman dengan kekecewaan". Demikian yang disampaikan sosok Kate (Emma Thompson) yang secara tak sengaja bertemu dengan seorang lelaki Amerika, Harvey Shine (Dustin Hoffman). Tapi sutradara Joel Hopkins ingin mengutarakan, di antara suram dan warna kelabu London selalu tersedia sebuah kesempatan (akhir) sebelum menyerah pada kesendirian.
Kamera memperkenalkan Harvey Shine dan pianonya sebagai seorang pianis jazz yang mencari nafkah sebagai pencipta jingle iklan. Hanya dalam beberapa detik kita segera tahu karier Harvey di ujung tanduk; sementara dia tengah terbirit-birit mengejar penerbangan ke London, Inggris, untuk menghadiri pernikahan putri tunggalnya.
Perkenalan pada Harvey, seorang duda cerai yang hidup sendirian dan jauh dari anaknya itu, kemudian diselingi dengan perkenalan Kate, seorang perempuan paruh baya yang bekerja sebagai periset pelayanan konsumen di bandara. Dengan beberapa adegan awal yang ringkas dan efektif, kita mengetahui kawan-kawan Kate yang sibuk menjadi makcomblang bagi Kate untuk kemudian menjadi serangkaian kekecewaan bagi Kate yang kemudian "ditolak" oleh para lelaki yang dijodohkan dengannya.
Sutradara dan penulis Joel Hopkins memberikan porsi yang cukup besar pada semua nasib buruk yang menimpa Harvey ataupun Kate. Harvey merasa terasing pada perkawinan anaknya sendiri karena penyelenggaranya adalah mantan istri dan suami barunya yang kaya raya. Sementara itu, Kate terus-menerus didera ibunya yang gemar mengecek kegiatan Kate sehari-hari karena sang ibu khawatir anaknya tak kunjung menikah.
Pertemuan yang sederhana. Obrolan yang biasa. "Kalau saya di sebuah dunia alternatif, saya ingin punya rumah di Spanyol... dan menulis novel. Tapi bukan novel Middlemarch," kata Kate. Ini lucu. Bagi mereka yang paham sastra segera tahu, karya George Eliot ini adalah sebuah novel Inggris pada abad ke-19 yang mengandung karakter yang banyak dan subplot yang bertumpuk.
"Saya ingin menulis novel yang enak dibaca sehari-hari," kata Kate. Ini menunjukkan pragmatisme karakter Kate.
Membangun kesederhanaan yang kemudian menimbulkan kehangatan itulah yang membuat film ini terus-menerus tak kehilangan pesona. Emma Thompson, seorang aktris serba bisa (dia juga pernah meraih Academy Awards untuk skenario film Sense and Sensibility yang disutradarai Ang Lee), banyak mengeluarkan seni peran dari "kesederhanaan" karakternya; seorang perempuan paruh baya yang terlalu sering mengalami rentetan rasa kecewa hingga malah sulit menerima kebahagiaan di pangkuannya.
Harvey, yang merasa terlalu sering mengecewakan orang-orang yang dicintainya dan "tidak diterima" bahkan oleh keluarganya sendiri, hari itu malah harus merasa "merebut" apa yang selama ini dilepasnya. Dia berdiri dan mengatakan, "Saya adalah ayah pengantin putri." Pidato Harvey adalah sebuah panggung buat Dustin Hoffman, sebuah persembahan seorang aktor dengan jam terbang yang begitu tinggi, hingga tidak bisa tidak, kita direnggut. Kita dicabik-cabik oleh penampilan Hoffman. Dia memang aktor legendaris.
Tak mudah menampilkan kisah cinta sepasang manusia yang sudah di ambang senja. Mereka sudah mulai keriput; perut dan pinggang sudah melebar; apa yang enak dilihat. London juga tidak disorot dari sisi yang romantik. Maka Joel Hopkins benar-benar mempertaruhkan filmnya pada penampilan kedua raksasa Dustin Hoffman dan Emma Thompson serta skenarionya yang menyentuh.
Inilah sebuah film tentang dua orang sederhana yang diuraikan dengan istimewa dan diperankan oleh dua pemain yang tak kunjung hilang sinarnya.
Leila S. Chudori
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
