NAMANYA Rorschach. Mengenakan mantel dan bertopi fedora, juga bertopeng putih dengan motif mirip tumpahan tinta yang selalu bergerak-gerak dalam pola simetris, dia bisa bergelantungan memanjat gedung pencakar langit di tengah malam-bahkan kala hujan. Sulit dibayangkan bahwa dia seorang superhero. Sebab, sebagaimana telah lama menancap di benak orang, superhero setidaknya selalu mengenakan cawat di luar pantalon atau jumpsuit atau apa saja yang mirip dengan itu.
Tapi Rorschach, protagonis utama dalam komik Watchmen karya Alan Moore dan David Gibbons, memang superhero. Bukan semata karena sejak awal dia diposisikan di situ. Pembaca pun mengakuinya. Dia berada di urutan keenam dalam daftar 200 karakter komik terbesar sepanjang masa versi majalah Wizard yang terbit pada 2008. Dan sosoknya kini, hampir seperempat abad setelah dia pertama kali muncul, berkelebat lagi di hadapan hampir siapa pun, baik penggemar komik maupun bukan. Ini berkat film karya Zack Snyder, yang merupakan adaptasi dari komik yang terbit pertama kali-sebagai rangkaian 12 jilid cerita-pada 1986 itu.
Masih ragu terhadap kehebatan Rorschach? Bayangkan ini: sekalipun tak punya kekuatan super, sama halnya dengan sebagian besar karakter dalam Watchmen, dia mumpuni dalam urusan berkelahi jalanan, gimnastik, dan tinju; di sepanjang cerita, yang sebenarnya boleh dibilang singkat, dia diperlihatkan sanggup mengatasi sekelompok penyerang bersenjata aneka macam tanpa kesulitan berarti; dia juga tahan terhadap rasa sakit dan ketidaknyamanan fisik.
Dalam menampilkan Rorschach, di filmnya yang juga diberi judul Watchmen (diputar di seluruh dunia sejak Maret) itu, Snyder memilih setia sepenuhnya pada komiknya. Begitu pula untuk karakter-karakter lain serta jalan cerita dan detail setting-nya. Dia tak melihat kemungkinan lain. "Anda tak bisa menjadikan ini sebagai sesuatu yang lain, sama sekali mustahil. Ini bukan (superhero) Fantastic Four... ini harus menantang ide siapa pun," katanya kepada Entertainment Weekly.
Rorschach merupakan wujud dari gagasan sang penulis cerita, Alan Moore, mengenai realitas dari apa yang disebut sebagai superhero yang sangat berbeda dari kesan umum masyarakat. Sebuah dekonstruksi, begitulah. Superhero versi Moore tetap manusia biasa, yang juga punya sisi abu-abu, kalaupun bukan gelap, dalam jiwanya. Manusia berlatar belakang tak sempurna. Dan Rorschach, dalam gagasan itu, hanya salah satu dari sejumlah superhero yang problema kejiwaan dalam hidupnya hendak diekspos. Selain dia, ada Ozymandias, Silk Spectre II, Doctor Manhattan, The Comedian, dan Nite Owl II.
"Saya rasa saya hanya berpikir, 'Kelihatannya ini merupakan cara yang bagus untuk memulai sebuah komik: ada seorang superhero terkenal yang ditemukan tewas.' Begitu misterinya terurai, kita akan dibimbing makin dalam ke jantung dunia superhero ini, yang memperlihatkan satu realitas yang sangat berbeda dari gambaran superhero pada umumnya," kata Moore dalam wawancara dengan Comic Book Artist mengenai latar belakang kisah Watchmen.
Sebagai penulis cerita, Moore, yang lahir di Northampton, Inggris, pada 18 November 1953, bukan nama asing di dunia komik. Dia sudah bekerja untuk DC Comics dan Marvel, dua penerbit besar komik. Dia termasuk di antara generasi awal penulis cerita yang mengaplikasikan elemen sastra dan prinsip formalisme-yang mengutamakan bentuk sebagai nilai dari produk artistik-dalam komik. Tema-temanya pun menantang. Sebelum menggarap Watchmen, namanya sudah dikenal antara lain lewat V for Vendetta (pertama kali terbit sebagai serial pada 1982-1988), Marvelman (1982), dan beberapa nomor serial Swamp Thing.
Komik Watchmen bermula ketika DC Comics, penerbit yang menjadi rumah Superman, Batman, dan Wonder Woman, meminta Moore merevitalisasi sederet karakter yang baru dibeli dari Charlton Comics, penerbit yang gulung tikar. Waktu itu 1985. Kebetulan Moore punya gagasan untuk menulis satu cerita superhero yang "ekstrem dan tak lazim" dengan memanfaatkan karakter superhero yang sudah ada. Dia mengirimkan proposalnya, mengenai buku berjudul Who Killed the Peacemaker, kepada Dick Giordano, waktu itu Redaktur Pelaksana DC Comics. Karena tertarik, ilustrator David Gibbons, yang pernah bekerja sama dengannya dan saat itu sudah bekerja untuk DC Comics, bergabung.
Proposal itu tak serta-merta bisa diwujudkan. Menurut Moore, Giordano menyukai idenya, tapi dia tak ingin menggunakan karakter-karakter Charlton. Sebab, "Proposal itu bisa mencederai karakter-karakternya, dan DC bakal mustahil bisa menggunakannya lagi setelah apa yang akan kami lakukan," katanya. Wajar bila DC Comics tak ingin sia-sia membuang uang. Giordano menyarankan Moore merevisi proposalnya dengan menggunakan karakter-karakter yang sama sekali baru.
Semula Moore tak yakin, dengan cara itu, kekuatan cerita, yang timbul karena karakter-karakternya sudah dikenal orang, bakal tetap bertahan. Tapi penulis yang mengaku sebagai anarkis-yang percaya bahwa keberadaan negara tak diperlukan, merusak, dan tak diinginkan-ini lalu berubah pikiran. Dia sadar masalahnya hanyalah bagaimana menuliskan dengan baik karakter-karakter penggantinya sehingga bisa menjadi seperti sudah dikenal, seolah beberapa aspek dari mereka mengembalikan gaung superhero yang sudah lazim kepada pembaca.
Dibantu Gibbons, dia lalu merevisi proposal itu. Karakter-karakter Charlton digunakan sebagai tumpuan. Mereka, kata Moore, "memutasi karakter-karakter itu." Dalam prosesnya, Moore lalu mendapati kenyataan bahwa, dengan begitu, dia justru bisa lebih leluasa melakukan penyesuaian dan perubahan. Sesuatu yang tadinya mustahil kini menjadi mungkin.
Gibbons merupakan pilihan yang logis sebagai partner: mereka punya riwayat kerja sama yang sempurna, khususnya untuk 2000 AD, antologi komik science fiction yang terbit mingguan di Inggris. "Alan tahu dari pengalaman kami di 2000 AD bahwa saya bisa menggambar hampir apa pun yang dia minta," kata Gibbons kepada Imagine FX, majalah tentang seni digital fantasi dan science fiction.
Karena pendekatan Moore terhadap materi proyeknya itu merupakan terobosan baru, Gibbons pun sangat bersemangat untuk "memberinya tampilan yang (juga) merupakan terobosan". Dia tak ingin hasilnya terlihat sama saja dengan komik lain.
Dan memang begitulah adanya: Watchmen bukan komik biasa. Buku ini sudah seketika membuat pembacanya merasa tak nyaman sejak halaman pertama. Lihatlah panel-panel awal yang menggambarkan sekeping lencana kuning berlepotan darah yang tergeletak di trotoar, dekat saluran pembuangan. Visual lalu dibuat sinematik, seperti mengikuti gerak mundur kamera untuk menggambarkan sudut pandang ketinggian dan apa yang sebenarnya terjadi: bahwa genangan darah di sekeliling lencana itu berasal dari seseorang yang jatuh dari gedung bertingkat.
Genangan darah itu milik Edward Blake, pria berotot yang memiliki jati diri lain sebagai superhero berjuluk The Comedian. Blake ternyata juga merupakan agen pemerintah yang terlibat dalam banyak hal kotor-dari Perang Vietnam, pembunuhan John F. Kennedy, hingga pembunuhan pasangan wartawan Bob Woodward-Carl Bernstein yang mencegah terungkapnya skandal Watergate.
Moore memang meletakkan ceritanya dalam setting dunia yang mengandung kemiripan dengan dunia nyata, khususnya Amerika Serikat pada 1980-an. Hanya ada beberapa perbedaan pokok yang membuat alur sejarah menempuh jalan yang berbeda. Untuk mereka yang tak akrab dengan genre science fiction, inilah karakteristik subgenre sejarah alternatif (alternate history).
Bacalah teks pada panel-panel awal itu: "Rorschach's Journal, October 12th, 1985: Dog carcass in the alley this morning, tire treads on burst stomach. This city is afraid of me. I have seen its true face. The streets are extended gutters and the gutters are full of blood and when the drains finally scab over, all the vermin will drown...."
Kesan muram memang tak terhindarkan. Sebab, begitulah pula dunia yang digambarkan Moore: dunia yang sedang dalam ketegangan, perang nuklir mengancam, dan di dalamnya makin banyak orang galau, penuh kecurigaan, serta cenderung sensitif dan merasa tak aman. Ini dunia fantasi. Tapi Moore tahu persis bagaimana harus menjadikannya sedemikian meyakinkan sehingga pembaca percaya seandainya superhero bukan khayalan dan benar-benar ada di dunia ini, dan bahwa kerangka politik yang dibangun di situ bisa terpancang kokoh.
Moore dan Gibbons (dibantu oleh pewarna John Higgins) merancang Watchmen sebagai etalase untuk memamerkan keunggulan khas komik sebagai medium dan menonjolkan kekuatannya. Moore ingin mengeksplorasi wilayah yang telah menjadikan komik berhasil, wilayah yang tak terjangkau oleh media lain. Menurut dia, Watchmen dirancang untuk dibaca 4-5 kali; kait-mengait dan simbol di dalamnya hanya akan terang, tersingkap, setelah pembaca mengulang-ulang bacaannya.
Gibbons menegaskan bagaimana sebenarnya Watchmen bisa menjadi begitu spesial: "Setelah (penggarapannya) berjalan, Watchmen lebih banyak menjadi sesuatu tentang penuturan ketimbang ceritanya. Esensi dari ceritanya sendiri sebenarnya bergantung pada apa yang disebut 'MacGuffin', suatu trik.... Jadi, sungguh, plotnya bukanlah hal penting.... Sebab, begitu kami harus menuturkan ceritanya, di situlah kreativitas sejati berperan."
Dan kreativitas itu terwujud antara lain dalam bagaimana judul setiap bab dipilih serta isi setiap bab bergerak tak linear. Juga bagaimana sampul setiap bab berfungsi sebagai portal menuju dimensi lain. Judul yang digunakan berasal dari aneka sumber: Bob Dylan, Elvis Costello, Injil, Albert Einstein, William Blake, Friedrich Wilhelm Nietzsche, dan lain-lain. Sedangkan penceritaan yang bergerak maju dan mundur, berpindah-pindah antara waktu sekarang dan masa lalu (flashback), mencapai puncaknya pada Bab IV yang berjudul "Watchmaker"-berasal dari kalimat Einstein: "The release of atom power has changed everything, except our way of thinking.... The solution to this problem lies in the heart of mankind. If only I had known, I should have become a watchmaker."
Bab itu bercerita tentang latar belakang Doctor Manhattan. Pria bernama asli Jon Osterman ini, dalam imajinasi Moore, berdasarkan risetnya mengenai fisika nuklir dan fisika kuantum, merupakan makhluk kuantum murni, terjadi karena kecelakaan di laboratorium. Setelah kecelakaan itu, dia tidak lagi mempersepsikan waktu secara linear. Baginya, masa lalu, masa kini, dan masa depan tersaji bersamaan, semuanya hanyalah faset yang berbeda dari realitas yang sama. Hal ini mempengaruhi persepsinya terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. "Kehidupan dan kematian adalah abstrak yang tak bisa dikuantifikasikan. Mengapa aku harus peduli?" katanya.
Hal lain: ada 11 bab (dari seluruhnya 12) yang didukung teks pelengkap berupa antara lain kutipan biografi Hollis Mason, penyandang nama Nite Owl yang pertama, berjudul Under the Hood; telaah ilmiah mengenai pengaruh kekuatan super Dr Manhattan terhadap perimbangan kekuatan negara-negara adidaya; profil psikologis Rorschach; artikel ilmiah Daniel Dreiberg alias Nite Owl II; cuplikan koran; serta wawancara dengan Adrian Veidt alias Ozymandias.
Moore dan Gibbons juga menyelipkan komik dalam komik. Muncul di Bab III, V, VIII, IX, X, dan XII, komik bertema bajak laut berjudul Tales of the Black Freighter ini mungkin mula-mula akan membuat pembaca bingung dan bertanya-tanya. Mungkin juga dilewatkan. Tapi, jika diikuti hingga akhir, cerita dalam komik ini merupakan tamsil bagi Adrian Veidt. Tokoh pelaut di dalamnya, yang menggunakan mayat teman-temannya sebagai rakit untuk bertahan hidup, mencerminkan karakter Veidt yang memilih mengorbankan nyawa tiga juta warga New York demi mencapai tujuannya mendamaikan bumi.
Yang paling mencolok dari seluruh kesengajaan untuk "lompat pagar" dari norma yang berlaku di dunia komik kala itu adalah penataan Bab V, berjudul "Fearful Symmetry". Di sini penataan panel-panelnya sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga halaman pertama merupakan cermin dari halaman terakhir (halaman 28), halaman kedua dari halaman 27, dan demikian seterusnya. Pasangan-pasangan halaman itu menyajikan pola visual yang simetris. Hal ini mencapai puncaknya pada halaman 14-15: pada panel tengah Veidt sedang bertarung dengan pembunuh yang mengincarnya, dalam posisi simetri membentuk huruf "x".
Siapa pun yang mengenal komik pasti telah mencatat bahwa Watchmen bukanlah komik pertama yang "mendewasakan" cara bercerita dengan medium komik dan, lebih khusus lagi, memperlakukan superhero dengan cara yang tak konvensional. Moore telah melakukannya sebelum itu dengan Marvelman. Pada saat yang sama dengan penerbitan Watchmen pun DC Comics merilis Batman: The Dark Knight Returns, karya Frank Miller (bersama ilustrator Klaus Janson dan pewarna Lynn Varley), yang memotret Batman secara "gelap".
Namun, dengan konstruksi dan isi yang begitu padat, revolusioner, sekaligus kontroversial, Watchmen sulit dipandang semata sebagai komik "yang tak biasa". Majalah Time, yang pada 2008 memilihnya sebagai salah satu dari 100 novel terbaik sepanjang masa, menyebutnya "keterampilan berimajinasi yang dahsyat, menggabungkan sci-fi, satir politik, pemahaman tentang evokasi masa lalu komik, dan keberanian untuk mengutak-atik format grafis masa kini ke dalam satu cerita misteri nan muram".
Pada kenyataannya, meski karakter-karakternya adalah superhero dan niatnya mula-mula untuk menunjukkan bagaimana superhero beraksi di dunia nyata, pada akhirnya Watchmen, yang memenangi Hugo Award pada 1988, merupakan diskursus tentang kekuasaan dan ide tentang manifestasi manusia super di tengah masyarakat. Moore mengakuinya.
Di sisi itu, menurut Dave Itzkoff, yang menulis ulasan di The New York Times, Watchmen mentransformasikan pesan yang efektivitasnya begitu akut dan tetap relevan. Apa yang mulanya merupakan investigasi rutin terhadap kematian seorang superhero berubah menjadi perjalanan ke segala arah yang memaksa setiap karakter utamanya melongok kelemahan-kelemahannya sebagai pelindung manusia. Semua itu lalu berakhir di titik yang memaksa para superhero tawar-menawar demi keselamatan umat manusia, seraya berkompromi dalam soal hak untuk mengklaim diri sebagai pahlawan. Tapi lalu pertanyaannya: jika para superhero menyandang aneka kelemahan, dan mereka dikunci dengan anggapan bahwa baik dan jahat merupakan hal subyektif dan kebenaran tak pernah menang melawan kekeliruan, apa gunanya punya pahlawan?
"Kau tahu, superhero sudah tamat," kata pemilik kios koran yang putus asa, yang sepanjang cerita menjalankan peran sebagai wakil orang kebanyakan, mengamati dan berkomentar. "Kini, semuanya adalah bajak laut."
Di akhir cerita, hanya Rorschach barangkali yang bisa lolos dari atribut dan sinisme itu-sekalipun dengan cara yang menyakitkan.
Purwanto Setiadi
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
