WATCHMEN
Sutradara: Zack Snyder
Skenario: David Hayter dan Alex Tse
Berdasarkan novel grafis karya Alan Moore dan David Gibbons
Pemain: Patrick Wilson, Billy Crudup, Jackie Earle Haley, Carla Gugino, Jeffrey Dean Morgan
MEREKA yang bersetia pada novel grafis Alan Moore dan David Gibbons mungkin akan mengutuk film ini. Mungkin juga tidak.
Zack Snyder (sebelumnya menyutradarai film 300) tentu mencoba bersetia pada semua karakter penting dalam novel grafis yang sudah melahirkan "cult", pengikut fanatik di dunia ini. Tapi problemnya bukan pada persoalan karakter, melainkan pada jalan cerita. Novel grafis Watchmen-yang semula lahir dalam 12 serial-tidak dimaksudkan untuk tampil hanya dalam satu paket seperti ini. Novel grafis ini memiliki banyak karakter dan banyak subplot yang bertalian. Mampukah Snyder memperkenalkan film ini kepada mereka yang belum pernah membaca novelnya?
Duo Moore dan Gibbons menciptakan sebuah dunia rekaan, dunia alternatif pada 1985, sebuah dunia ketika para superhero sudah lelah dan sudah menggantung kostum mereka.
Superhero ini begitu banyak jumlahnya dan memiliki sejarah yang ruwet (bagi mereka yang belum membaca novel aslinya). Adalah Dan Dreiberg a.k.a. Nite Owl (Patrick Wilson) yang sudah tak tahu batas yang salah atau yang benar. Eddie Blake a.k.a. The Comedian (Jeffrey Dean Morgan) yang pernah mencoba memerkosa Silk Spectre I (Carla Gugino), yang ditemukan tewas. Ozymandias (Mathew Goode) yang menjadi kaya raya-orang paling cerdas di atas planet-yang berkembang menjadi megalomaniak yang tak terkendalikan. Jon Osterman a.k.a. Dr Manhattan (Billy Crudup), seorang ilmuwan yang-karena sebuah kecelakaan lab-menjelma menjadi sosok yang tak terkalahkan, dan kekasihnya, Silk Spectre II (Malin Akerman). Dan ah, ini dia, sosok Rorschach (diperankan dengan dahsyat oleh Jackie Earle Haley), seorang lelaki yang memiliki masa kecil buruk, yang melihat dirinya sebagai vigilante-penyendiri yang selalu mengenakan topeng kain putih dengan bercak tinta-yang melihat dunia yang berwarna hitam dan putih: salah atau benar. Tak ada kompromi. Tak ada jalan tengah. Itulah sebabnya kita mencintai dia.
Pertanyaan penting dalam novel (maupun film) adalah siapa yang membunuh Eddie Blake alias The Comedian. Bayangkan enam superhero yang masing-masing memiliki masa lalu yang sambung-menyambung. Para penggemar fanatik novel grafis Alan Moore akan sulit menerima "perubahan" sekecil apa pun, karena itu pasti dianggap pengkhianatan. Setiap pembaca novel (baik grafis maupun novel sastra) sudah memiliki "proyektor"-nya sendiri di alam imajinasi dia. Pembaca adalah "sutradara" sekaligus penontonnya. Ketika sutradara di alam nyata seperti Snyder membuat film seperti ini, pembaca fanatik akan segera mencari cacat cela pada setiap adegan, karena tidak cocok dengan film dalam alam imajinasinya.
Problem utama, yang umum dari adaptasi sebuah novel panjang (apalagi ini berasal dari 12 serial), adalah bagaimana menyatukan beberapa subplot itu ke dalam film sepanjang dua jam ini tanpa membingungkan penonton yang sama sekali tak pernah menyentuh novelnya. Berbagai kisah kilas balik, berbagai karakter bercampur dendam dan masa kecil yang buruk, tampak jadi saling tumpuk. Bagi para penonton "novel grafis Alan Moore 101", ini menjadi problem. Juga Snyder dengan kedua penulis skenario-seberapa pun mereka mencoba bersetia pada panel-panel komik asli. Cerita utama dan subplot bercampur aduk, satu di antara yang lain tidak terintegrasi dengan mulus.
Kedua, kekuatan novel grafis karya Alan Moore bukan hanya tampilan gambar dan jalan cerita yang unik, melainkan juga dialog yang kuat (dan memang panjang) dan bernas. Bagaimana dialog yang bermuatan isi hati sekaligus moral sosok yang tengah berbicara itu, sekaligus menunjukkan politik periode itu, bisa diringkas di dalam film ini? Sulit. Sutradara Snyder dan para penulis skenario, David Hayter dan Alex Tse, mencoba untuk ringkas, tapi tidak efektif. Kedahsyatan Moore memang semakin terlihat tipis di dalam film ini. Tak aneh jika ia ingin namanya dihapus saja.
Problem ketiga adalah hal yang sangat "keramat" bagi para penggemar Alan Moore, yaitu penyajian para karakter penting. Ozymandias, sebagai lelaki paling cerdas di atas planet, seorang megalomaniak, dalam komik digambarkan tampan yang mendekati kegantengan aktor blonda Robert Redford di masa muda; sementara Goode tampak seperti lebih mirip seorang model amatiran yang baru saja mendapat kursus martial art yang berdialog dengan satu macam ekspresi: datar. Ozymandias adalah seorang sosok yang memperbolehkan manusia memilih abu-abu, bertindak kriminal untuk sesuatu yang dia anggap lebih besar. Dia adalah antitesis dari sosok Rorschach. Karena itu, keputusannya untuk mengorbankan nama Dr Manhattan demi "perdamaian dunia" adalah keputusan Ozymandias yang tak akan pernah bisa diterima logika Rorschach.
Penonton tak bisa menerima sosok Ozymandias, karena dia tampil buruk.
Tapi Rorschach yang diperankan Jackie Earle Haley tampil cemerlang. Meski dia hampir selalu mengenakan topeng, kita bisa mendengar sebuah suara yang dalam, tegas, keras, yang memancarkan adatnya: tidak ada kompromi! Dia tak pernah meragukan perasaan dan pemikirannya, dia tak punya problem moral dan berfilsafat-filsafat untuk menjustifikasi kelakuannya. Tak aneh, Rorschach adalah salah satu sosok populer justru karena karakternya yang sungguh sinting dan kepala batu.
Sosok lain yang layak mendapatkan pujian dalam film adalah Dr Manhattan yang disajikan dengan berhasil oleh Bill Crudup-seseorang yang memiliki ketenangan Zen dan berjarak dengan segala emosi yang dimiliki manusia biasa.
Saya tetap tak menganggap film ini gagal sebagai film. Film ini bisa dianggap gagal bagi para penggemar fanatik Alan Moore karena kekuatan novel grafis si jenius itu bukan hanya persoalan visual belaka.
Leila S. Chudori
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
