• Home
  • 20 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 20 April 2009

    Rute Berliku dari Komik ke Film

    SEGERA setelah Watchmen mulai diterbitkan pada 1986, Lawrence Gordon yang mewakili 20th Century Fox berhasil mendapatkan hak untuk mengangkat komik itu sebagai film. Produser Joel Silver lalu dipasang untuk menggarapnya. Tapi, seperti cara kreator komik itu dalam menuturkan cerita, proses untuk mewujudkan filmnya tak kalah berliku: perlu lebih dari dua dasawarsa, lima studio, draf skenario yang berubah-ubah, dan sutradara yang berganti-ganti.

    Sebenarnya, pemindahan komik ke film memang selalu berlangsung lama. Menurut Gregory Novek, Senior Vice President of Creative Affairs DC Comics, reinkarnasi Spider-Man, Hulk, dan Superman yang paling mutakhir juga perlu waktu pengembangan hingga sedasawarsa lebih sebelum hasilnya muncul di bioskop.

    Bagian paling pelik dari komik pada umumnya adalah karakter-karakternya yang sudah mapan, yang sering punya sejarah dan penafsiran yang telah bertahun-tahun. Komik, dibanding novel atau skenario, kadang-kadang punya reputasi lebih rumit. Karena hal inilah, "Tidak selalu ada rute langsung bahkan untuk cerita yang paling gamblang," kata Novek kepada Variety.

    Namun bukan itu saja yang terjadi pada Watchmen. Ada beberapa hal lain. Mula-mula yang selalu disebut adalah sensitivitas bagian akhir dari buku itu (penghancuran New York) dan apakah kritik Alan Moore, sang penulis cerita, tentang proliferasi nuklir pada masa Perang Dingin-sumber dari kecemasan yang mendunia ketika Watchmen terbit-masih "bunyi" di kalangan audiens berusia kurang dari 25 tahun. Hal inilah yang diduga ikut memperlambat keputusan studio seperti Fox, Universal, Revolution, dan Paramount dalam mewujudkan film tersebut.

    Tentu saja, para penggemar komik itu sepenuhnya yakin bahwa perlambang kiamat yang disajikan Moore bakal menjadi elemen dahsyat untuk sebuah film superhero. David Hayter, yang menulis delapan draf skenario untuk Watchmen dan sempat ditunjuk sebagai sutradara, merasa tema komik itu semakin relevan setelah tragedi 11 September 2001. Dia melihat Watchmen merupakan ideal superhero. "Anda tak memerlukan Uni Soviet atau sebuah situasi Perang Dingin untuk mengatakan bahwa dunia dalam keadaan menyedihkan, kita sedang berusaha saling bunuh, dan bukankah akan lebih menyenangkan bila ada orang brilian dan kuat yang bisa membereskan semua itu untuk kita," katanya.

    Sebelum Hayter, sejumlah penulis skenario sempat terlibat. Sam Hamm merupakan penulis pertama. Pada 1987, Moore bercerita kepada Comics Interview bahwa Hamm mengunjunginya di Northampton. Moore merasa Hamm bakal melakukan adaptasi yang setia pada komiknya. Tapi belakangan dia berubah pikiran: dia berkeras menentang usaha untuk menjadikan komik itu sebagai film.

    Menurut Moore, Watchmen sama sekali tidak sinematik sebagaimana diyakini banyak orang. Ketika Terry Gilliam, yang ditunjuk sebagai sutradara saat proyek diboyong ke Warner Bros. untuk pertama kali pada awal 2000, berusaha meminta saran bagaimana menjadikan komik itu sebagai film, Moore mengatakan bahwa komik itu tidak bisa difilmkan.

    Kepada Los Angeles Times tahun lalu, dia menjelaskan, dengan Watchmen, dia menceritakan epik dari sejumlah karakter dalam rentang sejarah puluhan tahun, menggunakan "serangkaian teknik yang mustahil dipindahkan ke layar bioskop". Salah satu teknik itu, katanya, adalah "buku dalam buku", yang membawa pembaca masuk ke cerita kedua, juga dokumen dan sejumlah tulisan, dari karakter-karakternya.

    Ada alasan lain: ketidaksukaan Moore terhadap Hollywood, yang dianggapnya membawa efek buruk bagi dunia komik. Konsekuen dengan pendiriannya, selain tak mau terlibat dalam proses pembuatan film itu, Moore memutuskan untuk menyerahkan royalti yang dia peroleh kepada David Gibbons, sang ilustrator. Dia juga menyatakan tak akan menyaksikan filmnya.

    Penonton yang bukan penggemar komik tentu tak tahu-menahu soal itu -dan barangkali juga tak peduli. Tapi, di luar mereka, apa pun tindakan Moore dan betapapun rumitnya alasan dari sikapnya tetap tak akan memutuskan kaitan antara dirinya dan Watchmen.

    Purwanto Setiadi


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Tari

Dunia Anggie dalam Tari

Agama

Catatan Pinggir Kiai Petuk

Televisi

Acara Khusus Kaum Narsis

Layar

...Setelah Superhero Tewas

Pilar-pilar Novel Grafis

Bertemu Dr Manhattan di Layar Besar Itu

Seni Rupa

Jejak Nashar di Pulau Dewata

Eulogi untuk Nashar

Merekam Kenangan Masa Jepang

Buku

Para Jenius dan Orang Biasa

Album

PENGUKUHAN
Djoko Wahyono dan Mudasir

Catatan Pinggir

Estaba la Madre

TEMPO|interaktif

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif