Sebelum benar-benar masuk ke tataran realisasi, rencana memproduksi mobil murah sebaiknya segera dikandangkan kembali. Di negeri yang tingkat penjualan mobilnya bisa sampai 500 ribu unit per tahun tapi tanpa pertambahan prasarana pendukung yang memadai ini, program semacam itu hanyalah wujud lain dari "nafsu besar tenaga kurang".
Cobalah perhatikan jalan-jalan di sekitar kita, terutama di kota-kota di Jawa. Sudah sangat langka pemandangan yang bisa membuat tatapan mata terasa nyaman. Kemacetan merupakan "hiasan" sehari-hari. Kendaraan dari berbagai jenis-sepeda motor, mobil pribadi, angkot, bus-menyesaki jalanan, berebut kesempatan untuk bergerak, bahkan menyerobot hak pejalan kaki di trotoar. Tak ada yang ingin berada di sana. Masalahnya, tak ada yang bisa menghindar.
Sangat jelas dari situasi itu, apa yang mesti dilakukan: menambah panjang dan luas jalan, atau mengurangi jumlah kendaraan. Dua-duanya bukan pekerjaan mudah. Tapi segera bisa dilihat alternatif mana yang paling masuk akal.
Kemampuan menambah panjang dan luas jalan, dibetot sejauh apa pun, pada akhirnya akan membentur dinding. Di Jakarta, misalnya. Data Dinas Perhubungan setempat menunjukkan jalan hanya tumbuh sekitar 0,01 persen per tahun, sedangkan jumlah mobil dan motor dalam lima tahun terakhir bertambah 9,5 persen. Setelah membangun terowongan dan jalan layang, yang sudah begitu banyak dan sebagian terbukti tanpa daya, memangnya akan dibuat terowongan di bawah terowongan dan jalan layang di atas jalan layang? Yang paling realistis adalah mengurangi jumlah kendaraan.
Mobil murah, yang konsepnya sedang dikembangkan di Departemen Perhubungan, jelas tak seirama dengan jalan keluar itu. Program ini bertujuan memindahkan sebagian pengguna sepeda motor ke mobil dan menyerap tenaga kerja. Tapi, jika memang akhirnya terlaksana, hasilnya hanya akan memompa tingkat permintaan terhadap mobil.
Situasi itu jelas akan melanggengkan lingkaran setan kemacetan. Selama ini saja permintaan tak pernah bisa dikurangi, atau ditekan, sebab tak ada alternatif yang paling sedikit sama nyamannya dengan kendaraan pribadi. Makin banyak mobil terjual, kepadatan di jalan bakal kian akut. Sekalipun teknologinya ramah lingkungan, bertambahnya volume konsumsi bahan bakar (karena harganya yang hanya Rp 50 jutaan, tak bakal menjangkau tenaga elektrik) tetap tak terhindarkan.
Ketimbang repot-repot mengkaji konsep mobil itu, pemerintah sebaiknya mencari cara untuk sesegera mungkin mewujudkan sarana transportasi massal yang nyaman, tepat waktu, dan terintegrasi, terutama di kota-kota besar. Di Jakarta, sarana transportasi semacam itu-yang menggabungkan kereta, bus, dan moda lainnya yang masih layak-merupakan keniscayaan. Transportasi massal sudah diakui sangat mendesak untuk dioperasikan guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang mencapai 95 persen dari total kendaraan yang ada.
Mobil murah memang terdengar aduhai, setidaknya dari segi publikasi bisa menatahkan citra yang menawan, seperti India yang telah menjual Nano seharga kira-kira Rp 25 juta. Dari segi bisnis mungkin menggiurkan. Tapi bisa juga sebaliknya. Apa pun, tetap saja rencana ini tak ada gunanya. Keberadaan mobil murah itu di jalan-jalan kelak justru ikut mempercepat datangnya situasi buruk yang di Jakarta diramalkan terjadi lima tahun lagi: macet total.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
