• Home
  • 20 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 20 April 2009

    Mobil Murah buat Apa

    Sebelum benar-benar masuk ke tataran realisasi, rencana memproduksi mobil murah sebaiknya segera dikandangkan kembali. Di negeri yang tingkat penjualan mobilnya bisa sampai 500 ribu unit per tahun tapi tanpa pertambahan prasarana pendukung yang memadai ini, program semacam itu hanyalah wujud lain dari "nafsu besar tenaga kurang".

    Cobalah perhatikan jalan-jalan di sekitar kita, terutama di kota-kota di Jawa. Sudah sangat langka pemandangan yang bisa membuat tatapan mata terasa nyaman. Kemacetan merupakan "hiasan" sehari-hari. Kendaraan dari berbagai jenis-sepeda motor, mobil pribadi, angkot, bus-menyesaki jalanan, berebut kesempatan untuk bergerak, bahkan menyerobot hak pejalan kaki di trotoar. Tak ada yang ingin berada di sana. Masalahnya, tak ada yang bisa menghindar.

    Sangat jelas dari situasi itu, apa yang mesti dilakukan: menambah panjang dan luas jalan, atau mengurangi jumlah kendaraan. Dua-duanya bukan pekerjaan mudah. Tapi segera bisa dilihat alternatif mana yang paling masuk akal.

    Kemampuan menambah panjang dan luas jalan, dibetot sejauh apa pun, pada akhirnya akan membentur dinding. Di Jakarta, misalnya. Data Dinas Perhubungan setempat menunjukkan jalan hanya tumbuh sekitar 0,01 persen per tahun, sedangkan jumlah mobil dan motor dalam lima tahun terakhir bertambah 9,5 persen. Setelah membangun terowongan dan jalan layang, yang sudah begitu banyak dan sebagian terbukti tanpa daya, memangnya akan dibuat terowongan di bawah terowongan dan jalan layang di atas jalan layang? Yang paling realistis adalah mengurangi jumlah kendaraan.

    Mobil murah, yang konsepnya sedang dikembangkan di Departemen Perhubungan, jelas tak seirama dengan jalan keluar itu. Program ini bertujuan memindahkan sebagian pengguna sepeda motor ke mobil dan menyerap tenaga kerja. Tapi, jika memang akhirnya terlaksana, hasilnya hanya akan memompa tingkat permintaan terhadap mobil.

    Situasi itu jelas akan melanggengkan lingkaran setan kemacetan. Selama ini saja permintaan tak pernah bisa dikurangi, atau ditekan, sebab tak ada alternatif yang paling sedikit sama nyamannya dengan kendaraan pribadi. Makin banyak mobil terjual, kepadatan di jalan bakal kian akut. Sekalipun teknologinya ramah lingkungan, bertambahnya volume konsumsi bahan bakar (karena harganya yang hanya Rp 50 jutaan, tak bakal menjangkau tenaga elektrik) tetap tak terhindarkan.

    Ketimbang repot-repot mengkaji konsep mobil itu, pemerintah sebaiknya mencari cara untuk sesegera mungkin mewujudkan sarana transportasi massal yang nyaman, tepat waktu, dan terintegrasi, terutama di kota-kota besar. Di Jakarta, sarana transportasi semacam itu-yang menggabungkan kereta, bus, dan moda lainnya yang masih layak-merupakan keniscayaan. Transportasi massal sudah diakui sangat mendesak untuk dioperasikan guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang mencapai 95 persen dari total kendaraan yang ada.

    Mobil murah memang terdengar aduhai, setidaknya dari segi publikasi bisa menatahkan citra yang menawan, seperti India yang telah menjual Nano seharga kira-kira Rp 25 juta. Dari segi bisnis mungkin menggiurkan. Tapi bisa juga sebaliknya. Apa pun, tetap saja rencana ini tak ada gunanya. Keberadaan mobil murah itu di jalan-jalan kelak justru ikut mempercepat datangnya situasi buruk yang di Jakarta diramalkan terjadi lima tahun lagi: macet total.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Tari

Dunia Anggie dalam Tari

Agama

Catatan Pinggir Kiai Petuk

Televisi

Acara Khusus Kaum Narsis

Layar

...Setelah Superhero Tewas

Pilar-pilar Novel Grafis

Bertemu Dr Manhattan di Layar Besar Itu

Seni Rupa

Jejak Nashar di Pulau Dewata

Eulogi untuk Nashar

Merekam Kenangan Masa Jepang

Buku

Para Jenius dan Orang Biasa

Album

PENGUKUHAN
Djoko Wahyono dan Mudasir

Catatan Pinggir

Estaba la Madre

TEMPO|interaktif

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif