SIKLUS hidupnya berubah lagi. Enam hari dalam seminggu, dia kembali ke lapangan. Tiga hari dipergunakan untuk mengasah kemampuan bermain tenis, sisanya dipakai untuk menggenjot stamina fisik. Makin banyak keringat yang menetes, bukannya bikin lemas, malah membuat wajahnya kian berseri-seri. Semangatnya menyala-nyala.
Untuk persiapan sebuah pertandingan persahabatan, boleh jadi jadwal itu berlebihan. Tapi rupanya Kim Clijsters tak mau main-main. Si pirang ini sudah mantap dengan pilihannya: kembali bermain tenis setelah dua tahun absen gara-gara menikah dan membesarkan anaknya, Jada Elie.
Di Bree, yang berjarak sepuluh kilometer dari perbatasan Belanda-Belgia, dia mempersiapkan segalanya. Tidak saja berlatih, tapi juga membawa anaknya agar terbiasa kelak bila dia bepergian dari turnamen ke turnamen. Langkah awalnya adalah melawan pasangan Steffi Graf dan Andre Agassi di Wimbledon, bulan depan. Setelah itu, plus beberapa pertandingan pemanasan, dia kembali ke turnamen profesional.
Tekad Clijsters memang sekukuh baja. Maklum, dia punya bekal. Usianya masih bisa diajak berkelahi, baru 26 tahun. Soal pengalaman, dia pernah menduduki peringkat pertama di ajang tenis wanita. Sebelum sempat mundur, Clijsters memiliki sederet prestasi bagus. Yang paling penting, keyakinannya telah mengkristal. "Ini bukan lagi hanya come back. Saya ingin membuat perjalanan karier yang kedua," katanya lantang.
Tenis wanita adalah arena yang cepat didatangi bintang, tapi juga lekas ditinggalkan. Banyak petenis yang muncul di usia muda tapi beberapa tahun kemudian harus mundur karena berbagai sebab, seperti cedera atau tak mampu bersaing. Satu contohnya Anna Kournikova, yang kehadirannya mengentak. Selain bagus permainannya, wajah dan bodinya enak dilihat. Sayang, gara-gara cedera pula dia terpental dari tenis. Akhirnya, dia mampir di dunia lain, jadi bintang iklan dan berada di orbit glamor dunia.
Terakhir dia aktif di berbagai kegiatan sosial. Ikut di Youth AIDS, misalnya, lembaga yang memberikan penyadaran kepada remaja tentang bahaya virus yang menyerang dan melumpuhkan kekebalan tubuh itu. Kalaulah masih bermain tenis, dia eksis di kelas yang lain: kelas khusus bagi para pensiunan. Salah satunya World Team Tennis. "Enak juga kok bermain di sini," kata Kournikova.
Namun mereka yang sudah menggantung raket dan kembali tidaklah sedikit. Bahkan banyak yang berhasil. Monica Seles salah satunya. Dia kembali bermain setelah mendapat cedera akibat punggungnya ditusuk pisau oleh penonton. Dasar hebat, Seles masih tetap menjadi petenis yang brilian.
Begitu pula Martina Hingis. Si jelita asal Swiss ini kembali mengayun raket. Hasilnya tak segemilang Seles. Namun dunia tahu kemampuan Hingis tidak sembarangan. Sebelum menggantung raket untuk selamanya, dia berhasil nangkring di posisi 20 besar dunia-sebuah torehan prestasi yang tidaklah mudah.
Bagaimana dengan Clijsters? Bekas pelatihnya, Marc Dehous, ikut membesarkan semangatnya. "Tidak ada lagi lawan yang ditakutinya, termasuk Dinara Safina atau Vera Zvonareva. Lawan yang ditakutinya, Justine Henin, sudah tidak bermain," katanya. Dehous sesumbar, anak didiknya itu bisa masuk 10 besar. "Kim Clijsters punya lebih banyak senjata."
Meski belum lagi ketahuan hasilnya, kembalinya Clijsters bisa memberikan warna lain dalam percaturan tenis perempuan. Dibandingkan dengan kaum pria yang ramai persaingan dengan hadirnya sosok seperti Roger Federer, Rafael Nadal, Andy Murray, dan Novak Djokovic, kancah tenis perempuan masih dikuasai segelintir nama. Kalau bukan Serena, ya, Venus Williams.
Pesaing bukannya tidak ada. Sebenarnya, Ana Ivanovic dan Jelena Jankovic cukup berpeluang untuk "merusak tatanan" yang ada. Sayang, beberapa kali mereka gagal menghambat laju kakak-adik itu. Nah, kembalinya Clijsters diharapkan bisa membuat persaingan menjadi lebih ketat dan meriah.
Meriah? Begitulah. Hampir bersamaan dengan kabar kembalinya Clijsters, lapangan tenis kedatangan lagi mantan ratu tenis nan cantik, Maria Sharapova. Setelah tujuh bulan istirahat akibat cedera punggung yang dideritanya, tahun ini dia kembali. Tak pelak, kehadirannya akan membuat lapangan tenis semakin enak dipandang.
Langkah awal sudah dilakukan. Tidak terlalu bagus memang. Cederanya masih menjadi hambatan. Di Australia Terbuka, dia batal tampil. Gara-gara itu pula dia mundur dari turnamen Sony Ericsson Terbuka di Miami, Amerika Serikat, akhir Maret lalu. "Saya belum fit benar untuk tampil di sana," katanya. Karena menjadi bintang iklan dari telepon seluler itu, meski tak bermain, Maria tetap hadir di sana untuk memberikan tanda tangan kepada penggemarnya.
Masha, panggilannya, memang selalu dinanti. Penampilannya teramat aduhai. Postur tubuhnya seksi. Wajahnya juga cantik. Mereka yang tidak suka tenis pun langsung jatuh cinta saat melihat aksinya di berbagai iklan atau saat dia tampil seksi dengan hanya berbikini di Sport Illustrated, misalnya. Dia menjadi atlet yang paling banyak dicari di mesin pencari seperti Yahoo.
Tapi tentu bukan itu yang membuat Masha merasa bahagia. Dia tetap merasa dirinya seorang atlet yang memetik berbagai gelar di lapangan. Alhasil, dia ngotot untuk kembali, meski untuk itu tidaklah mudah. Setelah mundur di Miami, dia tampil di Indian Wells. Itu pun turun di bagian ganda, berpasangan dengan Elena Vesnina. "Menyenangkan juga turun di lapangan, meski hanya untuk bermain ganda," katanya.
Hasilnya jeblok. Dia tersingkir. Tapi dia tak menyerah. Pekan lalu, dia mengumumkan akan bertanding di Roland Garros alias Prancis Terbuka. "Sebelumnya, biar lebih in, dia akan berlaga di dua turnamen," kata Shamil Tarpishchev, pelatihnya.
Bagi petenis perempuan, bagaimanapun, tampil kembali di gelanggang profesional masih tetap mempesona. "Bermain di depan 20 ribu orang penonton merupakan pengalaman yang luar biasa dan tak mungkin dilupakan. Memacu adrenalin dan sangat menyenangkan," kata Kournikova, yang tak pernah surut keinginannya untuk come back.
Everybody happy, memang. Persis seperti lagu: "di sini senang, di sana senang". Mereka yang bermain di lapangan senang, penontonnya-apalagi kaum Adam-juga senang. Tralala....
Irfan Budiman
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
