Winke, winke, winke...
Wackel mit dem po...
Winke, winke, winke...
Wunder bar! Ja so!
(Dagh, dagh, dagh, ... goyangkan pantatmu..., hebat! Begitulah!)
BARU kali ini Fahmi, siswa kelas sepuluh SMA Negeri 31 Jakarta, menikmati pelajaran bahasa Jerman. Selama dua jam penuh, senyum tak kunjung lepas dari bibirnya. Keringat membasahi baju. Bersama teman-teman satu sekolah-juga dari SMA Dwi Warna dan Santa Ursula-mereka mengikuti mata pelajaran ini dari seorang guru istimewa: Uwe Kind.
Pelajaran bahasa Jerman kali ini diberikan di antara musik yang berdentam-dentam dan sorak-sorai. Inilah Lingo-Tech, yang pada Selasa pekan lalu diberikan di Goethe Institut, Jakarta. Uwe Kind, sang penggagas yang sudah lebih dari 30 tahun keliling dunia memperkenalkan metode belajar bahasa yang unik itu, datang ke Jakarta. Baru saja pelajaran berlangsung lima menit, Uwe (baca: uve) sudah berhasil membuat dua ratusan siswa, plus para guru, bergoyang.
Uwe, kini 60 tahun, mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk mengembangkan metode belajar bahasa melalui musik. Uwe berasal dari Jerman Timur. Ia melarikan diri ke Jerman Barat dan pergi ke Amerika Serikat untuk mengajar bahasa Jerman di sekolah prestisius New School University. Saat itu usianya baru 19 tahun. Dalam sepuluh tahun mengajar, sambil bermain gitar Uwe sering menyanyikan lagu rakyat Jerman di kelasnya. Lambat-laun, beberapa siswa menyerap dan menggunakan sebagian kata dalam lagu untuk percakapan. Padahal, "Kata-kata itu sudah ketinggalan zaman sekali," katanya.
Uwe mengubah lirik lagu sesuai dengan kata-kata dasar yang sekarang ada di buku pelajaran bahasa. Ia menyusun lagu-lagunya menurut tingkat kesulitan pelajarannya. Ada lirik dan lagu yang dibuat untuk tingkat pemula, menengah, hingga lanjutan. Pada tingkat dasar, ia memasukkan unsur irama yang kemudian disesuaikan dengan gerakan. Ini penting, menurut dia, karena irama berbicara dalam bahasa universal. Ia percaya setiap manusia punya insting untuk mengenali irama. Baru kemudian, pemahaman dasar akan konsep laku seperti kiri-kanan, maju-mundur, ya-tidak, saya-kamu dimasukkan dengan cara dilakonkan seperti gerak-gerik pantomim.
Untuk musiknya, Uwe kini bekerja sama dengan Mark Schaffel, produser musik asal Nashville, Amerika Serikat, yang pernah bekerja dengan grup-pemusik Amerika seperti Billy Ray Cyrus dan Arrested Development. Bersama Schaffel, Uwe membuat rekaman Lingo-Tech, lagu-lagu belajar bahasa Jerman dengan basis musik techno. Di dalamnya terdapat lagu asal Yunani yang ia beli hak patennya dan menjadi berjudul Klick mich an (arti: klik saya). Jadilah ruang kelas bahasa menjelma menjadi sebuah lakon musik, drama, senam... dengan kata lain, hiburan!
Lihatlah Uwe. Ketika ia mengangkat tangan ke atas, ia berseru, "Hande hoch...," audiensnya melakukan hal yang sama. Begitu pula ketika ia menurunkan tangan ke bawah, "Hande runter...." Ia berkacak pinggang dan bergerak ke kiri. "Nach links!" lantas memutar tubuhnya ke kanan, "Nach rechts!" Musik yang kental nuansa bas sehingga dentamannya terasa menggetarkan ruangan itu tak ayal mengundang sesiapa yang hadir turut serta menggoyangkan badan.
Menyenangkan, tapi apakah semua ini terekam baik dalam kepala siswa? Mungkin tak banyak. Debby, 16 tahun, mengatakan banyak kata baru yang belum ia mengerti dari sesi dua jam dengan Uwe itu. Gerakannya pun cepat-cepat sehingga ia tak punya cukup waktu untuk mempelajarinya perlahan. Namun ia cepat-cepat mengimbuhi, "Tapi asyik, kita jadi bersemangat," katanya.
Uwe sendiri mengakui dibutuhkan kontinuitas dan partisipasi guru agar metodenya efektif. Karena itu ia mengajak guru tampil di atas panggung. Musik dan lirik bisa diunduh langsung, gratis, di situs Uwe. Di situ juga terdapat berbagai peranti lunak untuk metode pelajaran bahasa (Jerman, Spanyol, Latin), termasuk alat bantu seperti kaus T, buku, cakram digital, hingga ke video gerakannya.
Uwe menikmati setiap pertemuannya dengan anak-anak di seluruh dunia. Ia telah mengajar di Afrika, Eropa, Amerika, Asia, hingga ke daerah-daerah yang sulit. Ia mendekati anak-anak yang sedih akibat konflik berkepanjangan di Tepi Barat, Palestina, anak-anak korban perang di Kroasia yang enggan bergoyang, hingga anak-anak pemalu di Jepang. Tawa riang dan kegembiraan mereka yang bergoyang-goyang pinggul itu sungguh menular.
"Ada anak yang mendekati saya, 'Dulu saya benci sekali harus belajar bahasa Jerman. Sekarang saya suka,' katanya! Itulah upah yang pantas buat saya," Uwe tersenyum lebar.
Kurie Suditomo
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
