"MASIH hidup lu, Sar? Badan lu makin ceking aja!" suatu saat sastrawan Ajip Rosidi pernah berkata. Dan Ajip pun bercerita panjang tentang persahabatannya dengan seniornya yang sepuluh tahun lebih tua itu, Nashar. Cerita ini dimuat pertama kali di harian Suara Pembaruan, Juni 1994, beberapa bulan setelah Nashar wafat akibat kanker paru-paru. Ia perokok berat.
Kini cerita Ajip itu bisa kita tilik lagi dalam buku Elegi Artistik tentang Nashar dan Lukisan-lukisannya, yang diluncurkan di Jakarta, Kamis pekan lalu, dalam pameran sekitar 50 karya Nashar di Galeri Nasional, yang berasal dari gabungan koleksi sekitar 30 orang-termasuk Ajip Rosidi dan sastrawan Hamsad Rangkuti. Elegi menambah deretan buku oleh dan tentang pelukis kelahiran Pariaman itu. Pada 2002, Nashar oleh Nashar diterbitkan Balai Budaya. Demikian juga Irama Gerak Nashar, yang diterbitkan Bentara Budaya Jakarta pada 1994, tak lama setelah ia wafat.
Elegi berisi tulisan tentang Nashar yang pernah dipublikasikan, antara lain penilaian pribadi pelukis Popo Iskandar yang dimuat di koran Berita Yudha dan esai Goenawan Mohamad yang merupakan pengantar pertemuan seni rupa Dewan Kesenian Jakarta, keduanya dari tahun 1973. Ada juga kesan Putu Wijaya pada katalog pameran "Nashar Sebagai Simbol" (tahun 2000), serta tulisan Maruli Tobing di Kompas (1990). Tulisan-tulisan yang mengomentari kredo "Tiga Non" milik Nashar-Nonkonsep, Nonestetik, dan Nonteknik-dan bagaimana sesungguhnya karya Nashar terkait dengan kredonya itu ditulis oleh Bambang Bujono, Baharuddin M.S., Sudarmaji, dan Efix Mulyadi.
Di dalam buku luks bergaya coffee table setebal 329 halaman yang diterbitkan Asosiasi Pencinta Seni Indonesia ini terdapat repro puluhan lukisan Nashar. Tapi yang paling menarik tetaplah kesaksian Ajip tentang sang sahabatnya. Menurut dia, salah satu sifat Nashar yang utama adalah keras kepala. Pada sekitar 1960, seorang dokter pernah memvonisnya mengidap penyakit berat dan bisa meninggal dalam enam bulan bila ia tidak pantang merokok, makan makanan pedas, dan minum bir. Seingat Ajip, saat itu Nashar tidak doyan bir, meski ia memang perokok. Namun, karena larangan itu, ia sengaja minum bir dan terus merokok.
"Tahun terus berjalan, ternyata Nashar tidak meninggal enam bulan kemudian, tapi lebih dari 30 tahun, setelah dokter itu jauh hari meninggal lebih dulu."
Kurie Suditomo
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
