• Home
  • 20 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 20 April 2009

    Merekam Kenangan Masa Jepang

    "BAPAK, saya kan seniman. Saya bawa karya sendiri. Tapi saya ingin tukar dengan benda apa saja yang Bapak punya. Apa saja...."

    Dengan bahasa Indonesia yang fasih, Midori Hirota menemui bekas tentara Pembela Tanah Air-bentukan Jepang-di Blitar, Jawa Timur, pada September 2007. Satu per satu, dari rumah ke rumah, seniman asal Jepang itu mewawancarai lelaki sepuh (sebagian didampingi istri) dan bertukar kenang-kenangan. Ia memberikan patung figur orang dari keramik putih seukuran genggaman tangan. Sebaliknya, puluhan bekas tentara yang memberontak kepada Jepang, 14 Februari 1945, di bawah pimpinan Shodancho Soeprijadi itu menyerahkan benda yang ada di rumah.

    Di antara benda-benda itu: bingkai foto yang pinggirannya pecah, foto pemiliknya berseragam tentara, kliping koran dan lembaran kertas berkop "Koperasi PETA cabang Blitar", tas tangan mute, gelas kaca cokelat bercorak bunga, bahkan sapu ijuk mini yang telah aus. "Saya bebaskan. Tidak apa-apa rusak. Tapi saya berharap ada sentuhan mereka," kata Midori, yang tinggal di Indonesia sejak 1990, kepada Tempo melalui sambungan telepon dari Yogyakarta, Kamis pekan lalu. Barang penukar pun tidak boleh mahal.

    Hasilnya, ribuan benda itu ditata dan dipamerkan di atas bantal-bantal imut bercorak ala Jepang dan nampan kuning sesajen Bali, serta dipajang di dalam kotak kayu berkaca di Japan Foundation, Jakarta. Pameran bertajuk Memory of Asia ini digelar pada 2-20 April 2009. Pengunjung juga disuguhi foto hitam-putih pemberi benda dan film dokumenter.

    Midori, yang lahir di Nagoya, 24 Juni, ingin mengungkapkan fakta sejarah tentang zaman pendudukan Jepang di Filipina dan Indonesia. Ia teringat pada kisah perang yang diceritakan kakeknya, Takejiro, yang dekat dengannya. Filipina dipilih karena meninggalkan jejak paling seru. Pada 10 April 1942, di Bataan, Filipina, ribuan orang mati ketika tentara Jepang menggiring 80 ribu orang untuk long march sejauh 70 kilometer. Peristiwa ini dikenal sebagai "Death March".

    Pada awal proyek, 2006, ia membagikan 1.000 patung figur buatannya untuk mendapatkan penukaran di Quezon City. Tapi hanya 900 pengunjung yang datang ke pamerannya. Setahun kemudian, ia mengunjungi Kibugan, enam jam ke arah utara dari Kota Baguio, untuk mendapatkan 100 lagi penukaran.

    "Yang sangat mengesankan itu pemberian padi dari kakek petani yang hidup seorang diri dan sederhana. Padahal itu satu ikat besar sebagai nafkahnya," katanya. Ia kagum karena sang petani merupakan satu-satunya yang bertanya maksud kedatangannya. Bukan hanya itu, ia pun mendapat cerita tentang 500 tentara Jepang yang mati di desa itu. Selama di Filipina, ia mendapatkan topi, ikat rambut, gelang, sisir, kunci, kartu nama, disket, pulpen, spidol, pensil, buku The Origin of Taputy and Other Cordillera Tales, bahkan pepaya.

    Lulusan Aichi University itu pun menyadari bahwa pendudukan Jepang juga dirasakan di Indonesia. Untuk mendapatkan sisi lain, ia melanjutkan proyeknya ke Blitar dan Bali. Ia bertemu dengan romusha-pekerja paksa di masa pendudukan Jepang selama 1942-1945-di Bali, tempatnya menetap selama 10 tahun. Sebanyak 64 penukaran diletakkan di dalam nampan sesajen Bali: baterai ABC, sapu lidi, rokok, obat, kue, cermin kecil, kacamata, foto, dan Pocari Sweat.

    Menurut Midori, seperti ditulis pengajar Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, Nurdian Ichsan, proses pertukaran itu merupakan upaya meminta maaf atas kejahatan Jepang dalam Perang Dunia II. "Secara personal, pertukaran yang terjadi bukan hanya benda, melainkan juga kenangan dan ingatan," katanya.

    Tapi, rupanya, Midori juga melihat Jepang sebagai korban perang. Hal ini ia temukan ketika bertemu dengan orang-orang di Jepang saat musim panas 2008. Orang-orang itu lahir pada 1945 ke atas dan punya kenangan tentang Perang Dunia II. "Kebenaran yang tidak boleh terlupakan. Kesulitan makan sampai hampir mati kelaparan. Tidak boleh terulang," katanya.

    Martha W. Silaban


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Tari

Dunia Anggie dalam Tari

Agama

Catatan Pinggir Kiai Petuk

Televisi

Acara Khusus Kaum Narsis

Layar

...Setelah Superhero Tewas

Pilar-pilar Novel Grafis

Bertemu Dr Manhattan di Layar Besar Itu

Seni Rupa

Jejak Nashar di Pulau Dewata

Eulogi untuk Nashar

Merekam Kenangan Masa Jepang

Buku

Para Jenius dan Orang Biasa

Album

PENGUKUHAN
Djoko Wahyono dan Mudasir

Catatan Pinggir

Estaba la Madre

TEMPO|interaktif

Internasional

Korban Cuaca Ekstrem Eropa Tembus 550 Orang

9 Kesalahan Menulis Surat Lamaran

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif