Kaus Oblong Dahina
MEMBACA Intermezo, "Setitik Asa dari Pegunungan Tengah" di majalah Tempo edisi 13-19 April 2009, membuat persendian saya terasa lemas dan ngilu. Indonesia telah merdeka 60 tahun lebih. Tapi sungguh tragis nasib saudara kita.
Saya salut Tempo mengupas secara jeli dan tajam. Puluhan tahun emas di perut Papua dikuras. Triliunan rupiah mengalir ke perusahaan. Sementara Dahina dan rakyat Papua lainnya tak ingat kapan pernah makan nasi. Betapa bangganya mereka mendapat "hadiah" kaus oblong bekas. Sementara triliunan rupiah uang dihamburkan untuk pesta demokrasi.
Banyak rakyat Papua yang hingga kini tak mengenakan sehelai benang pun, apalagi bersekolah. Mereka tak tersentuh peradaban modern. Sementara pemerintah dan banyak media memanfaatkan "keterbelakangan" mereka sebagai komoditas untuk menghasilkan uang, dan untuk ditertawakan. Kepada Tempo, semoga liputan daerah terpencil menjadi rubrik tetap. Terima kasih.
FAKHRUDDIN HALIM
Pangkalpinang, Bangka-Belitung
Klarifikasi Jayakarta Hotel
KAMI perlu mengklarifikasi surat pembaca Ibu Merry Wartati di majalah Tempo edisi 30 Maret-5 April 2009 tentang kekecewaan terhadap pelayanan Hotel Jayakarta Lombok. Pada 5 Maret 2009, Ibu Merry menghubungi guest service agent kami untuk melaporkan kehilangan satu kantong perhiasan. Setelah melakukan pemeriksaan internal, hari berikutnya manajemen menyarankan Ibu Merry untuk melapor ke polisi dengan didampingi pihak hotel. Sampai saat ini, kasusnya masih ditangani polisi.
Manajemen sebenarnya telah menyediakan safety deposit box dan fasilitas ini sudah diinformasikan. Di situ juga dinyatakan bahwa manajemen tidak bertanggung jawab atas klaim kehilangan atau kerusakan barang milik tamu yang tidak disimpan di fasilitas ini.
Pada saat Ibu Merry keluar hotel, manajemen memberikan tanda simpati. Oleh Ibu Merry, ini diartikan lain dan meminta ganti rugi lebih besar. Jayakarta Hotels & Resorts termasuk The Jayakarta Lombok selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada tamu-tamunya. Kami tidak pernah mengulur-ulur waktu ataupun menunda-nunda kewajiban kami.
AMAN KUSDIAMAN
General Manager The Jayakarta Lombok
Tanggapan Wayang Bharata
SAYA perlu menanggapi artikel "Tersembunyi di Balik Jakarta" dalam majalah Tempo edisi 6-12 April 2009. Dalam caption foto poin 7 tertulis, "Pertunjukan yang dikelola Yayasan Bharata itu bagai hidup segan mati tak mau. Setiap pertunjukan ditonton paling banyak 10 orang...."
Bila melihat fotonya, itu yang terbaru karena ada spanduk yang hingga kini masih terpasang. Namun, pengurus merasa dirugikan dengan narasinya. Setelah renovasi dan vakum selama lima tahun, kami eksis kembali dan menarik penggemar lama yang belum tahu. Alhamdulillah, tiga tahun kemudian kami berkembang pesat. Bahkan, saat ini jika tak memesan tempat terlebih dahulu, tidak mendapat tiket masuk. Semoga informasi ini dapat meluruskan tulisan tersebut. Terima kasih.
SENTHUN BHIMA NUGRAHA
Anak Wayang Orang Bharata
–Terima kasih atas informasi dan penjelasannya.
Legowo Menerima Hasil Pemilu
KISRUH daftar pemilih tetap membuat pemilu rawan gugatan. Bagi yang kecewa atas hasil pemilu, ini bisa menjadi landasan empuk untuk memprotes. Sebab, tanpa gugatan pun kita bisa menyimpulkan bahwa daftar pemilih tetap memang bermasalah.
Perlu kita perhatikan, hasil quick count lembaga-lembaga riset sampai saat ini menunjukkan angka yang sama dengan Komisi Pemilihan Umum: Partai Demokrat unggul. Itu konsisten dengan survei-survei sebelum pemilu. Jadi, terlepas ada kekurangan di sana-sini, ini memperlihatkan kekuatan rakyat yang hebat. Maka, saya berharap semua pihak bisa menerima hasil pemilu dengan legowo. Kalah dan menang dalam berdemokrasi adalah hal biasa. Rakyatlah yang menentukan menang-tidaknya suatu partai.
PRIBADI SANTOSO
Taman Pagelaran, Padasuka, Ciomas, Bogor
Pemilu Ulang Politis
BERBAGAI pihak yang menuding pemilu kemarin marak dengan kecurangan, seperti soal daftar pemilih tetap, harus bisa membuktikannya. Penilaian negatif terhadap kualitas pemilu lebih kental nuansa politiknya. Sebaiknya kita semua introspeksi.
Masalah daftar pemilih tetap tidak bisa dikaitkan dengan hasil pemilu. Masyarakat yang tidak terdaftar adalah tanggung jawab pemerintah daerah. Ke depan, masalah daftar ini harus disempurnakan. Komisi Pemilihan Umum harus lebih sering berkoordinasi dengan aparat pemerintah daerah, mulai provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, sampai kelurahan.
SITI UMIYATI
Tajur, Ciawi, Bogor
Kemenangan Bersama
PENGAKUAN Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Partai Golkar terhadap keunggulan Partai Demokrat dalam perhitungan cepat sejumlah lembaga survei patut diacungi jempol. Sportivitas untuk mengakui kemenangan lawan menjadi hal menarik dalam budaya politik di Indonesia. Saya berharap para tokoh partai lain bisa mengikutinya. Saya setuju dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan kemenangan Partai Demokrat merupakan kemenangan bersama.
RICO GRAISNANDA
Perumahan Bumi Panggugah, Ciomas, Bogor
Pemilu di Aceh Aman
BANYAK yang mengkhawatirkan pelaksanaan pemilu di Aceh tidak aman. Pasalnya, tingkat kriminalitas di sana cukup tinggi menjelang pemilihan. Kepolisian Republik Indonesia sempat menetapkan beberapa wilayah Aceh dalam kategori rawan dan mengerahkan aparatnya di setiap tempat pemungutan suara.
Alhamdulillah, pemungutan suara di provinsi itu tanpa insiden serius. Sampai hari ini belum ada laporan tentang aksi kekerasan yang terjadi saat pemungutan suara. Beberapa warga yang menggunakan hak pilihnya berharap agar pemilu bisa membawa perbaikan yang lebih baik di Aceh.
CUT ANGGI
Villa Ciomas Indah, Ciomas, Bogor
–Redaksi menerima surat senada dari T. Ishak Daud di Lhok Seumawe, Aceh.
Kambing Hitam Pemilu
HASIL quick count sejumlah lembaga survei dan penghitungan suara sementara Komisi Pemilihan Umum memperlihatkan Partai Demokrat unggul diikuti PDIP, Golkar, PKS, PPP, dan PAN. Dua partai baru yaitu Gerindra dan Hanura yang sejak masa kampanye gencar beriklan harus puas di posisi delapan dan sembilan.
Banyak prediksi mengatakan posisi itu sulit berubah. Tak mengherankan kalau partai-partai kecil menggalang kekuatan untuk menggugat penyelenggaraan pemilu dengan dugaan terjadi kecurangan sistematis. Rencana itu tercetus setelah 22 petinggi partai berkumpul.
Tapi, bagaimana mungkin sebuah kecurangan-apalagi secara sistematis-terjadi ketika iklim demokrasi dan transparansi sedang gencar-gencarnya dikembangkan? Maka, tidak usahlah mencari-cari kambing hitam.
RICARD RADJA
Jl. Kejora ,Tova, Kupang, NTT
–Redaksi menerima surat yang sama dari Gerry Setiawan di Condet, Jakarta Timur.
Tak Bisa Memilih
SAYA sangat kecewa karena tidak masuk daftar pemilih tetap. Beberapa kali saya menanyakan ke pejabat RT mengenai kartu pemilih. Tapi, menurut Ketua RT, untuk pemilu kali ini tidak ada kartu pemilih, cukup dengan menunjukkan kartu tanda penduduk.
Ternyata, dua hari sebelum pemilihan, semua warga kecuali saya mendapat surat pemberitahuan pemungutan model C4. Ketua RT beralasan, "Mbak bukan orang sini." Padahal saya mempunyai kartu tanda penduduk yang sah di wilayah itu. Saya mengimbau penduduk yang tidak dibolehkan memilih pada pemilu kemarin untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah.
VENNY DAMANIK
Kwitang, Jakarta Pusat
Akibat Asal Rekrut
SUDAH ada prediksi bahwa banyak calon legislator yang tak terpilih akan mengalami gangguan jiwa. Tragisnya, seorang dari mereka nekat gantung diri. Banyaknya calon bertingkah aneh antara lain karena partai politik asal-asalan dalam merekrut. Mereka diiming-imingi harapan semu. Apa jadinya jika para calon ini menang? Mungkin tidak peduli kepada rakyat yang diwakili. Sadarilah bahwa bila ingin bertarung, bersiap-siaplah menerima risiko menang atau kalah. Terimalah kegagalan dengan hati yang ikhlas, karena mungkin Anda belum pantas menjadi wakil rakyat.
HASANNUDIN
Jl. Giring-giring, Depok, Jawa Barat
Problem Pemilu
ADA dua problem utama dalam pemilu kemarin. Pertama, banyak masyarakat tidak memilih. Ini bisa karena tidak masuk daftar pemilih tetap atau tidak memilih sebagai pilihan. Tidak tercantumnya nama dalam daftar disebabkan beberapa hal, seperti pendataan penduduk oleh lembaga kependudukan dan catatan sipil yang tidak maksimal. Komisi Pemilihan Umum pun tidak maksimal dalam melakukan validasi. Akibatnya, banyak penduduk yang tertera sebagai pemilih pada pemilu 2004 atau pemilihan kepala daerah justru tidak terdaftar lagi pada pemilu kali ini.
Kedua, banyak masyarakat tidak tahu cara memilih. Akibatnya, tak sedikit surat suara batal akibat kesalahan memilih atau mencontreng. Mungkin ini lantaran metode pencontrengan baru pertama kali diterapkan. Terlepas dari problem-problem tadi, pemungutan suara pada umumnya berlangsung baik. Semoga kesalahan itu dikurangi pada pemilihan presiden.
RONALD SURBAKTI
Tebet , Jakarta Selatan
RALAT
Mohon maaf atas kekeliruan ini.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
