• Home
  • 20 April 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 20 April 2009

    Dunia Anggie dalam Tari

    GADIS berkaus dan bercelana pendek itu tenggelam dalam telepon genggamnya. Nada panggil, tulalit, dan musik bersahut-sahutan. Ia sesekali tampak riang, lalu terdiam, bahkan kesal. Telepon pun dibanting. Ia kini hanya berteman sepotong kursi. Lalu aneka gerakan yang tak beraturan menghambur di panggung. Ia mengentak, meliuk, dan menjatuhkan diri.

    Ketidakteraturan itu perlahan berubah harmonis. Sang penari berayun di selembar kain putih yang menjuntai dari langit-langit. Ia pun melayang dan berputar. Layar di belakangnya membentuk pusaran-pusaran hitam. Gadis itu seolah terseret ke dalamnya-seiring dengan alunan irama new age yang menenangkan.

    Itulah "......", tarian karya koreografer Andara Firman Moeis. Bersama tarian lainnya, Inilah Aku, Anggie-sapaan akrab Andara-mementaskannya di Teater Salihara, Selasa dan Rabu pekan lalu. Anggie bekerja sama dengan rekan penarinya: Siti Ajeng, Graze Susan, Risa Setiana, Mei Lia Nita, Dilliani, dan Nur Hasanah.

    Sesuai dengan judul tarinya yang titik-titik belaka, Anggie memang ingin mengusung tema kekosongan. Ia mencoba mengekspresikan kehidupan di kota besar yang sarat modernisasi, teknologi, dan kesibukan. Semua kegemerlapan itu sering justru bermuara di kekosongan. Kehampaan jiwa.

    Anggie, 23 tahun, becermin dari diri sendiri. Ia bercerita setiap hari selalu lekat dengan BlackBerry, Facebook, dan aneka peranti "kemajuan zaman". Ia juga selalu tenggelam dalam pusaran kesibukan perkotaan: jadwal yang padat, kemacetan, dan kebisingan kota besar. Anggie mencoba merekam dinamika kehidupan metropolis yang dilalui seorang remaja menjelang dewasa. "Bisa dibilang, tarian ini gue banget," katanya.

    Anggie sudah mengecap dunia tari sejak masa kanak-kanak. Kecintaan itu mengantarnya menjadi sarjana Jurusan Tari Institut Kesenian Jakarta. Selama ini, ia telah banyak tampil sebagai penari dalam sejumlah karya koreografer Tanah Air: Sardono W. Kusumo, Sukarji Sriman, Benny Krisnawardhani, Maria Bernadetta, dan Rully Noviawati. Selain menari, ia juga menciptakan karya tarinya sendiri: It 2:2, Kehendak, Inilah Aku, Bius, dan Di Tangga.

    Inilah Aku pernah dipentaskan di festival tari The Next Traces yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (2006), Festival Pekan Tari Kontemporer di Taman Budaya Sumatera Barat (2007), dan sebagai promosi Indonesian Dance Festival 2008.

    Tarian ini juga menampilkan tema kekosongan. Para perempuan duduk di kursi: ada yang tepekur, mendongak, dan mengangkat kaki. Semua terdiam. Tiba-tiba kursi dibanting, musik mengentak, kesunyian pun pecah. Bangku-bangku itu dibanting, dielus-elus, diputar. Para penari larut dalam gerakan masing-masing. Suara gelombang radio berpendar: siaran berita, dangdut, laporan lalu lintas, juga Toxic-nya Britney Spears. Hiruk-pikuk dan senyap berganti-ganti, bagai kota dan jiwa-jiwa yang sepi. Anggie mampu merangkai kesehariannya menjadi adegan yang "puitis".

    Koreografer senior Sardono W. Kusumo menyatakan karya Anggie tak hanya sukses menampilkan banyak teknik menari, tapi juga mengungkapkan sesuatu dari dunianya sebagai "anak kota". Menurut Sardono, di balik keberagaman gerakan tarian-tarian itu, Anggie justru menampilkan kontinuitas. Gerakannya juga mencerminkan energi dan arus dari dalam tubuhnya sendiri.

    Sardono menilai kelebihan koreografer muda macam Anggie adalah mereka bisa menemukan bahasa sendiri. Tak mesti mengikuti atau terpengaruh generasi pendahulunya. Ini berita menggembirakan dalam dunia tari kontemporer Indonesia-yang ditunjang makin suburnya arena pementasan.

    Andari Karina Anom


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Tari

Dunia Anggie dalam Tari

Agama

Catatan Pinggir Kiai Petuk

Televisi

Acara Khusus Kaum Narsis

Layar

...Setelah Superhero Tewas

Pilar-pilar Novel Grafis

Bertemu Dr Manhattan di Layar Besar Itu

Seni Rupa

Jejak Nashar di Pulau Dewata

Eulogi untuk Nashar

Merekam Kenangan Masa Jepang

Buku

Para Jenius dan Orang Biasa

Album

PENGUKUHAN
Djoko Wahyono dan Mudasir

Catatan Pinggir

Estaba la Madre

TEMPO|interaktif

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif