GADIS berkaus dan bercelana pendek itu tenggelam dalam telepon genggamnya. Nada panggil, tulalit, dan musik bersahut-sahutan. Ia sesekali tampak riang, lalu terdiam, bahkan kesal. Telepon pun dibanting. Ia kini hanya berteman sepotong kursi. Lalu aneka gerakan yang tak beraturan menghambur di panggung. Ia mengentak, meliuk, dan menjatuhkan diri.
Ketidakteraturan itu perlahan berubah harmonis. Sang penari berayun di selembar kain putih yang menjuntai dari langit-langit. Ia pun melayang dan berputar. Layar di belakangnya membentuk pusaran-pusaran hitam. Gadis itu seolah terseret ke dalamnya-seiring dengan alunan irama new age yang menenangkan.
Itulah "......", tarian karya koreografer Andara Firman Moeis. Bersama tarian lainnya, Inilah Aku, Anggie-sapaan akrab Andara-mementaskannya di Teater Salihara, Selasa dan Rabu pekan lalu. Anggie bekerja sama dengan rekan penarinya: Siti Ajeng, Graze Susan, Risa Setiana, Mei Lia Nita, Dilliani, dan Nur Hasanah.
Sesuai dengan judul tarinya yang titik-titik belaka, Anggie memang ingin mengusung tema kekosongan. Ia mencoba mengekspresikan kehidupan di kota besar yang sarat modernisasi, teknologi, dan kesibukan. Semua kegemerlapan itu sering justru bermuara di kekosongan. Kehampaan jiwa.
Anggie, 23 tahun, becermin dari diri sendiri. Ia bercerita setiap hari selalu lekat dengan BlackBerry, Facebook, dan aneka peranti "kemajuan zaman". Ia juga selalu tenggelam dalam pusaran kesibukan perkotaan: jadwal yang padat, kemacetan, dan kebisingan kota besar. Anggie mencoba merekam dinamika kehidupan metropolis yang dilalui seorang remaja menjelang dewasa. "Bisa dibilang, tarian ini gue banget," katanya.
Anggie sudah mengecap dunia tari sejak masa kanak-kanak. Kecintaan itu mengantarnya menjadi sarjana Jurusan Tari Institut Kesenian Jakarta. Selama ini, ia telah banyak tampil sebagai penari dalam sejumlah karya koreografer Tanah Air: Sardono W. Kusumo, Sukarji Sriman, Benny Krisnawardhani, Maria Bernadetta, dan Rully Noviawati. Selain menari, ia juga menciptakan karya tarinya sendiri: It 2:2, Kehendak, Inilah Aku, Bius, dan Di Tangga.
Inilah Aku pernah dipentaskan di festival tari The Next Traces yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (2006), Festival Pekan Tari Kontemporer di Taman Budaya Sumatera Barat (2007), dan sebagai promosi Indonesian Dance Festival 2008.
Tarian ini juga menampilkan tema kekosongan. Para perempuan duduk di kursi: ada yang tepekur, mendongak, dan mengangkat kaki. Semua terdiam. Tiba-tiba kursi dibanting, musik mengentak, kesunyian pun pecah. Bangku-bangku itu dibanting, dielus-elus, diputar. Para penari larut dalam gerakan masing-masing. Suara gelombang radio berpendar: siaran berita, dangdut, laporan lalu lintas, juga Toxic-nya Britney Spears. Hiruk-pikuk dan senyap berganti-ganti, bagai kota dan jiwa-jiwa yang sepi. Anggie mampu merangkai kesehariannya menjadi adegan yang "puitis".
Koreografer senior Sardono W. Kusumo menyatakan karya Anggie tak hanya sukses menampilkan banyak teknik menari, tapi juga mengungkapkan sesuatu dari dunianya sebagai "anak kota". Menurut Sardono, di balik keberagaman gerakan tarian-tarian itu, Anggie justru menampilkan kontinuitas. Gerakannya juga mencerminkan energi dan arus dari dalam tubuhnya sendiri.
Sardono menilai kelebihan koreografer muda macam Anggie adalah mereka bisa menemukan bahasa sendiri. Tak mesti mengikuti atau terpengaruh generasi pendahulunya. Ini berita menggembirakan dalam dunia tari kontemporer Indonesia-yang ditunjang makin suburnya arena pementasan.
Andari Karina Anom
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
