ADA tayangan di layar kaca memamerkan adegan seorang pemuda push-up dengan hanya bertumpu pada jari-jari tangan. Mirip dengan bintang film laga. Lalu, muncul adegan remaja balapan sepeda motor. Kemudian disusul penampilan remaja berseragam sekolah menengah atas yang gila-gilaan bermain musik.
Aksi-aksi itu adalah contoh tayangan rekaman video amatir dalam program Narsis TV episode ke-7 awal Maret lalu di Global TV. Bila ada yang bertanya, kenapa acara yang penuh dengan pamer diri seperti itu ditayangkan? Jawabannya: memang sesuai dengan tema acara. "Untuk menampung aksi-aksi narsis," kata Kristoforus Demon Watudey, produser Narsis TV.
Global TV meluncurkan program acara itu sejak 14 Februari 2009, ditayangkan setiap Sabtu dan Minggu pukul 10.30 pagi. Global bekerja sama dengan pengelola situs, Mobilelounge Media, dalam menerima kiriman rekaman video. Orang yang ingin rekaman videonya ditayangkan harus mengunggahnya dulu di situs jejaring sosial Narsis TV. "Tentu kami seleksi dan retouch lagi," kata Ito, panggilan Kristoforus.
Kriteria video yang akan ditayangkan bisa dikatakan bebas, kecuali tak boleh mengandung penghinaan terhadap suku, agama, dan ras, serta tak berisi pornografi. Setiap episode rata-rata diputar 15 kiriman rekaman video berdurasi masing-masing sekitar satu menit. Acaranya dikemas seperti nonton bersama, dipandu pembawa acara.
Dalam setiap episode juga dipilih video terbaik, dan pengirimnya mendapat hadiah Rp 500 ribu. "Sekadar pancingan agar terpacu menghasilkan karya bagus," kata Kristoforus. Setiap tiga bulan sekali rencananya digelar pemilihan rekaman untuk mendapatkan bintang narsis alias video yang berisi aksi paling menonjol dan pamer diri.
Adapun istilah narsis digunakan sebagai nama program, selain karena sesuai dengan konsepnya, juga karena terdengar lebih populer dan menjual. Istilah ini, seperti sering kita dengar, biasa digunakan untuk menunjuk perilaku orang yang berlebihan membanggakan diri sendiri.
Asal katanya dari mitologi Yunani. Narcissus yang tampan, putra Dewa Sungai, mendapat hukuman dari dewa-dewa setelah menampik cinta peri Echo. Narcissus dibuat tergila-gila dengan bayangannya sendiri. Tokoh psikoanalisis Sigmun Freud kemudian mengadopsi mitologi itu untuk menjelaskan sifat kebanggaan, penghargaan, dan pemusatan diri sendiri-diistilahkan dengan sifat narsisisme. Menurut dia, setiap orang punya sifat narsis.
Semua orang sebenarnya narsis. Sehingga peminat tayangan narsis di televisi ini tak sedikit. Dalam waktu dua bulan, anggota situs Narsis TV mencapai 40 ribu orang. "Setiap hari tambah 900 member baru," kata Head of Production Mobilelounge Media, Ita Kiswanto. Dari anggota baru itu, sedikitnya 200 orang mengunggah rekaman video. Memang hanya anggota yang dapat mengunggah atau sekadar mengakses rekaman video di situs. Pengelola situs kemudian mengirimkan rekaman video ke Global TV.
Sambutan pemirsa ternyata lumayan, menurut survei Nielsen Media Research. Narsis TV mendapat rating 0,6 persen, ditonton kurang lebih 303 ribu pemirsa dari total populasi penonton yang berjumlah 46,7 juta orang. Tapi capaian ini masih di bawah sesama program bergenre light entertainment lainnya seperti The Master Duel (rating 3,8), John Pantau (1,6), Playlist (1,6), Kriminal Heboh (1,3).
Bagi sineas Garin Nugroho, antusiasme masyarakat terhadap Narsis TV itu tak mengejutkan. "Itu wujud lompatan tradisi lisan ke tradisi visual," tuturnya. Wujud lompatan itu juga terlihat pada contoh lain, misalnya membeludaknya peserta festival film pendek. "Bisa seribu film meski kualitasnya tak semua bagus," kata Garin.
Nah, industri televisi kemudian memanfaatkan fase lompatan ini untuk mengelola penonton dengan cara melibatkannya dalam proses merumuskan tontonannya. Namun disayangkan acara yang melibatkan masyarakat itu belum mendorong kekritisan publik untuk perbaikan sistem lingkungannya. "Ujung-ujungnya masih konsumerisme," kata Garin.
Harun Mahbub
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
