• Home
  • 18 Mei 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 Mei 2009

    Saat Dan Brown Menggedor Layar

    ANGELS AND DEMONS
    Sutradara: Ron Howard
    Skenario: David Koepp, Akiva Goldsman,
    Berdasarkan novel karya Dan Brown
    Pemain: Tom Hanks, Ewan McGregor
    Produksi: Sony Pictures Entertainment, Columbia Pictures, Imagine Entertainment, dan Brian Grazer/John Calley Production

    ROBERT Langdon kembali lagi ke Vatikan. Dijemput dengan jet (alangkah enaknya menjadi ahli simbol seperti si Langdon), dia menyeberangi benua untuk mencari tahu apakah benar, setelah wafatnya sang Paus, ada upaya bangkitnya Illuminati. Illuminati dipercaya sebagai sebuah kelompok rahasia yang hidup beberapa abad silam. Kelompok ini, konon, menentang gereja dan lebih percaya pada empat unsur alam: tanah, udara, api, dan air, sebagai penuntun hidup. Dalam film ini, penonton digiring bahwa Illuminati tampaknya tengah mengguncang Gereja.

    Pemberontakan itu dilakukan dengan menculik empat kardinal yang seharusnya mengikuti Konklaf, ritual para kardinal untuk proses pemilihan paus. Camerlengo Patrick (Ewan McGregor), seorang pastor yang sehari-hari mengurus kebutuhan sang Paus, tampak paling terpukul dengan kepergiannya. Patrick memberikan beberapa informasi yang mendorong Langdon mengasumsikan kelompok Illuminati ada di belakang upaya penghancuran Vatikan. Teori sementara: dengan "vakum"-nya kepemimpinan dan juga dengan meledaknya sebuah silinder yang dicuri dari laboratorium di Jenewa, sang penjahat berharap, otoritas Gereja akan goyah.

    Film yang dibuat berdasarkan novel Dan Brown ini, yang dibuat seolah sebagai sekuel dari film Da Vinci Code, menekankan dua hal: pertama, bisakah ahli simbol Langdon dan ilmuwan cantik Italia Vittoria Vetra (Ayelet Zurer) menghalangi meledaknya silinder? Bisakah Langdon menyelamatkan empat kardinal malang yang diculik dan disiksa?

    Keahlian Langdon adalah membaca simbol. Sutradara Ron Howard, dengan kamera yang sibuk (hingga terkadang memusingkan penonton), mengajak kita berkeliling Vatikan, yang memiliki sejarah pada setiap jejaknya. Dari satu gereja ke gereja lain, Langdon tak hanya berfungsi sebagai seorang ahli yang menerjemahkan arti simbol yang memberikan indikasi lokasi para kardinal yang disembunyikan; dia juga sekaligus menjadi pemandu wisata bagi penonton yang belum pernah menginjak Vatikan, yang memang luar biasa cantik dan agung itu.

    Belajar dari kesalahan film Da Vinci Code, yang disajikan dengan akting datar dan hampir membuat kita tertidur (meski sebetulnya ceritanya sungguh kontroversial dan toh berhasil meraup begitu banyak untung), kini sutradara Howard paham: penonton menginginkan sebuah film thriller. Persoalan boleh saja konflik sejarah, soal agama, atau bahkan buron yang dikejar-kejar. Yang penting penonton mengharapkan ketegangan yang meyakinkan. Dan ketegangan itu absen dalam film Da Vinci Code.

    Kini film Angels and Demons malah menyajikan ketegangan yang melimpah-ruah. Musik menggedor jantung setiap lima menit. Saat satu kardinal ditemukan, polisi selalu datang terlambat (seperti umumnya resep film thriller). Dan kita akhirnya bisa menebak, isi film ini adalah Langdon yang berlari-lari ke sana-kemari untuk menyelamatkan keempat kardinal itu. Tak ada kejutan; tak ada debar di dada yang penuh pesona.

    Penampilan Tom Hanks dan Ewan McGregor tak buruk, meski juga tak terlalu istimewa. Film-film yang diangkat dari novel Dan Brown yang banyak penggemar itu sebetulnya membutuhkan skenario yang fokus dan menampilkan ketegangan yang mencapai puncak. Tetapi, saking ingin tegang terus, adegan empat kardinal yang disembunyikan di beberapa tempat yang penuh simbol itu menjadi rangkaian klimaks yang terlalu beruntun. Padahal adegan pembakaran itu seharusnya mampu mengirim rasa keji sekaligus spektakuler.

    Kejutan siapa sesungguhnya "kelompok jahat" tidak cukup meyakinkan. Bagaimana operasi sebesar itu hanya dilakukan oleh jumlah orang yang sangat minim? Dan sejak awal hingga pertengahan film, kepada kita disajikan kebodohan Swiss Guard yang seharusnya menjaga keamanan Vatikan.

    Tetapi yang mungkin akan melegakan produser, film ini sudah pasti tak akan diprotes seperti film Da Vinci Code, karena jelas keutuhan dan keagungan Gereja dipertahankan dan dibela, meski Langdon lebih menganggap bantuannya untuk menyelamatkan itu semua tugasnya sebagai manusia dan sebagai ilmuwan, bukan karena soal keimanan.

    Mereka yang kecewa dengan film Da Vinci Code mungkin akan lebih terhibur dengan Angels and Demons, meski ini tetap bukan film thriller terdahsyat yang pernah lahir di Hollywood.

    Leila S. Chudori


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Demokrasi, Kecewa dan Harap

Seni Rupa

Gelora Revolusi dalam Balok Piksel

Dari Wajah Sejawat nan Lebam

Tari

Merayakan Kenikmatan Tari

Album

MENINGGAL
Ibrahim Syamsuddin

Catatan Pinggir

Untuk Boediono: Sebuah Titipan dari Sebuah Gedung Bersejarah

TEMPO|interaktif

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

Nasional

SNMPTN Jalur Undangan Diumumkan Sore Ini  

Internasional

Kakak Aktivis Chen Dilaporkan Hilang  

Teknologi

Robot Korea di Kontes Robot Cerdas Indonesia

Metro

Dua Pencurian Sepeda Motor di IPB dalam 10 Hari Terakhir

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif