• Home
  • 08 Juni 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 Juni 2009

    Nyawa Baru Kapten Kirk

    Berdasarkan film bioskop terakhirnya yang buruk, Neme-sis (2002), rasanya sulit untuk tidak percaya bahwa tamat sudah riwayat Star Trek. Tapi pemegang hak fiksi yang sudah berumur 40 tahun lebih itu rupanya tak menyerah begitu saja. Mereka mencoba lagi dan kali ini mereka tertolong oleh J.J. Abrams. Di tangan sutradara yang antara lain pernah ikut menggarap serial televisi Alias ini segala sesuatunya seperti hidup lagi, dengan pesona dan tata artistik yang sayang untuk dilewatkan.

    Inilah film Star Trek yang paling memikat sejak 1979, ketika untuk pertama kalinya serial televisi hasil kreasi Gene Roddenberry ini dibuatkan versi layar lebarnya. Anda tak harus paham science fiction atau bahkan menjadi trekkie-penggemar fanatik Star Trek-un-tuk bisa menyelami ceritanya, dan me-nikmati suspens dan kegembira-an- di dalamnya. Rasanya, siapa saja yang- kesulitan mencerna gagasan tentang warp, makhluk bertelinga runcing, -perjalanan menembus waktu, atau aneka hal "ilmiah" lainnya bakal sejenak bisa mengabaikan mimpi buruknya itu.

    Abrams, yang baru lahir ketika Star Trek pertama kali ditayangkan pada 1966, memulai epiknya ini dengan adegan yang menyalakan empati. Dalam- tempo cepat, dia berpindahpindah antara dua fragmen: saat ibunda James Tiberius Kirk hendak melahirkan sang anak yang kelak menjadi kapten pesawat ruang angkasa USS Enterprise dan sebuah pertarungan antargalak-si yang timpang; sementara Nyonya Kirk mengejan, kesakitan, dan cemas, sang suami terpaksa mengorbankan diri demi keselamatan 800 awak pesawat yang baru saja dia pimpin dari serangan kaum Romulan, salah satu dari ras alien di semesta Star Trek.

    Fokus film kesebelas dari rangkaian film Star Trek ini memang jalan hidup James (diperankan oleh Chris Pine). Ceritanya mengikuti kejadiankejadian penting yang mentransformasikan James dari seorang anak berandalan, angkuh, dan keras kepala menjadi kapten pesawat ruang angkasa milik United Federation of Planets, perhimpunan antarplanet di Galaksi Bima Sakti. Kamera pun mengikuti James kecil yang mengebut dengan mobil antik milik ayah tirinya dan berusaha kabur dari polisi yang mencegatnya, lalu saat James dewasa berulah di bar dan memancing timbulnya perkelahian.

    Seraya memperkenalkan karakter James, Abrams bersama tim efek khususnya memamerkan mahakarya yang sulit untuk membuat kita tak berdecak kagum: di latar belakang, saat James akhirnya mengikuti ajakan Kapten Pike untuk bergabung menjadi penerbang ruang angkasa, di balik kabut tipis pagi hari di sebuah tempat di Iowa terlihat galangan kapal ruang angkasa gigantis milik bumi.

    Pada saat yang sama, nun di Pla-net Vulcan, 16 tahun cahaya dari bumi, Spock juga sedang menjalani proses- menuju kedewasaan. Blasteran seorang Vulcan dengan manusia yang kelak menjadi tangan kanan James ini risau terhadap jati dirinya. Dia cerdas, tapi beremosi labil-dua sisi dari watak dasarnya yang menunjukkan asalusulnya. "Kau akan selalu menjadi anak dari dua dunia, dan sepenuhnya sanggup memutuskan nasibmu sendiri. Pertanyaan yang kau hadapi: jalan mana yang akan kau pilih?" kata ayahnya. Zachary Quinto (pemeran Sylar dalam serial Heroes) begitu impresif menghadirkan sosok Spock.

    Abrams bekerja dengan kelasnya. Dia menata uruturutan adegan yang begitu mengalir dan mudah dicerna. Dia tahu kapan saatnya memberi penonton apa yang mereka mau dan kapan harus menahan diri. Dan tentu saja dia sangat dibantu oleh skenario Roberto Orci dan Alex Kurtzman (The Transformers), yang memang tak menyediakan ruang untuk "mati angin", termasuk dengan menyelipkan humor segar di sanasini. Tak kalah pentingnya: para pemain tahu persis bagaimana menjadikan setiap peran mereka bersinar.

    Satusatunya kekurangan adalah minimnya latar belakang Nero, sang antagonis yang datang dari masa depan dengan dendam meluap dan berniat mengubah takdir. Tapi hal ini tak mengurangi kesan yang bakal timbul selepas menonton: rasanya akan sulit untuk tidak mengatakan, meminjam salam kaum Vulcan, "May it live long and prosper." Betul, jayalah-dan semoga segera ada sekuelnya.

    Purwanto Setiadi


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Pada Mereka yang Berseragam

Tari

Hip-Hop Plus-Plus

Album

Pelantikan
Perwira Transportasi

Surat Dari Redaksi

Bercakap dengan Obama di Kairo

Catatan Pinggir

Memihak

TEMPO|interaktif

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif