Surat untuk Calon Presiden (1)
SEBELUM bencana, jarak desa saya ke sekolah lima kilometer. Setelah lumpur Lapindo meluap, rumah saya ke sekolah makin jauh, berputar-putar hingga sepuluh kilometer. Biasanya saya berangkat pukul enam dan sampai di sekolah setengah tujuh. Sekarang, saya sering terlambat sekolah. Angkot pun tak ada, sampai saya jalan kaki. Paling, kalau ada, saya mencari tumpangan.
Bagaimana tanggapan bapak atau ibu presiden yang terpilih nanti? Apa tidak kasihan melihat saya setiap hari menderita?
NUR TAUFIQ FIRMANSYAH
SMU Mukamat Diya 4,
Porong, Sidoarjo
Surat untuk Calon Presiden (2)
TOLONG dengar dan baca coretanku ini. Dahulu, aku merasa damai dan tenteram. Tiap malam selalu tidur dengan pulas. Pagi hari berangkat ke sekolah bersama teman-teman sambil bercanda ria. Sedangkan bapak dan ibuku pergi mencari uang. Aku senang sekali.
Pada suatu malam aku dikejutkan oleh orang yang menjerit minta tolong karena tanggul lumpur Lapindo jebol. Rumah, sawah, sekolah, semua hancur. Mau berangkat sekolah jadi malas. Habis, tempatnya tidak layak untuk belajar. Sawah tidak bisa ditanami. Ibuku jadi pengangguran.
Tolong, kasihani kami. Mudah-mudahan pintu hati bapak atau ibu calon presiden tersentuh. Pada siapa kami meminta kalau bukan kepada calon presiden RI. Sudilah kiranya bapak atau ibu menerima coretanku ini yang menjadi korban lumpur Lapindo Brantas.
ANGGA SUGAINTORO
Porong, Sidoarjo
Surat untuk Calon Presiden (3)
CALON presiden RI tercinta, saya ingin memberitahukan, sebelum ada lumpur Lapindo, desa kami sangat sejuk dan indah. Orang tidak sulit datang ke kampung. Mencari kerja juga tak susah. Ini berubah setelah ada lumpur Lapindo. Jalan ke desa sulit. Akibatnya, mendapat pekerjaan jadi susah sehingga banyak pengangguran.
Lumpur itu sangat berbau. Banyak teman saya sakit karena menciumnya. Mereka jadi tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah. Lumpur itu juga sangat panas. Banyak tanaman yang mati, layu, dan merusak lingkungan hidup. Saya mohon bapak dan ibu calon presiden mengembalikan desa kami yang dahulu.
HISYAM M.
Porong, Sidoarjo
–Redaksi menerima surat senada dari delapan siswa di Sidoarjo yang ditujukan kepada calon presiden.
Tanggapan Lapindo
KAMI perlu menanggapi penjelasan kejadian 29 Mei 2006 pada majalah berita mingguan Tempo rubrik Sains halaman 68, edisi 7 Juni 2009. Pada keterangan kronologis berjudul 29 Mei 2006, tertulis: "Tiba-tiba lumpur muncrat dari perut bumi Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, di area sumur eksplorasi Brantas Inc... dan seterusnya."
Pengungkapan kejadian itu tidak benar dan tak berdasarkan fakta empiris yang ada. Sebab, semburan lumpur panas pada 29 Mei 2006 muncul bukan di area sumur pengeboran Banjar Panji 1 yang berdiri di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Lumpur menyembur di Desa Siring yang berjarak sekitar 200 meter dari lubang sumur pengeboran Banjar Panji 1.
Demikian hal ini kami sampaikan agar publik mengetahui kejadian menyemburnya lumpur di Sidoarjo yang sesungguhnya. Bahwa semburan lumpur bukan berasal dari sumur pengeboran Banjar Panji I. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
SUNARYO SURADI
Media Center Lumpur Sidoarjo
Gedung Srijaya Lt. 4
Jl. Mayjen Sungkono 212-214
Surabaya
Surat untuk Ibunda Manohara
SAYA merasakan kegalauan hati Ibu saat mengetahui Manohara disiksa dan disekap keluarga suaminya yang berkuasa dan berduit. Alhamdulillah Manohara sudah kembali.
Sayang sekali kemunculan Ibu dan Manohara di acara-acara televisi yang tidak perlu dan lebih bernuansa sensasi membuat banyak orang yang mendukung menjadi kecewa. Masyarakat bisa membaca dan menilai. Semua yang baik dan buruk akhirnya terungkap juga karena perbuatan kita sendiri. Allah Maha Tahu.
NIA NARWANDI
niaswien@gmail.com
Nota untuk Manohara
KASUS Manohara, blasteran Indonesia-Prancis, barangkali dianggap mewakili citra harga diri negara sehingga perlu dipulihkan ketimbang azab dan sengsara yang diderita TKI di luar negeri. Dengan demikian peran dan fungsi para diplomat dalam negosiasi gagal. Satu-satunya senjata adalah mengirim surat resmi dalam bentuk nota diplomatik.
Karena Manohara, anggota staf Departemen Luar Negeri Teguh Wardoyo membeberkan betapa diplomatnya berkali-kali mengirim nota diplomatik. Walau terkesan berlebihan, patut memperoleh apresiasi yang tinggi. Departemen menunjukkan kepeduliannya terhadap warganya.
M.E.D NGANTUNG
Jl. Slamet, Setiabudi, Jakarta
Pemerintah Kurang Sosialisasi
RAKYAT telah menggunakan haknya dalam pemilihan legislatif kemarin. Sayangnya, daftar pemilih tetap jauh dari sempurna. Banyak warga tidak terdaftar sehingga tak bisa memilih. Tidak memilih juga bisa karena golput, sebab merasa tidak mempunyai calon. Bisa juga karena tempat pemungutan suaranya tidak sesuai dengan tempat tinggal. Atau juga karena mempunyai urusan pribadi yang tak bisa ditinggalkan.
Menurut saya, pemerintah bisa menguranginya dengan lebih menyosialisasikan pentingnya aktif dalam pemilihan umum. Misalnya dengan membuat iklan di televisi, koran, majalah, internet, atau media lain. Selain itu, warga perlu didaftar berdasarkan lokasi tempat tinggalnya pada saat pemilihan.
HARUCHIKA SETIADI
Siswa SMP Dian Harapan,
Tangerang, Banten
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

