• Home
  • 29 Juni 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Digital
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Juni 2009

    Merindukan King Kembali

    King
    Sutradara: Ari Sihasale
    Skenario: Dirmawan Hatta
    Pemain: Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra, Mamiek Prakoso, Ariyo Wahab
    Produksi: Alenia Pictures

    Sementara sang Bapak mengais-ngais bulu ayam untuk kemudian dijual kiloan ke pabrik kok bulu tangkis, di lapangan desa, anaknya menghajar kok itu dengan sebuah pukulan smash.

    Tejo (diperankan dengan baik oleh Mamiek Prakoso), seorang ayah yang sederhana, mendidik Guntur (Rangga Raditya) sendirian dengan keras. Ibu Guntur wafat beberapa tahun lalu. Guntur biasa diganjar dengan hukuman lari 50 kali atau olah fisik lainnya jika sedang bandel. Kerasnya sikap Tejo lebih karena dia tahu anaknya berbakat menaklukkan lapangan badminton itu tapi masih tak bisa menaklukkan temperamennya. Tejo ingin Guntur menyusul King, Liem Swie King.

    Film debut sutradara Ari Sihasale (sebelumnya dikenal sebagai produser film Denias dan Liburan Seru) ini memiliki premis yang sama dengan film Garuda di Dadaku (Ifa Isfansyah). Kedua film ini berlatar belakang olahraga; film keluarga yang berkisah tentang upaya keras seorang anak yang ingin mencetak prestasi melalui olahraga yang disukainya. Garuda di Dadaku memilih bola; King memilih bulu tangkis.

    Perbedaan kedua film ini ada pada pendekatan dan penggarapan bertutur. King meletakkan drama hubungan anak dan ayah yang lebih kental dan serius dibanding drama antara kakek dan cucu dalam Garuda di Dadaku. Sang ayah begitu keras dan menekan-nekan, tanpa menyisipkan sedikit pun kesan bahwa sesungguhnya dia mencintai dan akan berbuat apa saja demi kepentingan anaknya. Akibatnya, Guntur menjadi anak yang tertekan, mudah marah, mudah mutung karena merasa seluruh dunia tak paham tekanan bapaknya yang luar biasa.

    Suasana babak awal dalam King, meski sesekali diwarnai humor teman-teman Guntur, si keriting Raden (Lucky Martin) mendorong Guntur dengan berbagai cara agar bisa ikut latihan dengan klub kecil di dekat kampungnya di pedalaman Banyuwangi, Jawa Timur. Dengan segala keterbatasan seorang anak desa yang miskin, Guntur menghadapi berbagai gerunjal dalam perjalanan menuju sukses. Tujuan Guntur hanya satu: menjadi pemain terbaik dan bertemu dengan pemain legendaris King.

    Dari sisi bangunan cerita, film King memang jauh lebih meyakinkan dibanding Garuda di Dadaku. Perkembangan karakter dan hubungan ayah dan anak serta ambisi seorang anak desa yang ingin melompat bersama raketnya untuk meraih cita-cita menjadi pemain bulu tangis nasional ditata dengan rapi. Sementara hadangan si kecil Bayu dalam Garuda di Dadaku adalah larangan sang kakek yang menganggap sepak bola permainan yang tidak elite (Tempo, 15-21 Juni 2009), film King menyajikan perjuangan pencapaian menuju cita-cita itu. Dari sisi logika dan visual, bagian perjuangan ini menjadi menarik. Guntur tidak punya raket yang layak; setiap kali dia melakukan smash, raketnya hancur. Raden, si kawan setia, menggantinya dengan senar gitar (curian), lalu menggantinya lagi dengan benang balon (curian), dan akhirnya sang ayah meminjam raket dari pemain badminton desa, dengan jaminan pesawat televisinya yang mungil. Perlahan, di antara ketegangan saraf antara bapak dan anak, kita merasakan sutradara Ari Sihasale membangun emosi penonton dengan gambar: sang ayah dengan gerobak pick-up menggotong satu-satunya motor untuk digadaikan, agar anaknya bisa menuju ke pelatihan di Kudus. Dan jebol sudah benteng air mata kita. Ini adegan yang sungguh berbicara tanpa banyak dialog.

    Tapi jangan salah. Ari sama sekali bukan menyajikan film yang berurai air mata. Adegan-adegan pertandingan antara Guntur dan lawan bebuyutannya, Arya (Jonathan Christie), musuh yang nyebelin itu, tersaji dengan asyik. Menyaksikan gaya Guntur dan Arya di lapangan hampir seperti menonton sebuah koreografi kenangan.

    Kita kembali terlempar ke masa lalu, ketika bulu tangkis menjadi menu khas ruang keluarga Indonesia. Ketika Rudy Hartono dan Liem Swie King jauh lebih penting daripada sinetron.

    Dari sisi penyusunan adegan dan scoring musik, film Garuda Di Dadaku lebih menarik dan penuh perhitungan (meski ilustrator musiknya menggunakan pasangan yang sama, Titi dan Aksan Sjuman). Tapi King lebih unggul dalam menjalin dan menyajikan cerita. Film ini lebih berhasil melibatkan penonton. Kita bisa ikut merasakan bahwa problem dan cita-cita Guntur untuk dirinya dan desanya adalah keinginan dan cita-cita kita juga.

    Nasionalisme pada akhir cerita? Sebetulnya ini membuat tidak nyaman, karena soal cita-cita tak harus selalu identik dengan nasionalisme. Tapi mungkin juga film Garuda di Dadaku dan King sama-sama membuktikan bahwa masyarakat Indonesia rindu pada sesuatu yang bisa dibanggakan.

    Leila S. Chudori


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Memuliakan Pensil dan Charcoal

Surat Dari Redaksi

Satu Masa Para Kandidat

Album

PEMILIHAN
Marzuki Darusman

Catatan Pinggir

Kamar

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif