• Home
  • 29 Juni 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Digital
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Juni 2009

    Gugatan Robot dari Pasar Loak

    Enam bulan lamanya Bayu Prasetyo dan lima kawan mahasiswanya di Politeknik Elektro-nika Negeri SurabayaInstitut Teknologi Sepuluh- Nopember menghabiskan waktunya di dua tempat: laboratorium dan pasar loak di Jalan Demak, Surabaya, Jawa Timur.

    Di pasar loak itu mereka berburu berbagai peralatan elektronik untuk membuat D4=S1, robot yang meraih juara pertama dalam ajang Kontes Robot Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 14 Juni lalu.

    Menurut Bayu, mereka kerap harus blusukan ke sana sampai tiga empat kali dalam sepekan untuk mencari komponen yang dibutuhkan, dari aluminium untuk kerangkanya, sensor penggerak, hingga motor. "Termasuk mesin fotokopi bekas, yang kami pakai sebagai mesin penggerak robot, dapatnya ya di sana," kata Bayu pada Selasa pekan lalu.

    Tim yang dibentuk pada Desember tahun lalu itu diketuai Bayu Prasetyo dan beranggotakan Bayu Sandi Marta, Muhammad Hisyam, Iwan Kurnianto, Agus Suharyanto, dan Arik Setiyono. Semuanya mahasiswa semester IV dan VI di jurusan elektronika dan teknik komputer. Mereka dibimbing Fernando Ardila, dosen muda yang mengajar mata kuliah microcontroller, embedded system, dan rangkaian digital.

    Selain mereka, ada lima tim robot lain yang dikirim kampus mereka ke kontes robot di Yogyakarta itu, dari tim robot cerdas hingga robot seni. Setiap tim terdiri atas tiga mahasiswa. Tim ini dibentuk setelah kampus menyeleksi 150 mahasiswa.

    Panitia kontes mengambil tema "Bersama Kita Bisa Meraih Kemenangan" (Traveling Together for the Victory Drums) dengan memungut tradisi kago rakyat Jepang. Kago adalah semacam tandu atau joli yang digunakan untuk mengangkut tokoh masyarakat atau petinggi saat bepergian jauh. Kago biasanya dipikul oleh dua orang di depan dan belakang, dengan menyusuri hutan, mendaki bukit, dan menuruni lembah.

    Para robot peserta kontes akan meniru kago ini. Dua robot pembawa be-kerja sama untuk memikul robot penjelajah. Salah satu robot pembawa dikendalikan melalui kabel dari jarak jauh dan robot pembawa lain bergerak secara otomatis.

    "Yang satu mesti dijalankan orang, yang satu tinggal pencet tombol saja," kata Muhammad Hisyam, anak tukang reparasi dinamo di Surabaya yang mengaku baru tertarik pada elektronik setelah kuliah.

    Dalam kontes itu, para robot akan melewati rintangan berupa -simulasi gunung dan hutan untuk menuju daerah sasaran. Di sana robot penjelajah harus memukul beduk tiga kali. Robot yang tercepat memukul beduk akan jadi pemenangnya. Konsep ini meng-ikuti aturan kontes robot internasional AsiaPacific Broadcasting Union (ABU) Robocon.

    Dalam pertandingan pada pertengahan Juni lalu, D4=S1 berhasil melaju melewati rintangan yang ada dan memukul beduk dengan catatan waktu 54 detik dari 3 menit waktu yang disediakan. Robot itu pun meraih juara pertama setelah mengalahkan robot Patriot dari Universitas Gadjah Mada dan Shiraru dari Universitas Pendidikan Indonesia.

    Seperti peserta lain, D4=S1 terdiri atas tiga robot. Robot pembawa manualnya memiliki bobot 18,40 kilogram, yang dilengkapi tiga roda-dua di belakang dan satu di depan dan dapat bergerak sejauh 25 meter dalam waktu 30 detik. Untuk menjalankannya, robot ini digerakkan oleh seorang operator melalui pengendali jarak jauh yang terhubung ke badan robot melalui seutas kabel.

    Dalam kontes ini, pengendali robot itu adalah Bayu Sandi Marta, alumnus sebuah pesantren di Jombang, Jawa Timur, yang mengaku sebelum kuliah tak tahu apaapa soal elektronika. "Bagaimana mau tahu banyak, kan di pondok lebih banyak ngaji," kata remaja asal Situbondo ini.

    Adapun robot pembawa otomatis berbobot 18,20 kilogram dan memiliki empat roda, dua di belakang dan dua di depan. Kemampuan geraknya tak jauh berbeda dengan robot manual.

    Kedua robot itu bergerak dengan sebuah aluminium berbentuk persegi empat sebagai tumpuannya. Mereka pu-nya sebuah tiang aluminium setinggi 75 sentimeter yang terpasang tegak di atas tumpuan. Tiang ini menjadi semacam tangan yang mampu memanjang hingga satu meter lebih.

    Adapun robot penjelajah memiliki bobot 9,4 kilogram. Dia juga digerakkan empat roda. Dua roda belakang ber-bentuk kendaraan biasa, tapi dua roda depan berasal dari troli yang bisa bergerak ke samping atau majumundur. "Itu bekas roda lemari," kata Bayu Prasetyo.

    Tinggi robot penjelajah hanya separuh dari tinggi dua robot lain. Tiga batang aluminium berlapis busa terpasang tegak di badan robot dan menjadi tangan bagi si robot kecil. Saat pertandingan, batangan inilah yang menjadi pemukul gong sebagai penanda robot telah menyelesaikan tugasnya.

    Bayu mengatakan ketiga robot ini digerakkan dengan menggunakan aki kering 24 volt. Untuk mengendalikan robot, sebuah chip AVR dipasang di robotrobot ini. Chip buatan Atmel, Amerika Serikat, ini tergolong pe-ngendali mikro yang mu-rah. Dia berfungsi sebagai otak robot.

    Sebelum otak robot itu dipasang, ka-ta Fernando, dia diprogram terlebih da-hulu dengan menggunakan bahasa C. "Pemrograman semacam ini lazim digunakan oleh programer komputer," kata dia.

    Menurut Fernando, semula ro-bot itu diberi nama PCool, pelesetan dari kata "pikul". Tapi, robot peserta lain ternyata banyak yang memakai nama pelesetan "pikul". "Ada 'phicoll', 'pikoll', atau yang lain," ujarnya.

    Maka, untuk membuatnya berbeda, tim itu mengubah nama robot mereka menjadi D4=S1. Nama baru itu, tutur Fernando, berasal dari keprihatinan mereka terhadap jenjang pendidikan D4 (diploma) yang kerap mengalami diskriminasi.

    Sebagian persepsi yang berkembang di masyarakat ataupun di dunia kerja, kata dia, menganggap jenjang D4 masih berada di bawah S1 (sarjana). Padahal, ia menambahkan, secara keilmuan dan masa belajar, keduanya tidaklah jauh berbeda, kecuali bahwa mahasiswa D4 lebih banyak melakukan praktek di lapangan langsung.

    Fernando mengaku pernah bertemu seorang alumnus D4 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang ditolak saat melamar kerja di sebuah kantor. Pihak kantor itu beralasan bahwa mereka butuh lulusan dari jenjang S1.

    Nama robot mereka seakan menggarisbawahi persamaan kedua jenjang itu. "Sehingga namanya lebih terdengar sebagai sebuah gugatan," kata Fernando.

    D4=S1 yang baru saja memenangi kontes itu sebenarnya merupakan robot formula keempat. Tiga formula yang lain dibongkar karena tak memenuhi kriteria kontes.

    Perakitan robot ini, kata Bayu, sepenuhnya dibiayai kampus. Tim pun mendapat keistimewaan menggunakan sarana dan fasilitas kampus selama 24 jam.

    Tim itu kini sedang mempersiapkan robot baru yang akan dibawa ke kontes robot internasional ABU Robocon di Tokyo, Jepang, pada Agustus mendatang. Berbagai keunggulan D4=S1 akan disempurnakan, seperti kecepatan, ketangkasan, atau keharmonisan geraknya. Targetnya, "Robot baru harus lebih cepat lagi," kata Bayu.

    Kurniawan, Anang Zakaria


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Memuliakan Pensil dan Charcoal

Surat Dari Redaksi

Satu Masa Para Kandidat

Album

PEMILIHAN
Marzuki Darusman

Catatan Pinggir

Kamar

TEMPO|interaktif

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif