• Home
  • 29 Juni 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Digital
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Juni 2009

    Info Hidup Sehat

    Bagaimana Melawan Jet Lag

    Musim liburan anakanak sekolah telah tiba. Namun yang bepergian tentu saja bukan hanya anakanak, melainkan juga orang tua dan kakekneneknya. Bepergian jauh melintasi batas negara, benua,- dan waktu tentu menjadi rencana menyenangkan bagi keluarga.

    Selain mempersiapkan baju dan bekal, juga harus diperhitungkan akibat bepergian melintasi batas waktu: jet lag. "Pusat penyakit itu di otak, karena ada gangguan ritme biologis," ujar dokter ahli jiwa, Pra-yitno. Gangguan itu merupakan kondisi psikologis yang terjadi akibat perubahan ritme circadian, irama biologis yang mengatur respons tubuh terhadap perubahan lingkungan.

    Penyakit tersebut sering juga disebut sindrom perbedaan zona waktu. "Biasanya bepergian ke satu tempat minimal berbeda waktu delapan jam," ujar guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta itu. Tubuh manusia memiliki irama biologis, yang meng-atur saat terjaga, tidur, kondisi terang, dan gelap. Saat tubuh dihadapkan pada lingkungan baru dengan perbedaan waktu yang jauh, tubuh akan kesulitan menyesuaikan diri. "Kondisi itulah yang disebut jet lag," kata Ketua Perhimpunan Kesehatan Wisata Indonesia, Profesor Kis-yanto, dalam acara simposium Aerospace Medicine di Jakarta, awal bulan ini.

    Seperti halnya pendapat Prayitno, menurut Kisyanto, terdapat bagian kecil di dalam otak, yaitu hipotalamus, yang bertugas seperti alarm untuk fungsi organ tubuh, seperti rasa lapar, haus, dan mengantuk. Bagian itu jugalah yang mengatur tempe-ratur tubuh, tekanan darah, level hormon, dan gula darah dalam darah. Tubuh merespons waktu melalui saraf pada mata untuk mendeteksi waktu terang dan gelap, lalu diteruskan ke hipotalamus. Ketika mata menerima rangsangan cahaya yang lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya, hipotalamus akan merespons dengan cepat. Sedangkan organ tubuh belum siap, terjadilah yang sering disebut jet lag.

    Dalam ilmu kesehatan jiwa, menurut Prayitno, gejala itu juga disebut sleep disorder, penyakit gangguan tidur, serupa dengan insomnia. Simptom jet lag bisa bermacammacam, seperti dehidrasi, kelelahan, kepala pusing, hidung berair, sulit tidur (insomnia), mengalami disorientasi, bertindak irasional, atau bahkan depresi ringan. Setiap individu memiliki efek jet lag berbedabeda. Orang yang berusia lebih muda biasanya paling lama empat hari, sedangkan pada orang tua di atas 40 tahun, gangguan bisa terjadi sepekan. "Biasa pada usia di atas 40 tahun daya tubuh sudah berkurang, belum lagi berbagai penyakit degene-ratif seperti diabetes dan jantung koroner, yang biasa-nya mengikuti usia," ujar Prayitno. Perempuan juga lebih berisiko mengalami jet lag dibandingkan pria, karena faktor hormon estrogennya.

    Untuk mengatasi masalah itu, bekas Direktur Kesehatan TNI Angkatan Laut berusia 75 tahun yang sering bepergian ke luar negeri ini menggunakan tidur dalam penerbangan. "Minimal tidur delapan jam, sampai di tempat badan sudah terasa sehat," ujarnya. Selain itu, orang dapat melakukan senam kecil, yang biasanya ada dalam buku petunjuk di pe-nerbangan atau tayangan di televisi pesawat. "Jika transit, gunakan waktu untuk jalanjalan, jangan duduk saja," kata Prayitno.

    Mengatasinya dengan obat juga bisa, seperti dengan obat antihistamin atau antialergi. "Karena udara ke-ring di pesawat, agar tak kena dehidrasi atau kekurangan ca-iran," ujarnya. Ada juga dokter yang menggunakan suplemen melatonin, untuk me-rangsang hormon yang diproduksi di otak oleh kelenjar pinela. Melatonin berasal dari hasil pengolahan asam amino triptofan. Proses sintesis dan pelepasan melatonin distimulus kegelapan dan produksinya ditekan oleh cahaya.

    Dokter Prayitno tak menyarankan penggunaan obat dan suplemen. "Lebih baik mengatasi secara alamiah," ujarnya. Prayitno merujuk pengalaman mantan Presiden Amerika Serikat George Bush (senior), yang terkena berbagai penyakit karena selalu menggunakan obat tidur untuk mengatasi jet lag dalam perjalanan jauh. Selamat berlibur.

    AT, Ismi Wahid


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Memuliakan Pensil dan Charcoal

Surat Dari Redaksi

Satu Masa Para Kandidat

Album

PEMILIHAN
Marzuki Darusman

Catatan Pinggir

Kamar

TEMPO|interaktif

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

Metro

Rakitan, 80 Persen Senjata Api untuk Pencurian  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif