Dilahirkan dari sebuah keluarga sederhana, Boediono diasuh dengan cita-cita besar: sekolah tinggi di luar negeri. Ayahnya buta sejak paruh baya, telaten menemani anak-anaknya belajar.
Wiranto bukan taruna berprestasi di Akademi Militer. Masuk sekolah tentara juga karena pertimbangan ekonomi: tidak perlu membayar, malah mendapat uang saku.