King smash. Ini sebutan jumping smash Liem Swie King yang tak terlupakan itu. Dengan pukulan yang kuat dan menghunjam, King mengalahkan lawanlawannya lebih dari tiga dekade lalu. Kini, juara All England tiga kali yang telah berusia 52 tahun itu masih sanggup melakukan King smash? "Bisa sih, tapi kalau dulu loncatnya semeter, sekarang sepuluh sentimeter," ia berseloroh.
Saat dijumpai dalam peluncuran buku biografinya, Panggil Aku King, pria kelahiran Kudus itu terlihat malumalu. Ia lebih sering tersenyum ketimbang mengobral kata. Padahal King layak untuk sesumbar. Ia pernah menjadi buah bibir saat berhasil menjuarai All England pada usia 20 tahun. Karena keberhasilannya, sutradara Ari Sihasale menggarap film anak bertajuk King.
Setelah gantung raket pada 1988, King membantu usaha mertuanya mengelola hotel di Jakarta Selatan. Ia juga merambah bisnis properti. Namun, yang unik, ia mengelola griya pijat. Kini griya pijat dengan 200 karyawan itu memiliki tiga cabang di Jakarta. Mengapa memilih griya pijat? "Karena saya hobi pijat sejak menjadi atlet," kata ayah tiga anak itu. Griya pijat ini dikelola dengan gaya pijat tradisional Jawa. "Cocok untuk seluruh keluarga," ia berpromosi. n
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

