Ekonom Aviliani, 48 tahun, sedang bungah hati. Debat calon presiden yang ia pandu pekan lalu lebih hidup ketimbang dua debat sebelumnya. Ia pun mendapat ucapan selamat bertubi-tubi. "SMS dan Facebook saya penuh dengan pesan selamat," ucapnya berseri-seri.
Keberhasilan Aviliani itu membayar lunas kecemasannya sebelum memandu acara debat. Maklum, baju setelan hijau pesanannya baru rampung dari penjahit langganannya hanya beberapa jam menjelang ia naik panggung. Tak aneh jika baju yang dijahit secara ngebut dalam dua hari itu tampak belum rapi. Untunglah, penonton televisi tak melihat kelemahan penampilan ekonom The Institute for Development of Economics and Finance itu. Padahal, kata Avi, "Seorang anggota Komisi Pemilihan Umum berbisik kepada saya: benangnya ada yang jebol."
Dosen Universitas Paramadina itu juga kurang tidur setelah empat hari begadang mempersiapkan materi debat. Agar tak ambruk, ia meminta dokter memberikan suntikan vitamin C.
Hanya satu yang masih dia sesali malam itu. "Saya batal pakai soft lens berwarna yang sudah saya beli," ujarnya. Kenapa tak jadi? Soft lens hanya bisa digunakan untuk pandangan jarak jauh. Padahal Avi harus sering membaca catatan. "Tadinya saya mau bergaya," ucapnya terkekeh.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

