• Home
  • 20 Juli 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Landskap
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 20 Juli 2009

    Nurdin Berbayang Noor Din

    Sisa kopi di kamar 1808 itu masih hangat. Koper berisi bom rakitan teronggok di ruang yang sama di lantai 18 Hotel JW Marriott itu. Saat memeriksa kamar ini selang sejam setelah ledakan bom pada Jumat pekan lalu, polisi menemukan bom rakitan itu menggunakan serpihan besi, mur, dan gotri. Logam-logam ini biasanya digunakan teroris untuk memperbesar efek kerusakan akibat ledakan bom.

    Bom rakitan itulah yang membatalkan rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menuju lokasi ledakan, Jumat pagi itu. Yudhoyono mendapat saran dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia Bambang Hendarso Danuri. "Lokasi belum steril, masih disisir, dan ancaman setiap saat bisa datang," kata Yudhoyono dalam konferensi pers siangnya, seusai salat Jumat.

    Bom itu, kata Bambang Hendarso, berada di kamar yang dipesan seseorang berinisial N. Sumber lain menyebutkan orang ini bernama Nurdin Azis. Ia masuk hotel pada Rabu pekan lalu dan persis pada Jumat itu, ketika ledakan terjadi, masa sewa kamarnya habis. Ada dugaan laki-laki ini merupakan salah seorang dari dua pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton pada Jumat pagi itu.

    Polisi belum memastikan Nurdin Azis sebagai pelaku bom bunuh diri. Security Supervisor Hotel JW Marriott Didik Ahmad Taufik, 39 tahun, mengatakan, sesaat sebelum ledakan, dia menyaksikan seorang pria mencurigakan. Di tengah lobi hotel, pria itu menyeret koper troli dengan tangan kanannya. Pria bertopi ini juga menyandang ransel pada bahu kanannya.

    Didik sempat menegur. "Mau cari siapa, Pak?" katanya. Pria ini menjawab sedang mencari bosnya. Didik lalu melihatnya menuju Restoran Sailendra, yang terletak di lobi. Baru saja Didik balik badan, bom menggelegar. Pria misterius inilah yang tertangkap kamera televisi sirkuit sebelum bom meledak. Akibat ledakan, Didik mengalami luka bakar di telinga kanan, kaki, muka, dan tangan. Ia dirawat di Rumah Sakit Jakarta.

    Yudhoyono, dalam konferensi persnya, menyebutkan ledakan bom itu ulah kelompok teroris, meski belum tentu jaringan terorisme yang selama ini dikenal orang. Yudhoyono pun mengungkapkan bahwa ia mendapat informasi intelijen ada sekelompok teroris berlatih menembak dengan foto dirinya sebagai target. Tembakan diarahkan ke mukanya.

    Ia menunjukkan foto itu. Foto pertama menggambarkan dua orang sedang latihan menggunakan pistol. Foto kedua melukiskan wajah Yudhoyono kena tembakan di pipi. Menurut dia, temuan intelijen ini didukung rekaman video dan gambar. "Bukan fitnah, bukan isu. Saya mendapat laporan ini beberapa waktu lalu," ujarnya.

    Bambang Hendarso mengatakan polisi mendapatkan foto itu saat menggerebek anggota jaringan teroris di Kalimantan Timur, 5 Mei lalu. Saat itu polisi menciduk pemilik toko bangunan bernama Udin alias Wildan di Kelurahan Gunung, Samarinda. Menurut polisi, Udin pernah melakukan aksi terorisme di Ambon.

    Seorang intelijen polisi yang tiba di lokasi 15 menit setelah ledakan menyimpulkan pelaku adalah kelompok Jamaah Islamiyah. Kelompok pengebom Marriott dan Ritz-Carlton itu, menurut dia, sama dengan yang telah ditangkap polisi Detasemen Khusus 88 Antiteror di Samarinda, juga di Lampung dan Cilacap. Polisi menangkap Syaifuddin Zuhri, tersangka aksi terorisme, di Cilacap bulan lalu. Di Purbalingga, polisi menggerebek rumah Mistam alias Udin. Oktober tahun lalu, polisi menangkap enam orang yang diduga teroris di Bandar Lampung-dua di antaranya warga negara Singapura.

    Intelijen polisi itu menyimpulkan berdasarkan jenis bahan peledak. Menurut dia, bahan peledak yang digunakan di Marriott dan Ritz-Carlton sejenis. Bom itu juga sejenis dengan bahan peledak yang ditemukan di Palembang dan Cilacap. Ciri kelompok itu, katanya, menggunakan bahan peledak bubuk hitam, TNT (trinitrotoluen), dan RDX (bahan peledak yang lazim di lingkungan militer), bercampur mur, baut, dan serpihan besi. Ini mirip dengan bahan untuk bom yang diledakkan di Bali pada 2002 (bom Bali I) dan tiga tahun kemudian (bom Bali II).

    Direktur International Crisis Group Sidney Jones mengatakan kuat dugaan bom bunuh diri itu dilakukan oleh teroris kelompok lama di sekitar Noor Din M. Top. Ia yakin ledakan di Marriott dan Ritz-Carlton adalah kelakuan warga negara Malaysia yang jadi buron kelas wahid berkaitan dengan serangkaian bom di Indonesia itu. "Polanya sama, bunuh diri dan yang jadi target hotel," katanya.

    Namun bekas tokoh Jamaah Islamiyah, Abu Rusdan, 48 tahun, mengatakan kecil kemungkinan Noor Din terlibat. Menurut pria yang pernah menduduki posisi Amir Majelis Mujahidin Indonesia ini, Noor Din kini dalam keadaan sulit setelah jaringannya dipotong polisi melalui sejumlah penangkapan. Gerakan Noor Din, kata dia, makin sempit dan tak terkendali. Kelompok Noor Din sejak empat-lima tahun lalu sulit mendapatkan pemimpin yang sudi bertanggung jawab atas aksi-aksinya.

    Selain itu, kata Rusdan, bahan peledak jaringan Noor Din habis diambil polisi. Mereka tak punya lagi akses untuk mendapat bahan peledak. Bagi Rusdan, yang pernah divonis tiga setengah tahun penjara karena menyembunyikan Ali Ghufron, pelaku bom Bali I, jika ada sinyalemen yang mengaitkan perampokan uang Bank BNI Rp 15 miliar pekan lalu dengan aksi bom Marriott dan Ritz-Carlton, itu menggelikan. Sebab, butuh waktu panjang untuk aksi teror bom. "Tak mungkin cuma dua hari cukup," katanya.

    Rusdan juga mengatakan Noor Din tak biasa menggunakan bom berdaya ledak rendah seperti di Marriott dan Ri tz-Carlton. Noor Din menyukai bom berdaya ledak tinggi. Ini untuk memastikan pelakunya tewas. Menggunakan bom berdaya ledak rendah, kata Rusdan, justru berbahaya jika pelaku bom bunuh diri tidak mati. "Ini membuka peluang polisi untuk mengungkap siapa dan di mana saja jaringannya," katanya.

    Pernyataan Abu Rusdan seperti memperkuat sinyalemen mengenai kemungkinan pelaku bom selain Jamaah Islamiyah, sebagaimana diungkapkan Presiden Yudhoyono. Dalam konferensi persnya, Yudhoyono tak menyembunyikan kegeramannya atas informasi intelijen yang menyebutkan adanya rencana menduduki secara paksa kantor Komisi Pemilihan Umum pada saat hasil pemilihan presiden diumumkan.

    Yudhoyono menyebutkan adanya pernyataan akan ada revolusi jika ia menang. Ia terlihat galau saat mengungkapkan informasi lain bahwa akan ada gerakan membikin Indonesia mirip Iran setelah pemilu. Wajahnya tampak kian mendung saat ia menyebutkan pernyataan bahwa bagaimanapun ia tak boleh dan tidak bisa dilantik.

    Keterangan Yudhoyono itu segera mendapat respons Prabowo Subianto. Ia mengatakan antikekerasan dan percaya kepada proses demokrasi. Ia juga menyatakan cinta negara Indonesia. Prabowo mengaku kecewa atas hasil pemilihan presiden dan pemilihan legislatif. "Tapi apakah kalau kecewa lantas terlibat (bom)?" katanya.

    Sunudyantoro, Akbar Tri K., Iqbal Muhtarom, Agus S., Amandra Mustika, Ismi Wahid


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Landskap

Lenggak-lenggok Jakarta

Tentang Ibu Kota Jakarta

Berebut di Posisi Kepala Naga

Buku

Perusahaan yang Mengarahkan Sejarah

Seni Rupa

Dua Puluh Tahun Memelihara Kegilaan

Proyek Seni di Ruang Kosong

Album

MENINGGAL
Sumarti Budiardjo

Catatan Pinggir

Teror Itu

TEMPO|interaktif

9 Kesalahan Menulis Surat Lamaran

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif