• Home
  • 17 Agustus 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Prelude
    • Album
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 17 Agustus 2009

    Serangan di Balkon Pemimpin Taliban

    Sebuah pesawat tanpa awak milik Amerika Serikat terbang rendah di wilayah Waziristan Selatan, Pakistan, Rabu malam dua pekan lalu. Dalam kamera pengintai terlihat seorang wanita sedang memijat-mijat kaki seorang pria di balkon sebuah rumah. Hanya dalam hitungan detik, meluncur sembilan roket menghantam rumah tersebut.

    Ribuan kilometer dari Waziristan, Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat itu juga mendapat laporan bahwa operasi berjalan sukses. Indikasinya, target serangan: pemimpin Taliban Pakistan Baitullah Mehsud tewas dalam operasi tersebut. Obama merestui penyerangan dan pengintaian yang berlangsung beberapa hari itu. Syaratnya, target serangan harus jelas.

    Aksi membombardir rumah milik mertua Mehsud itu dilancarkan setelah Badan Intelijen Amerika (CIA) yakin orang di balkon itu adalah Mehsud. Selama ini ia diketahui menderita diabetes. Untuk menghilangkan rasa nyeri pada kaki, biasanya pengidap diabetes memijat-mijat kakinya. "Dari hasil pengamatan itulah CIA memutuskan menyerang," ucap seorang pejabat militer AS.

    Berita kematian orang nomor satu Taliban Pakistan itu langsung dibantah Hakimullah Mehsud, salah satu komandan tertinggi Taliban. Menurut dia, Mehsud "sedang sakit" dan tak ada di rumah itu. Itu sebabnya, kata Hakimullah, Mehsud tak langsung muncul, seperti yang biasa ia lakukan, ketika serangan pasukan Amerika gagal mencederainya.

    Pemerintah Pakistan sangat yakin pemimpin Taliban itu, bersama istri kedua dan mertuanya serta beberapa pengikutnya, terbunuh dalam serangan bertubi-tubi. Begitu pula penasihat keamanan Gedung Putih, James Jones. Menurut dia, Amerika yakin "90 persen" Mehsud telah tewas. "Semua bukti menunjukkan kesimpulan itu," ucap Jones.

    Pemerintah Pakistan menyebutkan Taliban sengaja membantah pemimpin mereka telah tewas lantaran terjadi beda pendapat di antara para anggotanya tentang siapa yang berhak menggantikan Mehsud. Taliban Pakistan pimpinan Mehsud selama ini dikenal sebagai aliansi tanpa ikatan kuat di antara anggotanya yang terdiri dari beberapa kelompok suku di Pakistan. Mereka sering berselisih memperebutkan kekuasaan.

    Keterangan itu ditepis Hakimullah. Menurut dia, isu perpecahan di tubuh Taliban hanyalah propaganda pemerintah Pakistan. "Propaganda itu tak akan membuat kami terbelah dan lemah," ujar Hakimullah.

    Nama Mehsud tergolong cepat mendapat perhatian CIA, yang menyebutnya sebagai salah satu gembong teroris paling diincar. Namun, berbeda dengan Usamah bin Ladin yang mengebom Kedutaan Amerika Serikat di Kenya dan Tanzania sebelum menjadi orang paling dicari CIA, kemampuan Mehsud mengancam kepentingan sipil Amerika belum terbukti.

    Meski begitu, menurut CIA, Mehsud tak kalah berbahaya. Ia mampu mengorganisasi serangan terhadap pasukan Amerika di Afganistan maupun di wilayah lain. Ia juga dituding sebagai dalang berbagai aksi pengeboman di Pakistan, termasuk pembunuhan terhadap Benazir Bhutto, Desember 2007.

    Mehsud mulai dicap sebagai gembong teroris pada pertengahan musim panas 2007. Ia dianggap sebagai otak dari serangkaian aksi bom bunuh diri terhadap pasukan penjaga keamanan Pakistan. Seruannya untuk berjihad melawan pemerintahan Pakistan membuat banyak orang merinding. Pada Agustus 2007, anak buahnya berhasil menangkap 200 tentara Pakistan, beberapa dibunuh.

    Pada Desember 2007, ia menobatkan diri sebagai amir atau pemimpin tertinggi gerakan Taliban Pakistan, yang terdiri dari 13 faksi. Gerakan ini memiliki hubungan erat dengan etnis Pashtun, yang menjadi mayoritas dan ujung tombak para pejuang di wilayah Afganistan dan Pakistan. Di bawah Mehsud, Taliban Pakistan sangat setia kepada Mullah Mohammad Omar, pemimpin tertinggi Taliban Afganistan.

    Taliban Pakistan mampu tumbuh menjadi kekuatan besar karena juga memiliki hubungan kuat dengan jaringan Al-Qaidah. Mehsud dan anggotanya menguasai Lembah Swat di sepanjang perbatasan Pakistan dan Afganistan. Lantas, apakah dengan kematian Mehsud, seperti yang diklaim Amerika Serikat dan pemerintah Pakistan, Taliban Pakistan melemah? Banyak pengamat politik Pakistan meragukan.

    Taliban merupakan sekumpulan militan yang terus tumbuh. Dalam perjuangan mereka, gugurnya seorang Taliban akan membuat anggota lainnya melakukan perhitungan balasan. Saat ini beberapa petinggi pejuang Taliban Pakistan tengah menanti pengambilalihan peran Mehsud, termasuk Qari Hussein, yang dikenal sebagai orang kepercayaan Mehsud yang bertangan besi.

    Hussein diyakini sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam membina kader baru Taliban Pakistan. Ia pula yang mengajari anggotanya cara melakukan bom bunuh diri. Bila Hussein menggantikan Mehsud, dipastikan serangan balik akan lebih dahsyat. Yang kini menjadi pertanyaan bukanlah apa yang akan mereka lakukan, tapi apa yang dapat mereka lakukan.

    Pemerintah Pakistan sebaliknya justru cemas Al-Qaidah akan menaruh orang kepercayaannya sebagai pengganti Mehsud. Menurut Menteri Dalam Negeri Rehman Malik, Taliban Pakistan tengah melakukan konsolidasi. "Al-Qaidah tengah memikirkan untuk mengisi kekosongan pemimpin di wilayah ini dengan menempatkan orang kepercayaan mereka sendiri, sebut saja sebagai kepala teroris baru di Pakistan," ujarnya.

    Al-Qaidah selama ini dipercaya sebagai pemberi bimbingan dan dana bagi Mehsud. Sebagai imbalan, Mehsud menyediakan para pengebom berani mati. Hanya, kemungkinan menaruh orang dari luar etnis Pashtun, terutama dari Arab, sangat kecil dapat diterima para pejuang Taliban Pakistan.

    Firman Atmakusuma (CNN, BBC, AFP, Telegraph)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Filsafat sebagai Perkakas Kehidupan

Seni Rupa

Kisah dari Obyek-obyek Mini

Mencari Eko dalam Bordir dan Resin

Album

Pemburu Teroris

TEMPO|interaktif

Nasional

Partai Demokrat Segera Pecat Kader Bermasalah

Olahraga

Kisah Perempuan Afganistan di Ring Tinju Olimpiade

Olahraga

Mali Juara Ketiga Piala Afrika 2012

Rentetan Kecelakaan di Jalan Raya Awal 2012

Nasional

Jokowi: Jangan Sampai Pemimpin Itu Melow

Olahraga

Barca Ditekuk Osasuna 3-2

Olahraga

Persib ke Papua Bukan untuk Mengalah

Olahraga

Wenger: Henry Seorang Legenda

Trik Dahlan Iskan Atasi Kemacetan

Cita Rasa Resto Bintang Lima di Tepi Pemakaman

Olahraga

Dalglish Bela Suarez

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif