• Home
  • 17 Agustus 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Prelude
    • Album
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 17 Agustus 2009

    Kisah dari Obyek-obyek Mini

    Obyek-obyek mini itu berkisah. Ada dua anak duduk-duduk. Agak jauh di samping kiri mereka, sebuah kelopak memeluk bayi penuh bunga. Jauh di bawah sang bayi, tiga gulungan uang kertas merah dan biru. Lalu sosok lelaki terlihat setengah dada di sisi kanan. Semua obyek mini itu menjadi "hiasan" obyek maksinya: setampang wajah putih perempuan yang tersenyum, memperlihatkan sederet gigi yang bersih.

    Harap maklum, ini bukan iklan pasta gigi. Ini lukisan berjudul Senyum Lebar Wanita Masa Kini. Lukisan ini satu di antara belasan karya lukis dan patung Laksmi Shitaresmi dalam pameran tunggalnya di Bentara Budaya Jakarta pekan lalu. Sebuah pameran kanvas yang penuh cerita; tapi bukan cerita dengan awal dan akhir, melainkan never ending stories: obyek-obyek itu bertutur dan selalu ada yang "berbeda" setiap kali kita tengok kembali.

    Itulah yang terkesan dari karya-karya Laksmi, perupa yang lahir di Yogya pada 1974, yang kuliah di Institut Seni Indonesia Yogya, dan sejak duduk di sekolah dasar memenangi berbagai lomba melukis. Dan itu semua dijalani tidak dengan mudah, tapi dengan segenap daya dari dirinya sendiri, sebuah upaya untuk bertahan pada pilihan-konon pilihan hidup di dunia seni rupa ini harus ditanggung Laksmi sendiri karena tak seorang pun anggota keluarganya mendukung.

    Boleh jadi cerita-cerita itu lama terpendam dalam bawah sadar, dan menemukan saluran ketika ia menemukan bahasa rupa yang (sementara ini) cocok. Pada mulanya cerita itu hanya "singkat", hanya ada satu-dua obyek mini yang muncul dan "mengubah" citra obyek pokok. Ini terlihat dari karya 1990-an sampai awal 2000-an. Dari Balik Jendela Kamarku (tak diikutsertakan dalam pameran ini, hanya ada reproduksinya di katalogus), misalnya; di atas sosok perempuan telanjang dada dengan wajah renta dan rambut tipis hanya ada dua tangan menarik-narik rambut perempuan itu, dipan terjungkir, dan bantal serta guling yang jatuh.

    Selain obyek mini yang masih satu-dua, karya-karya masa ini masih menghadirkan latar belakang "kenyataan" sehari-hari. Pada Dari Balik Jendela ini, "kenyataan" itu adalah pemandangan alam dengan pohon kaktus. Kenyataan inilah yang memberikan suasana mimpi pada karya-karyanya di masa ini. Dunia mimpi memang bukan dunia kenyataan seperti yang kita alami dalam keadaan sadar sehari-hari. Tapi mimpi memerlukan kenyataan, seperti jam dinding yang meleleh (karya Salvador Dali yang populer itu) atau sepotong sisir sebesar kamar (karya Rene Magritte). Kemudian, "kenyataan" itu hilang; latar belakang karya-karya Laksmi menjadi hanya bidang kanvas itu sendiri. Hilang pulalah suasana mimpi itu dari kanvas Laksmi, digantikan lebih banyak dan lebih menonjol obyek-obyek mini yang berkisah itu.

    Tampaknya, Laksmi merasa obyek-obyek itulah bahasanya-bahasa untuk menuangkan cerita, gagasan, ekspresi. Obyek-obyek itulah yang menjadikan kanvasnya "bicara", memberikan kesan, memberikan makna pada obyek pokok yang maksi, dan akhirnya pada keseluruhan kanvas. Obyek-obyek mini inilah yang menjadikan sosok utama perempuan duduk telanjang, misalnya (Kunik mati Rentangan Hari-hariku, Masih Merenungi sebagai contoh), bukan hanya gambar seorang figur, melainkan figur yang menjadi bagian dari seluruh "alam semesta" kanvas itu.

    Contoh yang jelas ada pada Potret Diri, sebuah patung kepala perempuan dengan rambut tergerai. Bila hanya wajah dan rambut tergerai, kita hanya akan melihat sebuah patung realistis yang tak terlalu istimewa. Bila kemudian ternyata ada ikan-ikan menempel di wajah di bawah mata, lalu juga di rambut yang tergerai, kisah pun muncul: ini bukan sekadar bentuk potret diri. Ada cerita yang muncul dan menyita imaji kita tanpa menutupi bentuk sang potret diri. Masing-masing tetap hadir. Terjadilah interaksi antara potret diri dan obyek-obyek mini, yakni ikan-ikan itu, sedemikian rupa hingga potret diri pun menjelma menjadi bagian cerita. Tak ada lagi jarak antara sosok maksi dan obyek-obyek mini, ibarat dalang yang masuk dan ikut berperan dalam cerita yang dikisahkannya.

    Konon obyek-obyek mini itu merupakan "simbol-simbol pribadi yang muncul dan mengalir begitu saja" di saat melukis (atau juga mematung). Obyek-obyek mini itu kemudian menggeser sapuan dan goresan kuasnya pada 1990-an, yang masih sedikit-banyak terasa sebagai "jejak emosi" atau sebagai "jiwa nampak". Sapuan dan gores an itu kemudian hanya menjadi "alat" menghadirkan bentuk. Laksmi berbicara lewat kanvasnya dengan bentuk-bentuk, dengan bahasa simbol. Saya bayangkan gairahnya tak mengalir melalui tangan, tapi menjadi tenaga untuk menemukan dan menghadirkan obyek-obyek mini itu.

    Bila karya-karya dari lima tahun terakhir menghadirkan banyak garis yang terasa sebagai benang atau kawat, dari sisi kesenirupaan, itulah aksen artistik sebagai kontras dari bidang-bidang. Dari segi simbol, kita mestinya mempunyai penafsiran masing-masing. Garis tipis itu bisa jadi simbol waktu yang berjalan, simbol penghubung antara yang menggantung dan digantungi. Laksmi sendiri mengha dirkan garis itu dari penghayatan religinya (ia beberapa kali memenangi lomba membaca Al-Quran): itulah gambaran "titian serambut dibelah tujuh" yang dalam Islam adalah jembatan tempat roh kita diuji, masuk neraka atau surga..

    Lalu yang juga sering muncul adalah gambar ikan terbang. Saya bayangkan ikan yang selalu bergerak di dalam air, ke sana dan kemari. Imaji ini adalah kontras dari kanvas yang diam. Bagi Laksmi, itulah simbol ketidakmungkinan: ikan yang biasanya di dalam air dia terbangkan di udara. Inilah semangat hidup itu: berharap yang tak mungkin menjelma jadi nyata.

    Sedangkan yang lain-lain-ada pohon tumbang, perahu-perahu, bunga, bola, badut, balon, tikus, mainan anak-anak, dan sebagainya-ia pu ngut dari keseharian di rumah, di pergaulan, di mana saja yang mengendap di bawah sadar. Ada juga penanda tahun dibuatnya karya tersebut: gambar anjing, misalnya, menyatakan bahwa karya ini dibuat pada tahun anjing (2005). Obyek-obyek mini ini, selain berkisah dari segi komposisi, menambah rasa luas bidang gambar.

    Lalu semua karya patung Laksmi pun menghadirkan obyek mini itu. Tentu saja menghadirkan obyek mini pada karya tiga dimensi berbeda dibanding pada kanvas dua dimensi. Bahwa ha dirnya obyek mini pada patung diusahakan benar oleh Laksmi, ini hanya memperkuat sinyalemen bahwa bahasa obyek mini adalah bahasa kesenirupaan Laksmi. Sebab, menghadirkan obyek mini pada karya tiga dimensi tentu tak seleluasa pada bidang dua dimensi.

    Adalah Pemenang, patung seorang perempuan duduk di kursi panjang, memegang gelas yang dihubungkan tali dengan sebentuk benda (mungkin bunga) di ujung kursi. Rambutnya berkibar layaknya tertiup angin. Lalu Kisah tentang Kakiku, patung kaki bersepatu hak tinggi, dan di depannya obyek mini itu: enam pot tanaman dan sesosok perempuan berdiri dengan tangan kanan terentang hampir lurus ke depan. Dua karya patung di sam ping Potret Diri, yang berhasil mengha dirkan obyek-obyek mini setaraf pada lukisan.

    Ada yang mengatakan karya-karya Laksmi semacam catatan harian. Ya, catatan harian yang bukan sekadar mencatat, lebih sebagai esai dengan bahasa seni rupa dan disampaikan dengan keterampilan tinggi: pilihan bentuk, warna, komposisi.

    Bambang Bujono


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Filsafat sebagai Perkakas Kehidupan

Seni Rupa

Kisah dari Obyek-obyek Mini

Mencari Eko dalam Bordir dan Resin

Album

Pemburu Teroris

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif