• Home
  • 17 Agustus 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Prelude
    • Album
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 17 Agustus 2009

    Mencari Eko dalam Bordir dan Resin

    SEKUJUR tubuh "pria" itu terbungkus kostum. Kepalanya ter balut helm. Kakinya tertu tup sepatu. Sendiri, ia duduk di bangku panjang dengan tangan menggenggam pedang. Itulah Me nunggu Rebusan Impian, patung berbahan resin dan bordir karya Eko Nugroho. Karya itu dipamerkan dalam In The Name of Pating Tlecek di Galeri Nadi, Jakarta, hingga pekan lalu.

    Sebuah karpet berwarna dasar biru terhampar di ujung kaki patung itu. Ada gambar sesosok manusia dengan kepala mesin. Di kausnya tertera: Rejeki di Tangan Televisi-judul karya itu. Eko memang gemar bermain dengan apa yang ada sekarang. Lewat karpet itu, ia ingin menyindir: semua punya televisi dan cenderung menerima apa saja yang disajikan.

    Perupa 32 tahun ini sudah bergelut di dunia seni sejak masih belia. Semasa duduk di bangku sekolah mene ngah pertama, ia sudah menggambar komik strip yang dimuat setiap Minggu di ha rian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Lulus SMP, ia mendaf tar ke sekolah menengah seni rupa dan berlanjut ke Jurusan Seni Lukis Institut Seni Indonesia-keduanya di Yogyakarta.

    Semasa kuliah, Eko dan 13 temannya menggagas sebuah komunitas seni dengan nama yang lumayan "seram": Daging Tumbuh. Anggotanya berasal dari latar belakang seni yang berbeda: lukis, grafis, fotografi, patung, dan lainnya. Awalnya pahit. Mereka menawarkan diri ke berbagai galeri dan ditolak. Akhirnya, para seniman itu mengekspresikan diri dalam bentuk buku yang diperbanyak dengan fotokopi. Bagi Eko, terbitan ini sama saja dengan pameran-sama-sama bisa dinikmati orang.

    Waktu bergulir, hingga kemudian anggota kelompok ini berkiprah di jalur seni masing-masing. Termasuk Eko, yang pada awalnya hanya setia di seni lukis. Awalnya susah menembus galeri lokal, kini ia telah merambah aneka ruang pamer di luar negeri.

    Ia telah berpameran tunggal di Singapura (It's All About Coalition di National Museum of Singapore, 2008), Kuala Lumpur, Malaysia (In Wonderland, Valentine Willie Fine Art, 2007), dan Fukuoka, Jepang (Jauh di Mata Dekat di Hati, Fukuoka Asian Art Museum, 2004). Sedangkan untuk pameran "keroyokan", ia sudah tampil di Cina, Australia, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Eropa. Karya-karyanya juga dipajang di berbagai galeri internasional.

    Tahun ini, ia bersiap terbang ke Prancis untuk bergabung di Lyon Biennale 2009. Eko akan memboyong karya-karyanya yang berbentuk boneka-seperti disebutkan di awal tulisan. Ada yang berpose duduk. Ada pula empat "orang" yang berjongkok dengan helm warna-warni. Semuanya takzim memegang bendera warna hitam yang dibordir dengan gambar, antara lain, babi dan robot. Karya yang satu ini dinamai Be Proud of Your Flag.

    Ya, dalam pameran di Galeri Nadi, Eko tak melulu berekspresi dalam bentuk gambar. Memang, ia menampilkan beberapa gambar, baik di kanvas maupun mural (di dinding dan langit-langit galeri). Namun banyak juga karya Eko selain lukisan yang digelar kali ini. Misalnya karpet bordir, berbentuk bulat dan persegi. Salah satunya yang bertulisan Rejeki di Tangan Televisi itu tadi.

    Ada pula seni instalasi: empat troli supermarket. Masing-masing penuh dengan barang-barang belanjaan dan-ini yang tak lazim-ada sepotong tengkorak raksasa. Berba han resin dan bordir, keempat tengko rak itu berwarna-warni. Ada yang disusun dari rangkaian bunga. Ada pula yang dicantumi lambang United Nations. Karya Eko yang satu ini diberi judul Panic.

    Eko memang tak ingin memba tasi diri dalam berkarya. "Saya enggak perlu berhenti di satu titik ketika media jadi masalah," tuturnya.

    Andari Karina Anom


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Filsafat sebagai Perkakas Kehidupan

Seni Rupa

Kisah dari Obyek-obyek Mini

Mencari Eko dalam Bordir dan Resin

Album

Pemburu Teroris

TEMPO|interaktif

9 Kesalahan Menulis Surat Lamaran

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif