• Home
  • 31 Agustus 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 31 Agustus 2009

    Putu Lahir Jadi Pandita

    MENJELANG tengah malam di Pasraman Dharmasastra Manikgeni. Dua sosok berselimut kain putih diangkat dalam posisi terbujur. Di bawah rinai hujan tipis-tipis, beberapa orang memanggul keduanya dari bale upacara ke bale besar di tengah kompleks Pasraman. Wangi dupa, alunan kidung, dan denting genta sulinggih-sebutan Bali untuk pandita-melahirkan aroma mistis dan syahdu. Angin malam berembus dari Gunung Batukaru di belakang Pasraman, melorotkan udara hingga 18 derajat Celsius.

    Inilah ritual menuju puncak upacara Rsi Yadnya Mediksa bagi Ida Bhawati Putu Setia dan istrinya, Ida Bhawati Istri Ni Made Sukarnithi. Berlangsung pada Kamis malam dua pekan lalu, upacara itu menahbiskan pasangan tersebut menjadi pandita Brahmana. Tidak ada upacara pembersihan-tubuh dan jiwa-yang lebih tinggi daripada Mediksa.

    Pasraman Manikgeni, yang terletak di Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, riuh oleh tamu-tamu. Belasan pandita, anggota keluarga, serta sebagian warga desa ikut bertugur hingga jauh malam. Di bale gede, Ida Bhawati Putu Setia dan istrinya dibaringkan dalam posisi bersanding. Ruang tidur mereka ditutup tirai kain Bali berwarna merah-ungu beraksen keemasan. Keduanya dalam kondisi "mati" dan berkelana di luar raga hingga guru nabe, pandita tertinggi pemandu upacara agung itu, membangunkan mereka dengan percikan tirta suci.

    Saat itu tiba pada pukul 01.10 Waktu Indonesia Tengah. Mpu Jaya Rekanandha, sang guru nabe, memerciki mereka dan memberikan bhiseksa atau nama. Ida Bhawati Putu Setia mendapat nama baru Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Dan istrinya: Ida Pandita Mpu Rai Istri Jaya Prema Ananda. "Saya hanyalah fasilitator. Nama itu titipan dari Tuhan," ujar Mpu Jaya kepada Tempo.

    Pada 18 Juni 2008, Putu Setia dan istrinya menjalani ritual menjadi Ida Bhawati. Tahapan itu wajib mereka tempuh sebelum menjadi sulinggih tertinggi: Ida Pandita. Setelah menjadi Ida Bhawati, Putu Setia berada di "rahim" guru nabe. Di sana, dia menanti dilahirkan kedua kalinya ke dunia. Ada tiga guru yang membimbing pria kelahiran Tabanan 58 tahun silam ini, yakni Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Rekanandha sebagai guru nabe, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Prateka Tanaya sebagai guru waktra, dan Ida Pandita Mpu Nabe Dharmika Tanaya, guru saksi.

    "Layak-tidaknya menjadi pandita harus melalui uji kemampuan. Termasuk harus sehat secara fisik," kata Mpu Nabe Jaya. "Perlu kejeniusan tertentu untuk menjadi pandita."

    Setelah setahun, Ida Bhawati Putu Setia dinyatakan layak naik jenjang melalui Rsi Yadnya Mediksa. Putu Setia dan istrinya melakukan ritual Seda Angga (kematian), lalu disusul Napak, yaitu dilahirkan kembali sebagai pandita.

    Seusai upacara, Putu Setia menuturkan, di saat "mati", tanda kehidupan hanya dia rasakan di bagian dada ke atas. "Dada ke bawah terasa mati," ujarnya. Dalam pengembaraan di luar raga selama satu jam lebih, Putu merasa melintasi hutan Bali di zaman kuno. Dia melihat manusia-manusia kecil, pepohonan, danau-danau. "Rasanya belum ingin kembali (ke kesadaran dunia), tapi sudah dibangunkan oleh percikan air," dia menuturkan.

    Setelah kelahiran kedua ini, Putu Setia dan Ni Made Sukarnithi sudah tak ada lagi, berganti dengan Mpu Jaya Prema dan Mpu Rai Istri Jaya Prema. Pemimpin Maha Gotra Pasek Sanak Sapta-klan terbesar di Bali-Rsi Prof Dr Ketut Wita, menjelaskan saat ini ada 141 orang pandita tertinggi di Bali. Ketika dia menjabat lima tahun lalu, jumlah petinggi keagamaan itu baru 72 orang. Hadirnya Mpu Jaya Prema menambah jumlah pandita tertinggi.

    Para pandita Brahmana Bali tak lagi semata-mata datang dari jalur keturunan atau "nyambung rah", yaitu bila ayahnya seorang pandita, anak laki-lakinya otomatis bisa menjadi pandita setelah dewasa. "Para pandita "nyambung rah" kini jumlahnya kurang dari 10 orang," kata Mpu Jaya, yang pernah menjadi wartawan Tempo. Sebab, anak seorang pandita belum tentu memilih jalur yang sama. Dan untuk sampai ke tahapan sulinggih-pemimpin keagamaan-dia harus lulus serangkaian tes.

    Kehadiran Putu Setia sebagai Ida Pandita adalah salah satu bukti keberhasilan "reformasi" dalam tradisi keagamaan Hindu Bali. Reformasi ini memperjuangkan setiap orang Hindu berhak menjadi pendeta bila memenuhi syarat-dan bukan hanya keturunan Brahmana. Inilah tesis dari kontroversi panjang tentang paham warna-pembagian masyarakat berdasar pekerjaan-yang dibelokkan menjadi kasta, pembagian warga berdasar garis keturunan.

    Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), organisasi keagamaan umat Hindu-berdiri pada 1961-menyatakan setiap pemeluk Hindu dapat menjadi pandita. Namun prakteknya tidak semudah itu. Pergulatan di antara masyarakat yang pro dan kontra terhadap pendapat terus bergulir dari masa ke masa.

    Mpu Jaya, misalnya, ketika masih sebagai Putu Setia, dikenal gigih memperjuangkan penghapusan diskriminasi jalur menjadi pendeta. Antara lain melalui Forum Cendekiawan Hindu Indonesia. Putu menjadi ketuanya pada periode 1991-1996.

    Menjadi pelayan agama adalah jalur yang telah lama dipilih Putu Setia. Sejak pindah dari Jakarta ke Bali pada 2002, Putu menunjukkan komitmennya dengan sungguh-sungguh. Dia menempuh berbagai jenjang kerohanian yang disyaratkan. Dia mengaku tidak mudah. Dan ada pula banyak pantangan.

    Sebagai Ida Pandita, misalnya, dia hanya boleh mengenakan baju putih. Dia tak boleh berkata bohong, menyetir mobil, melakukan transaksi ekonomi, marah, dan banyak lagi.

    Untunglah tak ada larangan menggunakan Internet, termasuk fasilitas Facebook. Sebab, Facebook dapat digunakan sebagai sarana berdakwah dan berhubungan dengan publik. Jumat sore dua pekan lalu, Mpu Jaya Prema Ananda membuka akun baru. Statusnya bertulisan: "Saya orang baru di facebook, semoga ada yang mau berteman untuk mewujudkan bumi yang damai."

    Bina Bektiati (Pujungan, Tabanan)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Tari

Meleburkan Okinawa dengan Jawa

Indonesiana

Buka Baju Karena Kecewa

Pesta Dangdut di Ruang Sidang

Buku

Bukan Sekadar Terjemahan

"Ada Pemimpin yang Tak Peduli Power"

Agama

Putu Lahir Jadi Pandita

Seni Rupa

Badut Sirkus Kontemporer

Wajah yang Menyapa dan Disapa

Album

PENGHARGAAN
Rifki Febriansyah, Aditya Ashar, Dyani Primasari

Catatan Pinggir

Modernitas

TEMPO|interaktif

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA

Olahraga

Babak Pertama, Novara Mampu Tahan Inter Milan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif