517 TAGE. INDONESIEN: GEBURT EINER DEMOKRATIE
Penerjemah: Dr Heinrich Seemann
Penerbit: Herbert Utz GmbH
Cetakan: Pertama, 2009
Tebal: 400 halaman
JERMAN memasuki masa paling mendidih di musim panas tahun ini. Tapi sengatan suhu 36 derajat Celsius di Muenchen tak menyurutkan langkah para tamu yang berdatangan ke gedung Deutsches Herzzentrum di jalan Lazarettstrasse itu. Mereka bahkan muncul dengan jas lengkap yang menambah gerah. Maklumlah, hari itu mereka mendapat undangan istimewa: menghadiri acara peluncuran buku presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, 517 Tage. Indonesien: Geburt einer Demokratie ("517 Hari. Kelahiran Demokrasi di Indonesia").
Buku itu memang diterjemahkan berdasarkan buku aslinya, Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Negara Demokrasi, yang terbit tiga tahun lalu. "Meski ini cuma terjemahan, bukan kerja gampang mengalihbahasakan begitu saja versi Indonesia ke bahasa Jerman," kata penerjemahnya, Dr Heinrich Seemann, bekas Duta Besar Jerman untuk Indonesia.
Seemann perlu lebih dari dua tahun untuk menerjemahkan buku setebal 500-an halaman itu. Sebab, Jerman punya pola pikir dan persepsi yang berbeda dengan Indonesia. Contohnya saja soal Pancasila, atau kenapa di era Soeharto ABRI punya peran besar di kancah politik. "Itu yang perlu dijelaskan," kata Seemann, yang selama enam tahun bertugas di Indonesia mengalami periode pemerintahan Habibie-Megawati-Abdurrahman Wahid.
Bacharuddin Jusuf Habibie, 73 tahun, yang sore itu muncul ceria dengan jas dan dasi berwarna abu-abu, pun mengatakan, "Detik-detik yang menentukan kelahiran demokrasi lebih mudah dipahami bangsa Indonesia. Tapi, di mata dunia, yang sudah mengenal demokrasi sejak lebih dari 2.000 tahun lalu, ‘jabang bayi' yang umurnya cuma 517 hari adalah momen penting bagi munculnya fenomena demokrasi di Indonesia."
Menurut penerbitnya, Herbert Utz, buku 517 Tage yang lebih tipis 100 halaman dari versi Indonesia itu dicetak dalam kualitas kertas terbaik di Jerman, yang namanya coated bulky paper, dengan sampul gaya buku klasik dari bahan linen merah, sebanyak 2.000 eksemplar. Harganya 24,80 euro per biji, yang artinya total ongkos produksinya sekitar 75 ribu euro (kira-kira Rp 1,1 miliar).
Kepada Utz, Habibie mengatakan ingin menghadiahkan buku itu kepada teman-temannya di Jerman, yakni negara tempat ia bermukim selama puluhan tahun dan menjadi figur penting di dunia akademik dan teknologi pesawat. Alumnus Sekolah Tinggi Teknik Aachen itu pernah beberapa tahun bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB)-industri pesawat terkenal Jerman yang selama Perang Dunia II memproduksi pesawat tempur. Di situ ia berjasa telah menciptakan beberapa "teori Habibie" yang kemudian digunakan dalam penciptaan pesawat.
Tak aneh jika kepada Tempo pun Utz berkomentar, "Nama Habibie lebih dikenal daripada nama Indonesia di Jerman, karena negara itu amat jauh lokasinya dari sini."
Sekitar 200 tamu yang menghadiri acara peluncuran buku itu memang kebanyakan adalah kalangan akademik dan teman Habibie, seperti Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Brandenburg Jorg Schoenbohm, yang sudah berkarib dengan Habibie selama 15 tahun. "Saya yang mengirim kapal ke Indonesia semasa Habibie menjadi Menteri Riset dan Teknologi dan saya sebagai Menteri Pertahanan," katanya.
Tamu lain antara lain Rektor Universitas Swiss-Jerman Eggersriet Profesor Viola Pscheid, Direktur Centrum fuer Angewandte Politikforschung (Institut Politik Terapan) Muenchen Prof dr Werner Weidenfeld, Rektor Universitas Maximilian Muenchen Prof dr Ivo Schneider, Honorarkonsul Indonesia di Muenchen Wolfgang Schoeller, Duta Besar RI di Belanda Fanny Habibie, Duta Besar RI di Inggris Novan Ivanhoe Saleh, dan Duta Besar RI di Jerman Eddy Pratomo.
Sahabat Habibie, bekas Kanselir Jerman Helmut Kohl, sayangnya tak bisa hadir karena sakit. Bekas Bundeskanzler Helmut Schmidt, rekan Habibie yang sama-sama anggota Inter Action Council-organisasi yang beranggotakan para bekas kepala negara-yang memberikan kata pengantar di buku ini, juga urung datang meski diundang.
Schoenbohm mengatakan Indonesia mestinya bangga pernah punya pemimpin dengan visi yang jelas seperti Habibie. Sedangkan Seemann menyebut dia sebagai "insinyur demokrasi Indonesia".
Menurut Schmidt, buku Habibie amat cocok ditulis untuk masyarakat Indonesia, sementara pembaca Jerman masih sulit memahami perubahan yang terjadi di negara berkembang ini.
Setelah menampilkan film detik-detik peralihan kekuasaan Soeharto-Habibie selama 6 menit 45 detik karya The Habibie Center, para tamu disuguhi penganan Indonesia berupa tujuh macam jajanan pasar karya ibu-ibu dari tiga kantor perwakilan Indonesia: di Berlin, Frankfurt, dan Hamburg. "Saya enggak masak, cuma menelepon ibu-ibu," kata Ainun Habibie, koordinator katering di acara peluncuran buku suaminya, sambil tertawa. Ada juga nasi, soto ayam, dan gulai ayam masakan perusahaan katering Muenchen.
Sewaktu memesan menu itu, Nyonya Habibie menegaskan bahwa di acara suaminya itu tidak boleh ada minuman beralkohol. Jadi, meski di kartu undangan tertulis "Sektempfang"-yang artinya acara dibuka dengan minuman keras-di atas baki para pramusaji yang sibuk mendatangi tetamu menawarkan minuman hanya ada gelas-gelas berisi sari buah campur, sari jeruk, sari apel, dan air mineral. Di sekitar 20 meja kecil di tempat berlangsungnya resepsi itu juga ada beberapa potong roti khas Jerman (broetchen), kacang Indonesia, dan kacang asin khas Jepang: wasabi.
Di akhir acara, semua tamu dihadiahi buku karya Habibie, yang kemudian ditandatangani sendiri olehnya. Menurut Ketua The Habibie Center Ahmad Watik Pratiknya, versi Indonesia sudah dicetak dalam edisi ketiga sebanyak hampir 200 ribu eksemplar. Edisi bahasa Inggris, yang terjemahannya konon tidak memuaskan Habibie, akan masuk edisi kedua dan kelak akan dialihbahasakan oleh penerjemah yang berbahasa ibu Inggris. Buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. "Itu bukan permintaan saya. Mereka (Cina, maksudnya) yang memintanya," kata Habibie dengan mata membelalak-mimiknya jika ia serius bicara.
Sri Pudyastuti Baumeister (Muenchen)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

