SHRINK
(Ignite Entertainment, 2009)
Sutradara: Jonas Pate
Penulis naskah: Thomas Moffett
Pemain: Kevin Spacey, Mark Webber, Keke Palmer
APA yang terjadi jika seorang psikiater dilanda depresi? Setiap hari ia melaluinya dengan menangani masalah kejiwaan klien: stres, keinginan bunuh diri, maniak seks, dan paranoia. Pasiennya adalah artis, pengusaha, dan selebritas lainnya. Namun dokter Henry Carter (Kevin Spacey) membuktikan satu hal: menasihati orang lebih mudah ketimbang melakoninya.
Selama ini Carter mempunyai reputasi cemerlang sebagai psikiater para selebritas dan sudah meluncurkan sejumlah buku tentang kebahagiaan. Siapa yang menyangka resep itu tak manjur bagi penulisnya. Akhirnya, dalam sebuah acara di televisi, dia malah membuat pernyataan yang menggegerkan: "Jangan membeli buku ini. Saya penipu terbesar."
Maka kita pun disuguhi kontradiksi kehidupan Carter. Di ruang praktek, ia tetap tampil profesional. Dalam tiap sesi konseling, ia selalu menyuguhkan solusi bijak yang sanggup menyelesaikan masalah kliennya. Saat aktor tenar yang mulai pudar, Holden (Robin Williams), datang dengan problem kecanduan seks dan tak cukup hanya dengan istri di rumah, Carter menanganinya dengan kalimat sakti: "Kalau kau datang ke sini supaya saya memberimu legitimasi untuk berselingkuh, lupakan saja."
Ketika sedang sendiri, sang psikiater bijaksana itu bersalin rupa. Ia bahkan lebih parah daripada pasiennya: mengisap mariyuana, menenggak minuman keras tanpa henti, untuk melarikan diri dari depresinya.
Hingga akhirnya datang seorang klien pro bono yang miskin: Jemma (Keke Palmer). Dari Jemma, Carter becermin. Dokter dan pasien remajanya itu ternyata banyak memiliki kesamaan: keduanya ditinggal bunuh diri orang yang dicintai. Mereka pun belajar "menyembuhkan" satu sama lain.
Memang, sejak awal film ini bernuansa muram. Penampilan Spacey dengan muka memelas dan mata sayu mewakili kesan itu. Penonton disuguhi dialog-dialog psikologis yang "berat" di ruang konseling. Namun, karena topik perbincangannya lekat dengan kehidupan sehari-hari (hei, siapa sih yang tidak pernah stres?), kening penonton tak ikut mengernyit. Apalagi karena dialog cerdas dan jenaka bertaburan di sini. Sebagian besar sebenarnya sindiran akan kehidupan para bintang Hollywood yang gemerlap di luar tapi penuh borok di dalam. Bukan monopoli Hollywood saja sebenarnya.
Spacey-pemeran pembantu terbaik Academy Award: American Beauty (1999) dan The Usual Suspects (1995)-kembali menunjukkan kelasnya dalam Shrink. Ia tampil secemerlang saat menjadi suami yang ditindas istri dalam American Beauty, dan guru yang mengajari muridnya menebar kebaikan dalam Pay It Forward (2000). Lewat karakter Carter sang psikiater, Spacey sebetulnya tengah menampilkan ironi kehidupan para bintang.
Andari Karina Anom
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

