• Home
  • 31 Agustus 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 31 Agustus 2009

    Bergaya
    Menjadi Pelestari Budaya

    Malam yang hangat dan wangi di Ballroom Hotel Mulia Senayan, Jakarta. Rabu tiga pekan lalu, 13 perancang busana ternama Indonesia memamerkan rancangan mereka dalam acara peragaan busana bertajuk "Seribu Warna Kain Nusantara". Semua baju yang dipamerkan menggunakan bahan kain tradisional Indonesia. Ada tenun songket Jambi dan Riau, tenun ikat gringsing, batik Garut, juga batik Sidoarjo.

    Rumah Pesona Kain-lah yang punya gawe membawa kain-kain dari pelosok Indonesia ke hotel berbintang itu. Perkumpulan Rumah Pesona terdiri atas ibu-ibu wangi nan kinyis-kinyis. Mereka adalah istri pejabat tinggi atau pengusaha, yang punya semangat sama. "Kami tidak ingin kain tradisional Nusantara punah," kata sang ketua, Ratna Indira, 55 tahun, yang biasa disapa Ike Nirwan Bakrie. Gampang dipastikan, dia istri pengusaha Nirwan Bakrie.

    Upaya mengenalkan kain-kain tradisional itu terus berlanjut. Dalam "Gebyar Batik Nusantara" di Jakarta Convention Center, pengujung Agustus ini, Rumah Pesona turut memajang kain tradisional dalam stan yang berlokasi strategis di ruang Assembly 1. Kain-kain itu adalah karya perajin lokal yang dibina anggota perkumpulan atau kolega. Sebelumnya, aksi Rumah Pesona sudah terentang panjang sejak berdiri September 2005, dari peragaan busana, pameran, sampai seminar tentang kain tradisional.

    Mereka tidak tiba-tiba berkesadar an menjadi "pejuang" pelestarian aset budaya. Awalnya adalah kesamaan hobi. "Sama-sama penggemar kain," kata Ike. Dia dan beberapa temannya sering berburu kain tradisional yang indah dan unik atau sekadar bertukar info. Kain itu mulanya digunakan untuk keperluan pribadi, misalnya untuk busana pesta atau pakaian keluarga. "Kadang ke pameran, ditawari orang, atau mendatangi kolektor."

    Bincang hobi itu berlanjut dalam pertemuan seperti arisan, perayaan, atau saat hangout bersama. Akibat sering bertemu dan berbicara tentang hal yang sama, muncullah gagasan memiliki "mainan" yang sama: perkumpulan pelestari kain-kain tradisional. Akhirnya, sembilan ibu, Linda Agum Gumelar, Ike Nirwan Bakrie, Sri Redjeki Sulistio, Darwina Pontjo Sutowo, Ade Krisnaraga Syarfuan, Seminarti Gobel, Rahmi A.P. Tahir, Linda Herlinada, dan Yuni B. Adam, mendirikan Rumah Pesona Kain.

    Sejak itu, program pelestarian kain tradisional pun dihela. Mereka berke liling Indonesia memburu kain tradi sional. Para perajinnya dibina, diberi penyegaran produksi, serta mendapat fasilitas pemasaran. Aktivitas ini dirancang dalam pertemuan-pertemuan di sekretariat, di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, atau saat mereka sedang jalan-jalan bersama. "Rapat bisa di kafe-kafe," kata Ike. Kegiatan ini pun tidak mengganggu acara keluarga. "Kan, anak-anak sudah besar," katanya.

    Tak hanya jalan sendiri, mereka juga menggaet teman gaul lain. Eny Soekam to, 55 tahun, model Tanah Air papan atas pada 1970-an, misalnya, langsung mengangguk ketika diminta menjadi pembina perajin lokal kain Aceh. "Dari pada hanya jalan-jalan, makan-minum, arisan, ha-ha-he-he ha-ha-he-he. Perlu juga ada kegiatan yang positif," katanya

    Saat survei ke Aceh, Eny kaget mendapati kain songket dan tenun yang unik. Sejurus kemudian, dia masygul melihat kain-kain itu justru lebih dikenal orang luar. "Yang pesan orang Thailand dan Malaysia," katanya. Eny makin bersemangat mengumpulkan kain motif asli Aceh, membina perajinnya, sekaligus lebih mempromosikan karya mereka. "Kalau bukan kita, siapa yang melestarikan? Nanti lama-lama punah atau diambil orang luar," katanya.

    Bagaimanapun, aktivitas ibu-ibu seperti Ike atau Eny bermanfaat bagi orang lain, meski mulanya mereka hanya mengembangkan hobi atau ko leksi. Memang, saat kemapanan materi sudah tereguk, apa lagi yang dicari? Mengelola "mainan" semacam pelestarian kain itu pun tak akan mengganggu gerak langkah. Mereka tidak terkendala soal pendanaan bila ingin jalan-jalan hingga ke berbagai pelosok negeri. Para perempuan ini juga memiliki pendukung kuat. Dalam peragaan busana di Hotel Mulia Senayan itu, misalnya, logo beberapa perusahaan yang terpampang di undangan sudah menunjukkan kuatnya beking.

    Untung ada kecenderungan ibu-ibu mapan melakukan kegiatan berarti. Tentu tak terbatas pada pelestarian kain tradisional. "Sesuai dengan minat masing-masing," kata Ike. Dia mengaku bergelut di perkainan karena memang memiliki minat tinggi pada dunia itu. Beberapa kain tradisional langka, yang sudah berusia satu abad, misalnya, terkumpul dalam rak koleksinya.

    Menurut Ike, kecenderungan berkegiatan sampingan semacam itu muncul karena dorongan akan rasa kein dahan. Tentu ini tak lepas dari kemapanan yang memberikan ruang lebih besar untuk mewujudkan kepedulian di berbagai lahan. Ike dan teman-temannya dalam perkumpulan pelestari kain itu sudah melakukan kegiatan sosial sebelumnya di beberapa yayasan kesehatan.

    Tidak hanya ke kain tradisional, daya jangkau Eny juga mencapai pemberda yaan kelompok tari tradisional Banyumili. Itulah "ekstrakurikuler" lain yang dia kerjakan dalam setahun belakangan. Kelompok tari yang beranggotakan eks model seangkatan ini me ngusung lakon-lakon tari cerita legenda. "Saya memang sejak kecil senang do ngeng-dongeng rakyat yang mendidik," kata Eny.

    Di Banyumili ini, berkumpul para model seangkatan Eny seperti Nana Krit, Memes, Chitra Triadi, dan Andang Gunawan. Terakhir, kelompok ini mementaskan pergelaran sendratari Roro Djonggrang di Taman Sanken, Museum Nasional, April lalu. Banyumili melibatkan seniman dari Institut Seni Indonesia Surakarta dan kelompok Wa yang Orang Bharata, Jakarta. Kelompok tari para eks model ini bertekad melestarikan lakon-lakon legenda rakyat yang terancam dilupakan. "Kami tidak dibayar, malah ada yang keluar biaya," kata Eny.

    Dengan semangat yang sama, mantan peragawati Dhani Dahlan, 48 tahun, juga sibuk dengan Paguyuban Kusuma Budaya. Kelompok ini menggelar pentas-pentas sendratari klasik, seperti Sudhamala, Damarwulan Menak jinggo, dan Sindhuretno. Pementasan ini juga melibatkan seniman muda dan seniman lokal. Selain di dunia tari, Dhani tercatat aktif dalam lembaga pelestari kain Indonesia, Cita Tenun. Di sini, dia terjun ke pelosok-pelosok Badui, memberikan penyuluhan ke para perajin kain tradisional.

    Masih terkait dengan aktualisasi wanita-wanita mapan di dunia tari-tarian tradisional, ada juga Ratih Dardo Subroto, model seangkatan Eny. Istri mantan Menteri Pertambangan dan Energi Subroto ini memotori paguyub an wayang orang Kunti Nalibroto. Kelompok ini tercatat menggelar lebih dari tujuh kali pentas wayang orang putri di Jakarta.

    Jangan dilupakan juga nama Atilah Soeryadjaya, 47 tahun, yang memimpin Mitra Wayang Orang Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan istri peng usaha Edward Soeryadjaya itu, bersama lembaga dan jaringannya, menjaga agar kesenian tradisio nal yang kembang-kempis tetap hidup. Dia kerap mengajak para pesohor, pejabat, atau pengusaha turun main dalam pentas amal, yang dananya disumbangkan untuk mendukung pembiayaan kesenian tradisional.

    Saluran aktualisasi wanita-wanita papan atas itu tidak selamanya di dunia feminin, seperti kain atau tari. Sejak 2004, Miranda Swaray Goeltom, 60 tahun, bekas Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, aktif dalam gerakan konservasi bangunan tua di Jakarta. Dia adalah Ketua Umum Jakarta Old Town, perkumpulan pemerhati bangunan tua Jakarta. Di perkumpulan ini, tercatat aktif juga Shanti Lasmi ningsih Poesposoetjipto, 61 tahun, wanita pengusaha dari Samudera Indonesia Group.

    Ya, apa pun latar belakang mereka, apa pun kegiatannya, yang pasti para perempuan mapan itu sudah melakukan aktivitas bermanfaat. Yang semula hobi kini menjadi bagian dari jati diri.

    Harun Mahbub


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Tari

Meleburkan Okinawa dengan Jawa

Indonesiana

Buka Baju Karena Kecewa

Pesta Dangdut di Ruang Sidang

Buku

Bukan Sekadar Terjemahan

"Ada Pemimpin yang Tak Peduli Power"

Agama

Putu Lahir Jadi Pandita

Seni Rupa

Badut Sirkus Kontemporer

Wajah yang Menyapa dan Disapa

Album

PENGHARGAAN
Rifki Febriansyah, Aditya Ashar, Dyani Primasari

Catatan Pinggir

Modernitas

TEMPO|interaktif

Metro

Buru Penembak Satpam IPB, Polisi Bentuk Tim Khusus

Olahraga

Babak I, Inter Ungguli Indonesia Selection 2-1  

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Nasional

Siswa Nilai UN Tertinggi Begadang demi Barcelona  

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif